Menolong Itu (Memang) Menyenangkan

Original post: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/103/Menolong-Itu-Memang-Menyenangkan

Tidak salah jika salah satu slogan untuk menggiatkan zakat di negeri ini adalah “menolong itu menyenangkan”. Pada dasarnya, aktivitas menolong itu memang menyenangkan. Perasaan senang karena aktivitas positif ini tidak saja hanya melanda si penolong, tetapi juga yang menerima pertolongan. Akhirnya, kesimpulan kita adalah ditolong itu juga menyenangkan.
Mengapa aktivitas menolong itu membuahkan rasa senang atau bahagia? Mungkin ini rahasia langit. Entah mengapa, Allah punya cara agar manusia memelihara rasa peduli, memupuk jiwa sosial, dan saling mengasihi satu sama lain. Dari penderitaan kita semua belajar bahwa menderita itu tidak enak, makanya kita berusaha keluar dari penderitaan ini. Dari kebahagiaan kita juga belajar bahwa semua orang, juga diri kita, sama-sama ingin mencapainya. Banyak hal dalam hidup ini yang kita semua sama-sama mencapainya. Jadi, mengapa tidak kita mengusahakannya secara bersama-sama lewat program hidup “saling tolong-menolong”? Rasanya dunia akan menjadi semakin mudah dengan cara begini.
 
Tetapi, kalimat indah biasanya ada “tapi”-nya… Mengapa, mengapa, dan mengapa? Karena menolong ternyata tidak mudah, paling tidak, tidak semudah ditolong. Memberi tidak pernah sama dengan menerima. Orang yang memberi pasti memiliki sesuatu yang “lebih” dan dapat mengisi ruang kosong yang dimiliki orang yang menerima. Dan, untuk memiliki sesuatu yang “lebih”, tidak semua orang mampu mengusahakannya. Adalah normal bagi orang yang benar-benar berlebih untuk menjadi penolong. Tetapi bagi orang-orang yang pas-pasan atau kekurangan, perbuatan memberi adalah suatu pengorbanan “besar”.
 
Bagi orang yang lebih harta, lebih tenaga, dan lebih ide… mampu menolong adalah suatu nikmat jika diiringi dengan niat dan semangat beramal saleh. Namun, ada orang yang meskipun harta, tenaga, dan idenya lebih, karena niat dan semangatnya tidak ada… perbuatan menolong layaknya menjadi penderitaan. Menolong bukan lagi menjadi aktivitas memberi, tetapi aktivitas diambilnya apa yang dimiliki. 
Jika menolong menjadi aktivitas yang penuh keterpaksaan begini… apa jadinya perasaan orang yang ditolong? Banyak orang yang mampu menolong untuk memenuhi kekurangan harta, tenaga, dan ide bagi orang lain, tetapi sedikit sekali orang yang mampu mengisi kehidupan orang lain dengan perasaan bahagia, bebas dari kesedihan. Bahkan ada orang yang malah menjadi sedih karena ditolong karena penolongnya… mengungkit-ungkit pemberian, memberi dengan wajah masam, memberi dengan diiringi kata-kata yang tidak sedap, memberi barang-barang yang kurang baik… yang itu semua disebabkan tidak adanya niat baik dan semangat untuk beramal.
Pada akhirnya, menolong itu akan benar-benar dan memang menyenangkan hanya kalau hati kita senang, bukan? Apakah pemberian kita besar, kecil, atau mungkin tak berharga bagi si penerima, menolong akan sangat menyenangkan kalau hati kita tergerak oleh semangat beramal dengan ikhlas. Ini PR bagi kita semua… menanamkan kesukaan beramal, semangat, jiwa sosial, kepedulian, dan keikhlasan bagi sesama manusia untuk mau saling tolong-menolong. Dan ini, sulit dan tantangannya… tidak main-main.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s