Nodame Cantabile

Original post: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/83/Topic-of-The-Week-Nodame-Cantabile-Its-About-Dream

Berita buruk minggu ini adalah, mungkin, aku tidak akan membaca komik online lagi. Berita duka… tetapi sebelum semuanya selesai, aku berhasil menamatkan “Nodame Cantabile”. Tepat, sebelum pukul 11:59 PM hari ini. Haha… aku puas.
Pertama kali kutahu Nodame bukan dari komiknya, tetapi live action-nya. Bagus filmnya, sangat menarik. Temanku bilang, ada komiknya. Bisa dikatakan dia mengumpulkannya, hanya saja di Indonesia belum lengkap. Ketika kutanya bagaimana ceritanya, dia bilang bagus. Yeah, setelah membacanya, aku juga menyimpulkan hal yang sama. Tidak hanya ceritanya yang bagus, isi ceritanya pun sangat… mengharukan, mengandung pelajaran berharga… begitulah.
***
Membaca Nodame cantabile… ini kisah tentang orang-orang yang berusaha mencapai cita-cita mereka di bidang musik. Ada Shinichi Chiaki yang ingin menjadi konduktor dan Nodame yang ingin menjadi guru TK (sekalipun ia sangat berbakat di bidang musik).
Bagaimanakah perjalanan orang-orang yang berusaha mencapai keinginan mereka? Ada kalimat menarik di salah satu bagian komik (aku tidak tahu halamannya):
“Famous musician were remembered in history because they meet important people. It wasn’t only their talent. I want to be one of those important people, too.”
Kalimat ini, jika tidak pas bagi semua orang, paling tidak menyadarkanku secara pribadi bahwa manusia memang tidak bisa berdiri sendiri. Manusia itu bersayap satu. Untuk bisa terbang, ia butuh sayap dari manusia yang lain. Cita-cita itu bukan milik kita seorang, bukan hanya berurusan dengan bakat dan kemampuan pribadi yang lain. Ada orang lain yang begitu penting dalam hidup kita. Entah, apakah perannya hanya sebagai pendukung finansial atau emosional, atau sebagai pengirim ucapan “SEMANGAT!!!” harian yang tak kenal lelah, atau sebagai “tempat sampah” berbagai curahan hati kita… orang itu adalah orang yang penting dalam hidup kita.
 
Orang(-orang) yang seperti itu… adakah dalam kehidupan kita? Atau jika pertanyaannya di balik apakah diri kita adalah orang yang seperti itu bagi kehidupan orang lain? Haha… pertanyaan besar yang membutuhkan penilaian diri yang benar-benar baik tentang kedudukan diri kita di hadapan orang-orang di sekitar kita. Kita jadi perlu menilai ulang makna orang-orang di sekitar kita terhadap hidup kita, bukan? Sering, saat ini kita tidak mengenal betapa pentingnya orang itu dalam hidup kita… tetapi di masa depan nanti, akan jelas mana teman baik, mana teman yang menjerumuskan.
 
Bagiku yang baru saja selesai membaca Nodame Cantabile, Chiaki dan Nodame seperti itu. Sama-sama bersedia menempatkan diri sebagai orang yang penting bagi satu sama lain. Aku belajar dari hubungan pertemanan yang selama ini kita semua lakukan. Ada kalanya, temanlah yang matanya lebih jeli dalam memandang kesalahan dan kekurangan yang perlu diperbaiki dalam diri kita. Di situlah muncul jalan yang semakin mudah dilalui dalam mencapai cita-cita: kita belajar melihat dengan kacamata yang berbeda, kacamata teman baik kita yang menyadari hal-hal yang kita lewatkan. Mereka mengingatkan kita atau menarik diri kita ke jalan yang seharusnya kita tempuh.
 
Rasanya, teman terbaik adalah mereka yang tahu apa keinginan hidup kita dan berusaha mendorong kita untuk mencapainya. Ya, itu teman terbaik. Kalau kita lemah, ia menguatkan. Kalau kita salah, ia mengingatkan…
 
***
Ketika mengejar mimpi, tampaknya benar ada harga yang harus kita bayar. Tidak hanya masalah materi, tetapi juga yang menyangkut emosi dan mental kita untuk menghadapi tantangan dan ketakutan-ketakutan.
Ada hal yang lucu dalam Nodame Cantabile. Chiaki tidak berani ke Eropa karena dia fobia pada pesawat dan laut. Tidak ada yang membuatnya terpenjara kecuali penjara mentalnya sendiri. Tidak menjadi katak dalam tempurung dan berani menghadapi tantangan baru. Aku jadi ingat apa yang dikatakan sang ayah kepada Mia Thermopholis dalam film Princes Diary:
“Berani itu bukan berarti tanpa rasa takut, tetapi tahu bahwa ada yang lebih penting daripada rasa takut itu.”
Begitulah dalam mencapai cita-cita. Ada banyak rasa takut. Semakin tinggi cita-cita kita, semakin banyak hal yang akan membuat kita takut. Ada banyak situasi yang membingungkan, orang-orang yang mungkin menentang, dan berbagai keterbatasan yang mungkin membuat kita puas dengan memiliki cita-cita sederhana. Rasa takut yang kita miliki… bukan kewajiban atau hak untuk menghilangkannya dari muka bumi. Benar, rasa takut itulah ujiannya, tetapi tidak berarti ia dapat ditaklukan. Salah satu cara mujarab mengatasi rasa takut yang berhasil kusimpulkan adalah berpikir tentang “ada yang lebih penting daripada rasa takut itu”. Yang lebih penting itulah yang membuat kita memprioritaskan pencapaian dan mengesampingkan keluh-kesah serta hal remeh-temeh lainnya.
***
 

The sounds can change depending on the weather,
A small tiny thing sometimes changes the whole thing.
No matter how rough it is,
Even though there are lonesome fights ahead… enough to make me faint almost,
There is happiness in this.
That is why I never stop trying.
Jika cita-cita itu jelas berat dalam dicapai, apa yang membuat kita memelihara langkah?
“There is happiness in this”. Terus mengejar hal yang positif yang ada sekalipun ia dikelilingi oleh hal-hal negatif. Berpikir positif dan hikmah tentang apa yang akan didapat melalui suatu pencapaian. Bersemangatlah!
***
Demikianlah beberapa pelajaran tentang persahabatan dan cara melepaskan diri dari jeratan yang membelenggu tindakan kita. Aku tidak ingin menjadikan tulisan ini review Nodame Cantabile. Cerita utuhnya dapat dilihat  dalam bentuk buku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s