Let Me Be Brave

Original post: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/111/Let-Me-Be-Brave

Hadiah dari kerja keras sepanjang pagi membersihkan rumah… Dari halaman depan sebuah koran lama, aku mendapatkan sebuah kalimat indah yang membuatku semakin yakin arti penting sebuah perjuangan untuk mencapai sesuatu. Kalimat ini adalah janji atlet Special Olympic. Kita semua akrab dengan olimpeade yang diikuti orang-orang normal, tetapi bagi mereka yang punya kekurangan fisik… Mereka juga punya kompetisi mereka sendiri. Seandainya kita mempertandingkan orang-orang cacat dengan yang normal, kita tahu mereka yang cacat, mungkin, tidak mungkin menang. Tetapi, apa kemudian janji yang mereka ucapkan pada diri mereka?
LET ME BE WIN! BUT IF I CANNOT WIN, LET BE BE BRAVE IN THE ATTEMPT!
 
Jadi, topik kita hari ini adalah tentang menjadi berani. Selamat membaca ^^
***
Aku pernah merasakan saat-saat di mana aku sungguh menyadari bahwa keberanian lebih penting daripada pencapaian. Saat itu, aku tengah mengikuti seleksi mawapres universitas. Dihadapkan pada teman-teman yang lebih jago… sungguh kecut hati ini! Di detik-detik terakhir pengumuman siapa yang mendapatkan kesempatan menyandang nama mawapres, aku berhasil menenangkan diri dan menulis sebuah puisi. Puisi itu sempat kutulis di posting-an sebelumnya yang berjudul “Salatiga, 30 April – 1 Mei 2010”. Benar-benar hari itu aku sangat menghargai keberanian yang membuatku meneguhkan diri mengambil keputusan untuk mengikuti kompetisi dan menyelesaikannya sampai akhir.
Aku juga teringat tentang posting-an sebelumnya, juga tentang keberanian. “Keberanian itu bukan berarti tanpa rasa takut, tetapi ia muncul ketika kau menyadari ada yang lebih penting daripada rasa takut itu.” Aku jadi belajar untuk memiliki hal-hal yang lebih penting dalam hidupku. Ketika aku ingin mencapainya, sungguh, keberanianku untuk berani menghadapinyalah yang akan menentukan bagaimana aku melangkah, apakah yakin atau ragu-ragu.
Kemudian, aku jadi berpikir, darimanakah keberanian itu datang? Darimanakah perasaan “everything is OK” itu datang? Apakah yang membuatku akan lebih yakin daripada yang sudah-sudah? Jika jawaban kita semua tentang pertanyaan itu adalah karena kebaikan dan kebenaran, baik bagi diri sendiri maupun orang lain, yang hendak kita perjuangkan… betapa indahnya, itulah rahmat Allah bagi orang-orang yang yakin pada-Nya.
Tuhan… aku berharap,
atas nikmat yang Kau Berikan, 
aku bersyukur.
Kupandang bintang yang gemerlap,
aku bertanya, di manakah jalan?
aku berdebar… lebur,
dalam mimpi aku terkejap
oleh keinginan yang indah, bukan lamunan:
Panahku sudah lepas dari busur.
Panah kehidupan kita semua sebaiknya sudah lepas dari busurnya… Sebentar lagi kita akan tahu apa yang akhirnya terjadi.
***
Banyak sekali persoalan dalam hidup yang membuat kita merasa gentar. Sebagai contoh, mahasiswa dapat merasa runyam ketika tugas akhirnya dihadang permasalahan berat. Seorang organisatoris dapat merasa super sedih ketika dihadapkan pada ketidaklancaran persiapan suatu acara. Seorang siswa dapat merasa gagal karena mendapat nilai jelek. Tetapi, apakah makna kegagalan atau perasaan gagal jika itu tidak membuat kita belajar?
Sebagian orang merasa gagal disebabkan oleh ketidakberaniannya menghadapi syarat untuk sukses: usaha dan pengorbanan yang menyertainya.
Sebagai penutup…
Pada suatu perjalanan dengan bis pada malam hari… Protes karena tarif bis melebihi biasanya membuatku bertanya pada kondekturnya, apa benar harganya segitu. Tidak lama, kami malah berkenalan dan bercerita banyak hal. Seperti, bahwa ia ternyata mengenal salah seorang dosenku, sampai-sampai topik tentang suka duka hidup juga terbawa.
 
Ia mengapresiasiku sebagai seorang mahasiswa, tetapi ujung-ujungnya ia malah bertanya apakah aku punya pekerjaan untuk dia atau tidak. Selidik punya selidik, rupanya ia tidak puas dengan pekerjaannya yang sekarang, sebagai kondektur bis. Tentu saja, pekerjaan ini membuatnya jauh dari keluarga, begadang hampir setiap malam, dan hasilnya pun sangat minim.
 
Aku bertanya, pekerjaan seperti apakah yang ia inginkan? Katanya, ia cocok menjadi pedagang atau mungkin juga peternak.
 
Aku bertanya lagi, apakah profesi itu  sudah pernah dilakukan sebelumnya. Bapak itu sudah memperhitungkan hampir segalanya, tetapi kemudian jawabannya ia belum pernah merealisasikan keinginannya itu.
 
Mengapa? Jawabnya, takut rugi.
 
Bukankah usaha itu pasti ada konsekuensinya? Ya. Namun, tetap jawabannya, takut…
 
***
Ya Allah, jadikanlah aku orang yang berani untuk memperjuangkan apa yang benar dan baik untuk kuperjuangkan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s