“Karena saya pernah kere…”

Feb 10, ’11 4:53 PM

Pengalaman hidup memberikan rasa bagi kehidupan. Setiap orang punya ceritanya sendiri-sendiri. Tidak ada yang bisa mengubah kenyataan masa lalu, tetapi selamanya, diri kitalah yang menentukan rasa dari masa lalu itu.
Terkait dengan kemiskinan, kita sudah sama-sama tahu bagaimana ia dapat memberikan tekanan luar biasa bagi mental sehingga sebagian orang yang mengalaminya menjalani sebagian kehidupannya di rumah sakit jiwa. Namun, di rumah sakit jiwa pula kita dapat mengetahui ada orang-orang yang hidupnya hari ini “tercerahkan” karena kehidupan miskin di masa lalu. Pengalaman hidup susah dan tak punya apa-apa menjadi sesuatu yang membanggakan karena pengalaman tersebut dilalui dengan kesabaran sehingga hari ini ada manusia mengagumkan di hadapan kita.
 
Orang dengan kisah nyata itu ada di hadapanku. Semula niat kami hanya ingin menanyakan soal gambaran umum rumah sakit jiwa sebagai sebuah instansi untuk melengkapi data di laporan magang, namun yang terjadi adalah pembicaraan panjang lebar tentang kehidupan si bapak. Si bapak adalah salah seorang pekerja sosial di rumah sakit jiwa. Beliau sudah bekerja di sana bertahun-tahun lamanya, sehingga sempat pula merasakan zaman susah ketika hidup tidak senyaman hari ini sementara pasien psikotik tetap sama saja parahnya. Beliau banyak bertugas di ruang rehabilitasi (sebuah ruang untuk terapi okupasi) dan terlihat akrab berinteraksi dengan para pasien.
 
Beliau hanya menceritakan sedikit pengalamannya, tetapi aku sudah cukup menangkap banyak hal. Ia berasal dari keluarga dengan latar belakang ekonomi kurang mampu. Sebelum bekerja sebagai pekerja sosial di rumah sakit, beliau pernah menjadi loper koran. Ketika membicarakan tentang hal tersebut, pikiranku melayang pada pasien yang menjadi subjek studi kasusku. Latar belakang boleh sama, tapi mengapa nasib bisa berbeda? Yang satu menjadi pasien, yang satu menjadi petugas sosial yang mengurusi para pasien. Keduanya pernah mengalami perasaan yang sama sebagai buah dari kemiskinan, rasa minder, malu, dan berbeda dari orang-orang yang lebih mampu. Tetapi, mengapa yang satu terpuruk dalam inferioritas sehingga menjadi pasien, sedangkan yang lain dapat mengaktualisasikan dirinya dan menjadi petugas berhati mulia.
 
Seketika itu pula pikiranku melayang ke sebuah buku yang tengah kubaca sebagai kegiatan sampingan magang, Healing The Shame That Blinds You karya John Bradshaw. Setiap orang punya kekurangan, salah satunya kekurangan harta. Orang yang menolak kenyataan bahwa mereka tidak punya banyak barang bagus akan mati-matian memusuhi kenyataan tersebut dan mencari-cari kebahagiaan dalam fantasi dan angan-angan. Mereka menutup mata pada kesempatan ditemukannya hikmah besar dari kehidupan yang sulit. Orang yang tidak menerima kenyataan, tidak mungkin bagi mereka melakukan aksi nyata untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
 
Nah, si bapak… beliau memberiku pelajaran bahwa kukurangan memang memberikan rasa malu. Tetapi, buat apa berkutat dengan rasa malu dan kekurangan yang mungkin tidak dapat diperbaiki dengan sekejap mata? Terimalah keadaan, bersyukur atas apa yang dimiliki dan bersabar atas apa yang belum dimiliki. Tetaplah berusaha menjadi orang baik karena dengan modal itu kita akan dipercaya untuk melakukan tugas-tugas yang baik dan menghasilkan kehidupan yang baik, menghargai hal-hal kecil, dan tidak mengeluhkannya.
 
Karena beliau pernah kere (miskin), empati beliau begitu besar bagi para pasien yang sebagian besar memang berasal dari keluarga miskin. Beliau pernah hidup susah sehingga tidak ada gunanya baginya ketika hidupnya mudah saat ini, ia menyulit-nyulitkan kepentingan orang lain. Beliau berkali-kali mengatakan bahwa dirinya bodoh karena berasal dari desa dan tidak tahu apa-apa, tetapi sesungguhnya ia tahu definisi “pandai” yang sebenarnya: Percuma pandai di kepala jika bodoh dalam menghadapi masalah dan realita yang ada di depan mata dan menyusahkan orang lain yang tidak ingin susah. 
 
Kupikir, seperti itulah merakyat yang sebenarnya. Tidak disangka-sangka, aku belajar makna merakyat di rumah sakit jiwa, dari orang yang bukan berkedudukan tinggi, sarjana tinggi, atau kaya raya… Merakyat itu mudah dilakukan, apa pun kondisi kita hari ini. Pada intinya, kebaikan hati itu benar-benar urusan hati. 
 
Bolehlah kita mengalami apa saja yang buruk-buruk, miskin yang semiskin-miskinnya, tetapi sakit jiwa benar-benar disebabkan oleh hati yang miskin, yang tidak mampu menangkap hikmah. Ada lebih banyak orang yang hidup susah bukan disebabkan oleh apa yang mereka tidak punya, tetapi karena punya banyak hal. Mereka potensial untuk menjadi calon pasien selanjutnya. Jika psikotik adalah gangguan yang terberat, maka ada banyak gangguan jiwa ringan yang seharusnya juga kita kenal.
 
Ya Allah, sehatkan hati dan kuatkan mental kami…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s