Memahami vs Menilai

Original post: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/156/Memahami-VS-Menilai

Nov 7, ’10 9:05 PM

Tema ini sempat terpetieskan tiga bulan lamanya. Waktu itu, aku ingin menulis karena sedikit terbakar emosi lantaran seorang temanku dengan mudah sekali menilai temanku yang lain, “Dia kok…” tanpa memahami dahulu keadaan temanku yang lain itu.
Aku ingin sekali menjelaskan bahwa lebih baik memahami dahulu sebelum menilai macam-macam. Tetapi, permainan waktu tiga bulan penundaan ini ada gunanya karena aku menjadi berpikir bahwa ambisiku untuk mejelaskan duduk perkara “memahami vs menilai” waktu itu ternyata menunjukkan bahwa aku juga belum mampu memahami dan masih mudah sekali menilai.  Now, I get the point!
***
Jika disuruh memilih antara dipahami dan dinilai, mana yang lebih kamu suka? Kebanyakan orang, sepertinya, lebih suka dipahami daripada dinilai. Tapi, kenapa? Jika dipikir-pikir, sungguh sulit menjelaskan apa definisi dari “memahami/ dipahami” dan “menilai/ dinilai”. Untuk mengawali, mari kita lihat apa kata Kamus Besar Bahasa Indonesia untuk kedua kata tersebut.
Paham: (v) mengerti/ tahu benar akan sesuatu
Memahami: (v) mengerti benar, memaklumi, mengetahui
Nilai: (n) harga (dalam taksiran harga), banyak sedikitnya, mutu
Menilai: (v) memperkirakan atau menentukan nilai
Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan “memahami” dan “menilai”. Keduanya sama-sama merupakan aktivitas kognitif yang sama-sama tidak terhindarkan dan dapat otomatis terjadi. Keduanya juga sama-sama baiknya. Dengan “memahami”, pengetahuan kita menjadi lebih sekadar “tahu” sehingga dapat menerima kenyataan sebagai bagian dari permakluman. Dengan “menilai”, pemahaman kita dapat menjadi lebih bermanfaat untuk suatu perbaikan pada objek yang kita nilai. Mudahnya, “memahami” dekat pada penghargaan kita pada objektifitas, sedangkan “menilai” adalah ekspresi subjektifitas kita.
Ada yang salah jika ada sebagian orang yang berpikiran, “Saya tidak butuh penilaian. Saya hanya ingin dipahami.” Yang demikian juga merupakan isu yang santer pada masa remaja kita semua, betapa kita meminta agar dipahami oleh orang lain, bukan dicecar dengan beragam penilaian. Apa yang sesungguhnya kita inginkan dari permintaan ini? Kalau kupikir, rasa aman adalah jawabannya.
Pembicaraan mengenai “mutu/ diri” adalah isu yang sensitif. Mungkin cukup tak bermasalah jika itu terkait dengan kelebihan-kelebihan yang kita miliki. Tetapi, jika itu terkait dengan kekurangan kita sebagai manusia? Siapa yang tidak nangis-nangis karena berbagai kritikan, “Kamu kok…”, padahal ada ada banyak jawaban untuk pertanyaan orang atas mengapa kita bisa begini.
 
Analoginya, bayangkan saja di toko barang antik, ada sebuah guci yang retak. “Kok guci ini retak?” tanya kita yang memberi penilaian. Tiba-tiba, mendekatlah si pelayan toko dan menjelaskan, “Mas/Mbak, guci ini adalah guci dari zaman Dinasti Ming, ditemukan terkubur di Laut Jawa. Usianya sudah ratusan tahun dan banyak mengalami kejadian-kejadian yang sebenarnya berpotensi membuatnya pecah sehingga tidak mungkin terpajang di toko ini selama-lamanya.” Setelah mendengarkan penjelasan itu, mudahlah bagi kita untuk berkata, O… begitu, ya? Guci bersejarah… Antik sekali. Bagus, ya, ukirannya. Saya mau beli harga sekian miliar!”
Nah, itu dia gambarannya. Bukan penilaian yang sesungguhnya dihindari orang-orang yang “retak” maupun yang baik-baik saja, melainkan penilaian yang terburu-buru sehingga mengabaikan “ada banyak informasi” untuk memperbaiki penilaian agar menjadi penilaian yang tepat. Penilaian adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh kita semua, tetapi yang paling kita butuhkan adalah penilaian yang tepat, yang memperbaiki tanpa menghancurkan/ menjatuhkan. Darimanakah asal penilaian yang tepat? Penilaian yang tepat berasal dari pemahaman yang tepat, sehingga kita mengerti benar duduk permasalahannya, mengetahui baik-baik liku-likunya, dan memaklumi secara proporsional, “O… begitu ceritanya mengapa bisa…”.
***
Tahukah kalian apa yang membuat sebagian orang yang belajar psikologi begitu berbeda ketika menghadapi manusia dan segala permasalahannya? Itu karena ia mengedepankan pemahaman yang baik sebelum melakukan penilaian baik maupun buruk. Hal ini penting sekali terutama ketika ia melakukan konseling untuk menyelesaikan permasalahan yang dialami orang lain.
Pemahaman yang baik itu macam apa? Inilah yang sering menjadi pertanyaan, tetapi bagiku jawabannya simpel: pemahaman yang tidak tercemari atau tenggelam penilaian yang bodoh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s