Mimpi Besar dengan Langkah-Langkah Jatuh

Kita semua diyakinkan untuk bermimpi besar. Betul? Betul. Mimpi besar cermin jiwa yang besar, cikal bakal masa depan gemilang. Namun… semua itu barulah sebuah “cikal bakal”, yang salah satu artinya adalah belum tentu menjadi sesuatu yang bakal terjadi. Dan… ada banyak hal yang dapat membuat mimpi besar tidak pernah terwujud. Celaka, bukan?
Mimpi bisa jadi adalah awal kecelakaan bagi sebagian orang. Mimpi yang merupakan angan-angan itu, bisa jadi merupakan sesuatu yang ada di tempat yang sangat tinggi dan jauh di sana. Tangan manusia tidak sampai… ia melompat, tetapi tidak terbang. Jika ia ingin menuju ke sana, ia harus membangun perancah yang mendukungnya naik ke atas. Dan, perancah itu pasti dimulai dari bawah, dari yang paling dekat dengan diri. Apa yang paling dekat dengan diri kita? Diri kita sendiri.
Apa hubungan semua ini dengan langkah-langkah yang kita buat untuk mencapai mimpi? Jika kita bicara tentang langkah, maka macam langkah ada dua, yaitu langkah yang membawa kita naik ke atas dan langkah yang membuat kita turun ke bawah. Saat ini, mari kita fokuskan pada langkah yang kedua karena inilah masalah yang niscaya kita hadapi ketika kita ingin mencapai sesuatu. Kodrat manusia adalah tak selamanya ia sukses. Maka dari itu, perhatikan “langkah-langkah jatuh” yang dapat kita lakukan.
Mengapa kita bisa jatuh? Salahkan saja dua hal, yaitu tempat di mana kita melangkah dan alat yang kita pakai untuk melangkah.
Perhatikan tempat di mana kita berada dan kita akan sadar bahwa kita berurusan dengan apa yang dinamakan kenyataan. Kita tidak terbang di udara tanpa sayap atau mesin terbang. Kita tidak  menyelam tanpa pelampung atau tanpa sirip ikan dan insangnya. Maka dari itu, ciptakan mimpi, keinginan, harapan, target, atau tujuan yang akur dengan kenyataan diri kita, baik berupa kelebihan maupun kelemahan.
Kita tidak dapat meraup banyak hal sepanjang tangan kita hanya ada dua. Jika kita hanya punya dua tangan, maka tetapkanlah cita-cita yang dapat dicapai dengan dua tangan itu. Namun, dikarenakan kita sebagai manusia terus berkembang, maka apa yang kita cita-citakan juga pasti akan berkembang. Mengiringkan besarnya cita-cita dengan kesabaran berkembang adalah sesuatu yang perlu kita lakukan. Mungkin, inilah yang sering dilewatkan sebagian orang yang bernasib jatuh. Terlalu asyik bermimpi sampai lupa mengembangkan diri untuk menghadapi kenyataan.
Bagaimana dengan alat yang kita gunakan untuk melangkah? Tanyakan itu pada perencanaan yang kita, sudah atau belum, buat. Kaki kita tidak bergerak tanpa perintah. Bagaimana bisa kita pergi ke rumah jika kepala tidak memikirkan wujud rumah yang ingin kita datangi? Sebagian orang bermimpi besar jatuh karena kakinya bingung dalam melangkah. Bisa jadi ia tidak tahu harus melangkah di tempat dan pada waktu yang mana. Bisa jadi ia tidak tahu kapan harus melangkah cepat, lambat, atau berhenti. Dan untuk tahu, kembalikan pada diri sendiri. Tanyakan, seberapa awas diri kita dalam mencermati keadaan. Apakah kita akan menerjang tembok dan masuk ke jurang? Apakah kita harus berhenti sementara kereta api lewat?
Selanjutnya, jika kita tidak punya kaki, bukankah kita akan mencari kursi roda atau gendongan? Inilah masalah bagi orang yang terlalu tenggelam dalam dirinya sendiri: enggan meminta dukungan dari orang lain dan dari apa saja yang dapat membantu. Terpaku pada rencana sendiri tidak selamanya baik. Temukan lubang dan cari penambal, sering adalah yang lebih baik. Jika penambalnya ada dan dimiliki orang atau sumber lain, mengapa tidak meminta bantuan? Temukan cacat dalam rencana. Identifikasi apa yang tidak kita miliki. Dapatkan itu  dari apa yang dimiliki orang lain.
Sebagai penutup… Ada banyak orang yang bermimpi dan jatuh. Di antara mereka ada yang jatuh kemudian tertimpa reruntuhan istana mimpinya dan tak bangkit lagi dan ada pula yang jatuh, tetapi tetap tegap di kaki mereka. Dari mana asal kekuatan untuk tetap berdiri tegak? Akan ada saat di mana keberuntungan meninggalkan kita, rencana tak terlaksana, lingkungan ideal tak junjung hadir, dan penolong entah ada di mana… Itulah saat di mana kita sendirian dan hanya ditemani oleh mimpi besar kita. Akan ada pertanyaan, bagaimana selanjutnya, dan kita tahu, menyerah bukanlah solusi, berhenti dari yakin bukanlah jalan keluar.
Selama mimpi kita adalah mimpi yang disukai Tuhan, kita akan dijadikan-Nya seorang ksatria. Cerita akan bergulir… dan suatu saat hidup kita akan menjadi legenda. Sekalipun legenda itu akan dilupakan orang… tetap saja, itu belang dalam hidup harimau kita.
People who put continue to put their lives on the line to defend their faith, become heroes, and will continue to exist on in legend…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s