Kedigdayaan dalam Heike Monogatari

Lonceng kuil menggemakan betapa mudahnya segala sesuatu berubah.
Warna-warni bunga menegaskan kenyataan bahwa apa pun yang berkembang dan indah akan membusuk di kemudian hari.
Kebanggaan hanya sejenak bertahan, bagaikan mimpi di musim semi.
Dalam waktu singkat, kedigdayaan akan surut, dan segalanya akan menjadi debu yang tertiup angin.
 
(Eiji Yoshikawa, Heike Monogatari)
 
Cerita ini hanya membuatku terisak-isak dalam hati. Tega sekali penulisnya membuat cerita dengan ending yang semenggantung itu… Sudah dua jam lebih sejak aku membaca halaman terakhirnya dan masih saja terasa kecewanya. Teman-teman pecinta Mr. Yoshikawa, berhati-hatilah dengan karyanya yang satu ini.
***
Secara garis besar, “Heike Monogatari” atau The Heike Story adalah cerita yang menarik. Ia mengisahkan sejarah Jepang berabad-abad yang lalu. Kemampuan Eiji Yoshikawa sang novelis-lah yang berhasil mengubah catatan-catatan sejarah menjadi sebuah fiksi historis dengan berbagai tokoh dan karakternya masing-masing.
Ada bagian dari cerita yang membuatku membandingkannya dengan “Taiko”. Pertama, terkait dengan peran Heike Kiyomori si tokoh utama yang sedikit demi sedikit menancapkan kukunya sebagai salah satu dari orang-orang berpengaruh di Jepang pada masanya. Kedua, keberhasilan Kiyomori tidak terlepas dari kemampuannya sebagai manusia yang “spesial” dengan kelebihan dan kekurangannya. Ketiga, diangkatnya isu samurai yang membuat cerita ini punya sisi heroiknya.
Tetapi, ada beberapa kekurangannya. Menurutku:
Pertama, alur cerita sedikit kacau dan terlalu cepat. Ada kesan penulis seperti hendak memuat seluruh pemandangan hanya dalam satu bingkai foto. Ada bagian dari cerita yang terlalu bertele-tele, menceritakan hal-hal yang tak penting. Ada bagian dari cerita yang kedalamannya kurang tergali sehingga pembaca tidak merasa puas membaca “Heike Monogatari” sebagai sebuah epik historis.
Sebagai contoh:
Kiprah pertama Kiyomori yang tercatat di cerita adalah ketika ia berhasil menghalau para biksu prajurit dari Gunung Hiei yang hendak menyerbu istana kekaisaran. Kiyomori mengalahkan ratusan biksu prajurit tersebut dengan taktik memanah altar suci yang dihormati sebagai benda suci yang dibawa-bawa para biksu untuk menakut-nakuti para pejabat istana dan samurai. Di situ muncul sebuah heroisme yang menurutku bagus dan kubayangkan cerita selanjutnya adalah heroisme-heroisme semacam itu. Ternyata, hal bagus hanya muncul saat itu saja. Pada kronologi selanjutnya, tidak ada heroisme yang sebanding dalam hal taktik dan keberanian.
Ketika membaca, buku itu seakan-akan hanya berkata, “Habis ini, ini. Habis itu, itu,” seiring perjalanan tahun dan pergantian kejadian tidak berjalan dengan halus. Tetapi anehnya “seiring perjalanan tahun” tersebut juga tidak secara setia dijadikan bagian novel. Inilah yang membuat cerita seperti melompat-lompat, tidak ada gambaran siapa yang menjadi tua dan siapa yang masih muda.
Kedua, muncul tokoh-tokoh tak penting yang sepertinya “memperkeruh” jalannya cerita. Selain itu, beberapa tokoh penting yang ada sejak malah tidak jelas bagaimana akhir kehidupan mereka seiring dengan perjalanan hidup Kiyomori.
Sebagai contoh:
Mokunosuke adalah pengikut setia klan Heike. Ia menyertai Tadamori, ayah Kiyomori, sejak Tadamori masih menjadi tangan kanan mantan kaisar Shirakawa (orang yang dicurigai adalah ayah kandung Kiyomori yang sebenarnya). Mokunosuke mengetahui rahasia-rahasia dalam keluarga Heike dan terus setia dalam kemiskinan dan kejayaan tuannya, bahkan ikut dalam beberapa pertempuran. Namun, peran Mokunosuke seperti dihapus di tengah jalan. Pada akhirnya, diceritakan ia menjadi sosok tua yang bungkuk, tetapi tidak diceritakan apa perannya selanjutnya bagi Kiyomori dan setidaknya, kapan dan bagaimana  ia menghembuskan napas terakhirnya.
