“Muhammad, A Biography of the Prophet” Karen Armstrong

Saran untuk membaca biografi Muhammad karya penulis Barat membuatku membaca buku ini untuk yang kedua kalinya. Benar, judulnya “Muhammad, A Biography of the Prophet, karya Karen Armstrong. Buku ini telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul “Muhammad, Sang Nabi” dan terbit pada tahun 2001 lalu. Kesimpulanku, buku ini sebaiknya teman-teman baca sebagai pengetahuan baru yang menyeimbangkan pengetahuan yang selama ini kita miliki tentang Nabi Muhammad.
Muhammad adalah nama pertama yang kita kenal sejak kita lahir lewat azan yang diperdengarkan di telinga kita. Tidak disangkal, diri dan kehidupannya mempengaruhi diri dan hidup kita semua. Nabi kita adalah sekaligus teladan utama kita. Apa yang kita lihat adalah dirinya sebagai manusia terbaik sepanjang masa dan itu benar. 
 
Namun demikian, ada kelompok umat lain yang tidak berpikiran sama dengan kita. Pandangan mereka tentang Muhammad dan Islam adalah kebalikan dari apa yang kita yakini dan beberapa sangat negatif sampai-sampai membuat telinga panas. Karena hal tersebut, konflik antaragama menjadi sangat wajar terjadi yang berbuntut pada semakin banyaknya orang yang menderita karena permusuhan.
 
Inilah fakta kehidupan beragama saat ini. Jika ada kemajuan di mana orang-orang mulai membuka mata mereka dan mewujudkan toleransi, maka hal tersebut adalah hasil dari sejumlah kecil orang yang mempersembahkan dirinya untuk kebenaran yang objektif, suatu perbuatan yang sangat sulit untuk dilakukan. Bagaimana kita, sebagai orang beragama, bisa menulis tentang agama kita tanpa dipengaruhi oleh subjektifitas kita terkait agama yang dianut? Kecintaan kita pada apa yang kita yakini membuat kita ingin melindungi keyakinan tersebut, tidak rela jika ada bukti-bukti yang menunjukkan fakta lain, dan takut jika ada orang-orang yang ingin tahu dan kritis. Pada akhirnya, semua masalah tersebut benar-benar menguji harga diri kita. Itulah mengapa, sulit sekali berkata hitam untuk hitam dan putih untuk putih.
 
Karen Armstrong adalah satu orang dari minoritas dunia yang berusaha menjembatani konflik antaragama dengan upayanya mendalami agama-agama besar dunia. Sebagai bagian dari penduduk Barat dan non-Islam, sikap dan pemikirannya tentang Islam tentu mengundang tanda tanya besar, mengapa ia begitu “pro”, sehingga mengundang beberapa kecaman (salah satunya mengatakan bahwa kampanyenya ngawur). Di sisi umat Islam sendiri, karyanya bisa dikatakan cukup memuaskan, hanya saja “luput mengakui Muhammad sebagai nabi dan membawa agama yang lurus”. 
Nah, kekecewaan apa itu? Kekecewaan itu muncul karena tidak terpenuhinya harapan. Orang Islam berharap Muhammad dan Islam diakui kebenarannya bagi seluruh penduduk dunia. Sebaliknya, orang non-Islam, terutama Kristen, berharap Muhammad dan Islam diakui sebagai yang tidak benar. Kebanyakan karya tentang Islam-Kristen berkutat pada polarisasi di atas sehingga perbandingkan positif yang kita harapkan menjadi jembatan bagi terciptanya kerukunan, menjadi terabaikan. Polarisasi itu membuat kita tidak dapat memahami bagaimana perasaan umat Kristen dan Islam ketika keduanya saling membaca karya-karya terpolarisasi tersebut.
Satu hal yang membuat karya Armstrong berbeda adalah kemampuannya untuk memunculkan perbandingan yang logis dan membangun jembatan untuk suatu pemahaman baru. Pengetahuannya tentang agama-agama Ibrahim sangat mengagumkan sehingga tidak heran ia dapat menulis buku dengan cara yang bijaksana. Inilah yang seharusnya menjadi kepuasan bagi kita dan patut disyukuri.
Selain itu, ia dapat dengan baik menghubungkan antara konteks (Arab masa itu), Al Quran, kehidupan nabi, Yahudi, Kristen, dan masa kini. Masalah-masalah yang mengundang “pergunjingan dunia”, seperti pernikahan, peperangan, dan satanic verses, dapat dijelaskannya dengan argumentasi yang mencerahkan. Dalam menjelaskan semua itu, ia menarik akar argumentasinya dari sejarah perkembangan manusia dan agama dari masa ke masa, terutama peradaban pada masa-masa itu. Hal tersebut, bahkan, membuat kita mendapatkan jawaban atas pertanyaan mengapa Yahudi dan Kristen sulit akur dengan Islam.
Akhirnya, dapat kusimpulkan bahwa: Hidup Nabi begitu manusiawi, maka mengapa kita malah menjadi pasukan pembawa genderang perang lantaran kebodohan kita, dengan bicara yang tidak perlu? Yang dibutuhkan warga dunia bukanlah titel nabi bagi Muhammad, melainkan ajaran kebenaran dan kebaikan yang ia bawa selama hidupnya, yang mencerminkan kenabiannya. Mau tidak mau, kita harus menyajikan jawaban berupa kehidupan Qurani-nya dan bukan debat kusir “Muhammad itu nabi. Titik.” Mau tidak mau, jika kita ingin turut ambil bagian dalam kampanye ini, maka kita harus bersedia menghidupkan Nabi dalam kehidupan kita dengan meneladani kebenaran dan kebaikannya. Mau tidak mau, kita harus ber-Islam.
Sudah capek, kan, sering kali kita mendengar Islam dipojok-pojokkan terus? Memang benar, jawabannya adalah: yang salah bukan Islam, tetapi orang-orang yang mengaku Islam, tetapi hidupnya tidak Islami. Maka dari itu, mari kita belajar secara lebih baik lagi tentang agama kita sendiri. Belajar dan terus belajar, semoga kita tahu bahwa yang terpenting bukanlah apa yang tampak, melainkan apa yang ada di balik yang tampak itu, baik berupa maksud, tujuan, sebab, penjelasan, maupun hikmah apa yang dibawanya.
***
Siapakah Karen Armstrong?
Karen Armstrong lahir di Inggris pada 14 November 1944. Ia adalah seorang penulis yang banyak berkarya di bidang perbandingan agama. Di masa remajanya (tahun 1962 – 1969), ia menjadi seorang biarawati dan belajar banyak tentang agama monoteistik, salah satunya Islam. Disebabkan oleh kemajuannya dalam menjadi biarawati, ia dikirim untuk belajar di St Anne’s College, Universitas Oxford untuk belajar tentang sastra dan sejarah Inggris. Ia meninggalkan profesi biarawatinya pada waktu studinya. Ia melanjutkan sekolah sampai program doktoral. Namun, karena tesisnya ditolak dan kondisi kesehatannya yang buruk, ia meninggalkan akademik tanpa menyelesaikan studinya.
 
