Misteri Sehat dan Sempat

“Ada dua nikmat di mana banyak manusia tertipu di dalamnya:
kesehatan dan kesempatan.”
H. R. Bukhari
 
***
Aku, sama seperti kebanyakan dari kalian semua punya masalah besar. Itu dia, terkait tidak menyukuri nikmat sehat dan sempat dengan baik. Aku mendedikasikan tulisan ini untuk teman-teman semua yang tengah berkutat untuk menjadi sosok yang lebih bersyukur dalam hidupnya atas nikmat sehat dan sempat yang Allah berikan untuk kita.
 
Mengapa sehat dan sempat menjadi dua hal yang sangat penting dalam hidup kita? Menurutku, jawabannya adalah karena dua hal tersebut sangat mempengaruhi bagaimana kita dapat beraktivitas sebagai manusia. Apa jadinya kalau kita sakit? Apa jadinya kalau kita tidak sempat? Bukankah, tindakan yang kita cita-citakan untuk bisa kita lakukan menjadi tidak dapat dilakukan? Lebih dari itu, pada kenyataannya, nikmat sehat dan sakit adalah dua hal yang tidak selalu ada dalam hidup kita. Ada kalanya kita memang ditimpakan ujian berupa sakit, ada kalanya pula kita diberi berbagai macam kesibukan sehingga tidak sempat dalam melakukan hal lain yang kita inginkan.
 
Ada pelajaran berharga tentang cara bersyukur. Aku mendapatkannya ketika mengikuti seminar dalam rangka Temu Ilmiah Nasional Psikologi Islami tahun 2009 lalu. Allah Maha Memberikan nikmat dan karenanyalah kita wajib bersyukur. Bersyukur bagi kita tampak sederhana, tetapi sesungguhnya perilaku demikian adalah amalan yang sungguh berat untuk dilaksanakan.
 
Pertama, kita akan sulit bahkan tidak bersyukur, kecuali kita tahu dan sadar siapakah yang memberikan nikmat, yaitu Allah. Inilah yang membedakan, ada orang yang biasa berucap hamdalah, ada yang tidak dan hanya kenal kesenangan.
 
Kedua, syukur itu tidak cukup hanya diungkapkan secara lisan, tetapi juga perbuatan, terutama terhadap sesuatu yang dinikmatkan itu. 1) Menggunakan nikmat tersebut untuk beramal mulia, 2) Memelihara nikmat tersebut, dan 3) Tidak merusak nikmat tersebut. Dengan berbuat yang demikian, insya Allah, Allah akan senantiasa menganugrahkan kita nikmat tersebut.
 
Tapi, kebanyakan kita lalai, bukan? Itulah yang membuat kita sakit dan hidup berantakan karena “tidak ada waktu”, padahal di tangan kitalah hidup ini kita tentukan arah dan nasibnya. Banyak fenomena dan hasil penelitian yang mendukung ketetapan Allah tentang nikmat sehat dan sempat  ini. 
 
Misalnya, semua penyakit kronis yang diderita bapak-ibu kita di seluruh dunia sebagian besar diawali dengan adanya gaya hidup yang tidak sehat sejak masa muda mereka. Mereka melanggar aturan untuk mengkonsumsi yang halal dan baik, serta tidak berlebih-lebihan. Pernah aku mengobrol dengan temanku yang ketagihan rokok. Kutanya, “Kok tetap merokok, padahal tahu kalau rokok adalah sumber penyakit?” Jawabnya, “Semua orang pasti mati, cuma caranya saja beda-beda… Rokok itu tidak apa-apa, bahkan yang baik kalau berlebihan juga sumber penyakit.” Kalau kupikir, memang kita mau menghabiskan sisa umur dengan sakit, ketimbang sehat? Nah, saat ini belum terasa, tetapi nanti pasti kejadian.
 
Contoh yang lain terkait sempat dan tidak sempat. Ini dia nasib mahasiswa prokrastinator, si penunda pekerjaan yang ulung. Dia bingung skala prioritasnya, artinya tidak tahu mana yang terbaik bagi dirinya dan mendahulukan hal-hal sepele. Di akhir tugasnya menumpuk sehingga stress sekali menyelesaikan berbagai tugas kuliah atau organisasi yang diikutinya. Hasilnya, tidak sempat tidur, tidak sempat makan, tidak sempat mandi, tidak sempat ibadah… Wah, sangat menjatuhkan semangat hidup! Hidup tanpa perencanaan memang hancur, bukan? Tetapi, ada saja yang berkata, “Hidup itu mengalir… nikmati saja. Aku memang orangnya begini, kok…” Ya, sana, mengalirlah menuju lembah penuh stres. Alamat manusia punya akal untuk berpikir dan merencanakan tindakan yang tepat, kenapa tidak digunakan sebaik-baiknya?
 
Dari contoh di atas, yuk kita ambil pelajaran bahwa menyedihkan hidup orang yang tidak sadar betapa penting masa depan untuk kita terawang dan antisipasi. Ada lebih banyak hal yang bisa kita rencanakan daripada hal-hal yang datangnya mendadak dan tidak terantisipasi. Tetapi, keteledoran kita dalam memahami masa depan membuat hal-hal yang sebenarnya dapat disetir dari masa sekarang menjadi sesuatu yang tidak terduga di masa depan dan itu menimbulkan penyesalan. Masalah tiba-tiba sakit atau tiba-tiba ketiban tugas tambahan adalah perkara ringan. Bagaimana jika tiba-tiba mati, nyawa kita melayang, sementara kita ada adal kondisi sedang menghambur-hamburkan kesehatan dan kesempatan?
 
Dengan ini, aku mengajak teman-teman untuk hidup cermat dan tepat, tidak hanya untuk hal yang kecil dan ada di saat ini, tetapi juga hal yang besar dan ada jauh di masa depan sana. Memang masa depan penuh misteri, tetapi kuncinya satu: yang terbaik yang kita lakukan saat ini menentukan hasil terbaik di masa depan nanti. Pekalah, bahwa sehat dan sempat adalah barang yang sangat mahal…
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s