Ketika Al Quran Jadi Buku Wajib Baca

Original post: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/102/Ketika-Al-Quran-Menjadi-Buku-Wajib-Baca…

Aug 28, ’10 11:38 PM

Hampir setahun menulis, baru kali ini aku mengangkat topik tentang Al Quran. Berhubung saat ini bulan Ramadhan, ingin sekali aku menulis tentang Al Quran, “Buku Wajib Baca”, yang semakin wajib untuk dibaca.
 
Ada fenomena menarik yang terjadi di bulan Ramadhan, terkait aktivitas membaca Al Quran. Orang-orang menjadi ingin sekali khatam (menamatkan) Al Quran dalam sebulan. Tidak hanya sekali tamat, ada orang yang menaikkan target mereka menjadi dua, tiga, atau berkali-kali tamat. Bagaimana dengan teman-teman? Jujur kujawab, aku tidak dapat begitu. Terakhir kali aku bisa tamat satu kali adalah Ramadhan lima tahun yang lalu. 
 
Aku tahu ada sisi positif dari menargetkan berapa kali tamat Al Quran selama bulan Ramadhan. Pertama, kau akan mendapatkan pahala berlipat-lipat ganda dari menamatkan Al Quran. Kedua, kau sudah membuat harapan untuk benar-benar menjadikan Ramadhan sebagai bulan peningkatan amal ibadah. Ketiga, kau punya pilihan aktivitas yang sangat jelas bermanfaat ketika kau memiliki waktu luang di bulan Ramadhan ini (daripada tidur). Keempat, kau mendapatkan banyak pelajaran berharga, dan semoga petunjuk Allah dari Al Quran yang kau baca. Nah, manfaat ini sangat menyenangkan.
 
Tetapi… tidak dapat dipungkiri bahwa ada sebagian orang yang tidak dapat memetik hikmah dari perintah membaca Al Quran dan memperbanyak amalan di bulan Ramadhan. Siapakah mereka? Mereka adalah orang-orang yang hanya memandang Al Quran sebagai target ibadah, tetapi melupakan inti dari membaca Al Quran. Merekalah yang membuat membaca Al Quran menjadi suatu aktivitas yang sulit, penuh stres, dan rasa bersalah karena menjadikan membaca Al Quran sebagai target kuantitas semata. 
 
Ada orang yang ingin beberapa kali tamat sehingga memangkas waktu bagi kesempatan berbuat baik  lainnya, seperti bekerja, refreshing bersama keluarga, memperhatikan sesama, bergaul dengan teman, dan lebih memilih memencilkan diri untuk membaca Al Quran.
 
Ada orang yang langsung menilai diri mereka buruk dalam menjalani Ramadhan karena tidak dapat mencapai target. Mereka merasa amalan mereka tidak begitu bagus karena ibadah Ramadhan mereka tercemari berbagai kesibukan sehingga kesempatan ibadah menjadi berkurang.
 
Ada orang yang menjadikan Ramadhan sebagai bulan kompensasi bagi kekecewaan ibadah di masa lalu. Mereka berusaha keras untuk menjadi saleh, di awal Ramadhan. Tetapi, kelelahan beribadah rupanya membuat semangat mereka kendur sehingga akhirnya pencapaian ibadah di akhir Ramadhan menjadi turun… dan berbuah kekecewaan selanjutnya yang membuat mereka semakin tidak semangat beribadah di bulan-bulan selanjutnya.
 
Nah, apakah suatu ibadah membaca Al Quran wajar berakhir seperti ini? Memang baik ketika kita menjadikan Al Quran sebagai buku wajib baca selama bulan Ramadhan, tetapi sebaiknya kita juga tidak menjadikannya sebagai sebab kekecewaan diri kita lantaran kita salah dalam membuat target. Jadi, ada beberapa hal yang sebaiknya kita pikirkan bersama:
 
Persiapkan ibadah membaca Al Quran baik-baik, bukan memaksa diri ini mencapai target fantastis, tetapi tidak realistis. Pertimbangkan kesibukan kita pada Ramadhan kali ini karena kesibukan, seperti bekerja dan kuliah, menjadi salah satu sebab berkurangnya kesepatan beribadah. Kenali kesibukan kita sehingga kita dapat membuat target baca Al Quran yang wajar.
 
Memandang positif aktivitas ibadah yang lain. Jangan frustrasi karena tidak dapat mencapai target yang sudah dibuat secara wajar. Selama kita sadar kita tidak dengan sengaja membuang-buang waktu dan tidak melakukan hal-hal yang tidak berguna, pandanglah aktivitas lainnya, seperti menulis artikel di blog, membaca buku kuliah, bekerja, tidur, jalan-jalan menikmati alam, bermain bersama adik atau keponakan, sebagai sama-sama bernilai ibadah kepada Allah.
 
Ibadah untuk mendapatkan pahala dan jalani dengan penuh keikhlasan. Artinya, membaca Al Quran bukan dalam rangka mendapatkan pujian, “Wah, bisa tamat Al Quran!” atau agar dipandang sebagai orang baik oleh orang lain. Nah, ini cukup untuk mengontrol agar ibadah kita tidak lebay.
 
Kendalikan rasa kecewa jangan sampai ia malah menggembosi semangat membaca Al Quran. Sebagian dari kita akan merasa kecewa karena performa ibadah kita yang buruk selama Ramadhan. Mungkin, buruknya performa ibadah tidak sengaja kita lakukan… Janganlah berputus asa dari Rahmat Allah… Allah Mengetahui niat baik kita ingin beribadah secara total, tetapi tidak tercapai. Teruslah beribadah membaca Al Quran, sekalipun sedikit, tetapi rutin. Itu lebih baik daripada semangat di awal tapi melempem di belakang.
 
Jangan cuma menargetkan baca Al Quran secara kuantitas, tetapi juga kualitas. Tidak semua orang kepikiran untuk juga membaca terjemahan Al Quran di samping membaca Al Quran, kan? Mungkin kita bisa sedikit memperbaiki target membaca Al Quran kita? Tambahi target memahami terjemahan Al Quran… Insya Allah, ada banyak pengetahuan dan kesadaran diri baru dari Al Quran yang kita baca dan kaji.
 
Ketika Al Quran menjadi buku wajib baca, jadikan pula ia sebagai buku wajib paham dan sumber ketenangan jiwa… Bukan sumber stres, ya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s