Pada tahun 1976, Armstrong menjadi guru bahasa Inggris di sekolah putri. Karena penyakitnya menyebabkan ia sering absen, ia diminta untuk berhenti mengajar pada tahun 1982. Pada tahun ini, ia menerbitkan buku pertamanya Through the Narrow Gate yang menggambarkan kehidupan yang dibatasi dan sempit yang dialaminya di biara. 
 
Pada tahun 1984, Armstrong diminta oleh British Channel Four untuk menulis dan menyajikan tayangan dokumenter tentang kehidupan St. Paul. Ia kemudian tinggal di Jerussalem yang ternyata memberinya banyak pengalaman berharga dan menantang asumsi-asumsi lamanya. Selanjutnya, ia menulis beberapa buku, termasuk di dalamnya The First ChristianTongues of FireThe Gospel According to Woman, Holy War and Muhammad. 
 
Pada tahun 1993, ia mempublikasikan karya pentingnya tentang tiga agama monoteistik yang berjudul The History of God: From Abraham to the Present. Suksesnya atas buku tersebut dilanjutkan dengan munculnya Muhammad: a Biography of the Prophet pada tahun 1996.
 
Pada tahun 1996, Armstrong mempublikasikan Jerusalem: One City, Three Faiths. Meningkatnya ketertarikan dan debat seputar Islam membuat Armstrong menjadi pembicara yang populer karena ia menyampaikan pandangan yang lebih objektif tentang Islam kepada publik Barat (Eropa dan Amerika). 
 
Sejak peristika 9/11, Armstrong berperan dalam misi di AS dan Amerika Selatan untuk mengajarkan Islam. Baginya, hal tersebut adalah tugas yang tidak mudah karena semakin berkembangnya stigma di masyarakat dunia bahwa Islam adalah agama kekerasan. Namun, yang terjadi pula adalah meningkatnya keingintahuan masyarakat tentang Islam. Dalam kampanyenya, ia banyak mengajak masyarakat Barat untuk bertanya dan menguji kembali gagasan negatif mereka tentang Islam.
Bagi Armstrong:  “I say that religion isn’t about believing things. It’s about what you do. It’s ethical alchemy. It’s about behaving in a way that changes you, that gives you intimations of holiness and sacredness.” (Saya katakan bahwa agama bukanlah tentang menyakini banyak hal, melainkan tentang apa yang Anda lakukan… tentang berperilaku dalam jalan yang mengubah Anda, yang memberi Anda kedekatan pada hal-hal yang suci dan sakral.)
 
Dia juga menunjukkan bahwa fundamentalisme agama tidak hanya merupakan respon terhadap budaya kontemporer,tetapi, secara paradoks, sebuah produk dari budaya tersebut. “Kita perlu menciptakan sebuah narasi yang baru, keluar dari kejar-kejaran kebencian, chauvinisme dan sikap defensif; dan membuat suara otentik dari agama, sebuah kekuatan dunia yang kondusif bagi perdamaian”
 
***
Ada artikel bagus yang dapat teman-teman baca. Butuh usaha untuk memahaminya karena artikel tersebut ditulis dalam bahasa Inggris.
Ya Allah, semoga perdamaian dunia dapat terwujud suatu hari nanti.

One thought on ““Muhammad, A Biography of the Prophet” Karen Armstrong

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s