Selain itu, muncul tokoh-tokoh yang kesan kemunculannya hanya untuk menyambung-nyambungkan antarkejadian, seperti: biksu Mongaku dan Saigyo. Keduanya benar-benar “si penceramah” dalam novel, bagaikan tokoh yang berfungsi menyuarakan moralitas. Mereka seakan mengetahui “rahasia langit” layaknya orang suci yang mendapatkan ilham, tetapi digambarkan sebagai biksu yang menyedihkan.
Tokoh lainnya adalah pasangan suami-istri Yomogi dan Asatori, geisha Giwo (Asuka), Hidung Merah (Bamboku), dan beberapa tokoh baru yang muncul untuk “menemani” penerus Genji, Ushiwaka,  yang mulai menancapkan kukunya untuk membalas dendam bagi Heike. Lalu, peran-peran anak dan kerabat Kiyomori tidak secara jelas dieksplorasi dan dibuang di tengah jelan cerita.
Ketiga, cerita ini sangat jelas menceritakan tentang intrik-intrik di sekitar kursi kekuasaan. Betapa orang menggulingkan dan mengangkat kaisar baru, berebut posisi menjadi orang-orang terdekat kaisar, dan sebagainya. Kentara sekali ada kecurangan yang terjadi. Wah, hal ini sungguh menarik, terutama ketika mengetahui bahwa Kiyomori untuk sampai pada jabatan tertingginya, ia benar-benar melakukannya dengan kekuatannya sendiri. Sayangnya, perjuangan ini tidak dijelaskan dengan pasti agar kita pembaca dapat merasakan suntikan kebanggaaan pada tokoh protagonis kita. Di akhir, cerita malah “melenceng” pada sisi jelek Kiyomori yang main mata dengan Tokiwa si janda Genji Yoshitomo dan geisha Giwo. Mungkin di zaman itu, wajar saja terjadi… tetapi penceritaannya tidak berimbang dengan hikmah sebuah epik.
Keempat, pencapaian-pencapaian Kiyomori tidak secara pasti diceritakan. Inilah lompatan-lompatan mengesalkan yang membuat pembaca kebingungan dari mana awal peran Kiyomori mencapai akhirnya. Tidak jelas bagaimana cerita Kiyomori dari yang hanya pemuda miskin menjadi samurai, lalu menduduki jabatan di istana, dan sampai pada posisi terpandangnya. Ia menjadi apa di akhir tidak diceritakan… Apakah ia berhasil mendirikan pelabuhan impiannya di Owada? Bagaimanakah nasib klan Heike selanjutnya dengan dia sebagai kepala keluarganya? Bagaimana nasib kekaisaran ketika cucunya, Antoku, menjadi kaisar? Pencapaian terbesar Kiyomori sayangnya tidak diceritakan bahkan sampai wafatnta tidak diceritakan.
Kelima, aku bingung memutuskan novel ini berjudul “Heike Monogatari” atau “Genji Monogatari” karena kedua klan yang berseteru ini diceritakan secara berimbang bahkan di lima bab akhir, novel malah bercerita tentang Genji yang berada di gerbang kebangkitannya ketika Ushiwaka melarikan diri dari pengasingannya. Di mana Kiyomori dan Heike-nya? Tiba-tiba saja… tamat tanpa kesimpulan apa yang terjadi dengan “Heike Monogatari”.
Yang membuat miris adalah jika cerita diteruskan, maka fakta sebenarnya yang harus diceritakan adalah  tentang kejatuhan Heike beberapa tahun kemudian. Menurut sejarah, Genji Ushiwaka yang melarikan diri berhasil menghimpun kekuatan dan mengusir klan Heike dari Kyoto. Heike yang sempat menguasai pemerintahan dan memutuskan kekuasaan bangsawan Fujiwara yang selama ini menguasai kekaisaran disebut gagal karena tidak mampu membentuk suatu sistem perundangan dan pemerintahan yang kuat. Namun, klan Genji yang berada di atas angin setelah kematian Kiyomori dan kejatuhan Heike juga akhirnya menemui nasib yang sama karena konflik internal klan…
 

