Living Up Your Metacognition

Original post: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/158/To-Live-Up-Metacognition

 

Tidak benar orang yang mengatakan “banyak belajar banyak lupa”. Bagiku, ungkapan itu hanyalah rasionalisasi, guyonan, dan upaya permakluman atas ketidakmampuan untuk mendapatkan pengetahuan dengan cara yang lebih baik. Yang pasti benar adalah “banyak belajar banyak tahu” dan banyak mempelajari diri akan membuat kita semakin tahu dan kenal kapasitas diri kita sebagai manusia.
Psikologi Al Ghazali mengungkapkan sesuatu hal yang menarik. Salah satu kalimat bijaknya yang menjadi favoritku adalah: “Terdapat empat golongan manusia: Manusia yang tahu bahwa dirinya tidak tahu, manusia yang tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu, manusia yang tahu bahwa dirinya tahu, dan manusia yang tidak tahu bahwa dirinya tahu.”
Terdapat satu konstruk psikologis yang membuatku langsung terhubung dengan kalimat di atas: Metakognisi. Ketika mempejalarinya dua tahun yang lalu di perkuliahan, ingin sekali aku dapat segera menuliskannya. Sempat terlupa sedemikian lama dan aku bersyukur skripsi yang sedang kukerjakan membuatku kembali mempelajari konsep ini. Nah, hari ini ada yang ingin kubagi untuk teman-teman semua.
***
Memang tidak begitu penting teori tentang metakognisi ini bagi sebagian orang, tetapi akan sangat menarik bagi orang yang setiap saatnya berkutat dengan manajemen diri. Metakognisi adalah bagian dari akal yang membuat manusia mampu mengenali dengan baik kapasitas dirinya dan keadaan lingkungan di sekitarnya. Inilah kesadaran diri manusia atas fungsi akalnya sendiri sehingga ia dapat memutuskan apakah dirinya tahu atau tidak tahu tentang apakah dirinya termasuk orang yang tahu atau tidak tahu.
 
Seperti apakah orang yang kemampuan metakognitifnya baik? Itulah yang dikatakan Al Ghazali: Ia tahu bahwa dirinya tahu atau tidak tahu. Namun demikian, deklarasi tersebut tidak menghitamputihkan beragam manusia. Terdapat lebih banyak manusia abu-abu yang mampu mengembangkan metakognisinya dengan lebih baik lagi dengan banyak-banyak bertanya pada diri, “Apakah aku benar-benar tahu/ mampu tentang hal ini?” 
 
Apa saja isi metakognisi? Terdapat tiga hal, tetapi kebanyakan orang hanya memperhatikan yang dua dan mengabaikan yang ketiga. 
 
Metakognisi meliputi pengetahuan tentang “apa” (declarative knowledge). Kita tahu nama benda-benda di bumi, tahu fungsi dan kegunaannya. Kita memahami suatu konsep teoretik dan praktis, kita tahu tujuan, dan berbagai strategi untuk mencapainya. Kita tahu Tuhan, nabi, dan nilai-nilai agama kita, namun lebih itu untuk benar-benar hidup kita masih membutuhkan pengetahuan tentang hal berikutnya, yaitu “how” (procedural knowledge).
 
Mengetahui bagaimana cara menggunakan suatu pengetahuan adalah hal yang krusial. Percuma jika kita tahu “itu sepeda” tanpa tahu “cara mengendarai sepeda”; kita tahu “itu teori bagus”, tetapi tidak tahu strategi untuk mempraktikkannya; atau kita tahu itu hukum, agama, moral, dan etika, tetapi tidak mampu mengaplikasikannya karena tidak tahu caranya atau tahu caranya tetapi salah. Menyia-nyiakan pengetahuan tentang prosedur atau cara-cara hidup hanya akan membuat hidup ini penuh konflik, ketidakteraturan, dan pelanggaran.
 
Apakah cukup dengan tahu “apa” dan “bagaimana”? Tidak. Ada yang ketiga, yang paling sering diabaikan orang: mengetahui “when”, “where” dan “why”. Inilah self-regulatory knowledge yang membuat kita mengetahui kondisi lingkungan dan konteks ketika kita berusaha menerapkan apa yang kita tahu dan cara-caranya. Inilah yang memastikan kita ide-ide dan cara-cara kita untuk mewujudkan ide tersebut tidak berbenturan dengan realita, untuk mempu mengontrol diri untuk terus maju atau memutuskan berhenti, dan untuk memahami bahwa di luar diri kita yang tahu apa dan bagaimana juga ada orang-orang, situasi, dan kondisi, yang mungkin tidak memahami apa dan bagaimana yang kita pahami.
 
Sesungguhnya, konsep di atas telah dijelaskan dalam agama kita, Islam. Siapa yang tidak tahu bahwa Allah menganugrahkan kita akal, perasaan, dan nurani untuk mampu baik-baik mengenali diri, mengetahui apa yang belum diketahui dan harus dicari, memperhatikan keberadaan orang lain, dan tidak mengabaikan lingkungan. Demikianlah Allah memerintahkan kita untuk “iqra'”  (membaca), tidak hanya bacaan-bacaan agama, tetapi juga bacaan ilmu pengetahuan, membaca alam semesta baik alam fisik maupun sosial.
 
Apakah sekadar membaca dan tahu sudah cukup? Tidak. Allah menginginkan kita sebagai khalifah di bumi untuk mampu menciptakan keharmonisan, keteraturan, dan keadilan. Maka dari itu ada hukum Allah yang menengahi kita semua dan perlu diterapkan dengan memperhatikan konteksnya agar kita tidak berbuat sewenang-wenang atas dasar pemahaman pribadi kita tentang apa dan bagaimana, sekalipun pemahaman tersebut tidak salah.
 
Sebagai penutup, kemampuan metakognisi adalah kemampuan yang terus berkembang sepanjang kita mau dan mampu membuka diri dari pemikiran yang sempit, yang merasa tahu bahwa diri tahu, padahal tidak tahu. Orang yang demikian adalah sumber malapetaka, terutama jika ada kekuasaan, wewenang, atau otoritas di tangannya. Itulah mengapa kita dilarang memilih pemimpin atau sahabat dekat yang pandir, yang enggan belajar, yang tidak mau mengakui bahwa dirinya bodoh sehingga tidak mau belajar atau menerima kebenaran baru yang ia belum tahu.
 
Subhanallah, Allah yang Menciptakan manusia… Ayolah, kita banyak bertanya pada diri, “Apakah saya sudah benar-benar tahu atau tenggelam dalam ketidaktahuan?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s