Demikianlah nasib orang-orang yang berebut kekuasaan dan kekayaan serta mendambakan posisi-posisi panas di kursi pemerintahan. Kisah tragis mereka diabadikan dalam novel ini, dan di episode mana pun… Tidak seorangpun menjadi tokoh utama dalam perang melawan nafsu ingin berkuasa dan keserakahan karena semua orang dalan cerita sesungguhnya sedang melawan diri mereka sendiri.
***
Berbagai kekecewaanku tentang “Heike Monogatari” akhirnya mereda sekarang. Kubaca bagian penutup buku dan ketahuilah bahwa novel Eiji Yoshikawa yang mulai ditulisnya pada tahun 1951 ini ternyata belum rampung. Baru dua pertiga novel yang berhasil dibukukan. Beberapa bagian dari cerita, sub-plot dan tokoh-tokoh pembantu dihilangkan. Maka, sebutlah yang selesai kita baca ini adalah bukan versi aslinya, bukan kisahnya yang utuh.
 
Nah, di akhir, tidak lupa aku melampirkan the best quotations from “Heike Monogatari”. Selamat menikmati😀
 
“… seseorang yang tidak bisa mencintai kehidupannya sendiri tidak akan bisa mencintai umat manusia…” Saigyo (h. 145)
 
“… Apa yang membuatmu berpikir bahwa arena hukuman mati bukanlah medan perang?” Tokitada (h. 283)
 
“Perang akan terus terjadi hingga manusia belajar untuk menghilangkan keserakahan dan kecurigaan dari hati mereka.” Mongaku (h. 317)
 
“Ketahuilah, … manusia adalah makhluk yang paling menyusahkan… manusia bisa menjadi dewa ataupun iblis secara bergantian, bahwa manusia adalah makhluk berbahaya yang tak henti-hentinya terjepit di antara kebaikan dan kejahatan…” Mongaku (h. 317)
 
“… kekuasaan adalah racun yang lebih mematikan. Daya tarik kekuasaan bagi manusia merupakan sebuah misteri. Siapa pun yang pernah mengecap tampuk kekuasaan tidak akan bisa menghindar dari menciptakan sengketa atau membiarkan dirinya hanyut di dalamnya…” Mongaku (h. 318)
 
“Setiap detik begitu berharga, dan kita harus beristirahat dan tidur, atau kita akan kesulitan menghadapi hari esok.” Kiyomori (h. 378)
 
… Apa pun keraguan yang dimilikinya tentang para prajuritnya lenyap sudah. (h. 384)
“… Siapa pun yang menyombongkan diri sebelum perang dimulai biasanya menjadi orang pertama kehilangan kepala saat berhadapan dengan musuh.” Kiyomori (h. 385)
“…  Semua ini berkat ayahku, yang seumur hidupnya telah menebarkan benih kebaikan,” Kiyomori menangis bersyukur. (h.386)
“Ya, dia tahu rasanya kelaparan. Dia tahu.” Seorang gelandangan, tentang Kiyomori. “Dia mungkin berpenampilan seperti tuan besar, tapi ia adalah salah satu dari kita, yakinlah tentang hal ini.”  (h. 420)
“… Biarkanlah masa depan menentukan jalannya sendiri…” Panglima dari klan Genji. (h. 422)
“Lupakanlah rencana tololmu untuk membalas dendam. Kau tidak bisa mengubah dunia ini hanya dengan membunuh seorang manusia. …
… Kemenangan dan kekalahan hanyut bersama dalam arus deras kehidupan. Kemenangan adalah awal dari kekalahan, dan siapakah yang bisa beristirahat dengan tenang di tengah kemenangan? Tidak ada yang tetap di dunia ini. Kau akan mendapati bahwa nasib butukmu sekalipun akan berubah. …” Mongaku, kepada ketiga pengikut Genji. (h. 509)
“… Namaku adalah aibku.” Mongaku (h. 510)
Itulah inti masalahnya. Ada terlampau banyak omong kosong yang terjadi. Perenungan Kiyomori di bawah langit bertabur bintang. (h. 667)
“Kita sendirilah yang bisa menentukan jalan hidup yang tidak akan menimbulkan konflik atau menciptakan neraka dunia…” Asatori, kepada Ushiwaka. (h. 710)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s