Novel “Berpikir”

Apa yang kalian suka dari sebuah novel? Ceritanya. Tentu. Apa yang kalian cari dari sebuah novel? Hiburan. Tentu. Namun, apa yang akhirnya kalian dapatkan dari membacanya? Rasa senang? Pengetahuan? Mungkin… Atau kalian malah melempar novel tersebut ke dinding saking kecewanya pada jalan cerita😀.
Kita bisa mendapatkan banyak hal dari apa saja yang kita baca. Namun, jelas hukumnya, jenis bacaan mempengaruhi apa yang kita ketahui dan akhirnya menjadi pengetahuan yang bermanfaat. Dari novel, kita tidak hanya menikmati cerita. Kita bisa mengenal sebuah kota, kebudayaan, dan peradaban dari tempat yang jauh. Kita mengenal gaya hidup masyarakat yang tidak pernah kita bertemu dengan mereka dan bidang-bidang ilmu dan profesi yang tidak pernah kita tekuni. Kita mengetahui banyak sekali kemungkinan jalan hidup manusia. Ada manusia idealis, pragmatis, baik, jahat, kuat, lemah… Semuanya teringkas dalam sebuah novel.
Ada banyak strategi yang dimiliki orang untuk memilih novel yang akan dibeli. Kasus khusus “aku”, aku punya kriteria tersendiri, yaitu: mutu. Dari mana aku bisa tahu mutu suatu novel?
1. Apakah novel tersebut mendapatkan penghargaan bergensi semacam Pulitzer, Nobel Award, atau penghargaan lainnya? Nah, itu kuambil.
2. Apakah novel tersebut ditulis oleh penulis yang jelas sepak terjang dan idealismenya? Nah, itu kuambil. Dari penulis yang seperti ini, yang kudapatkan tidak hanya cerita, tetapi juga pelajaran hidup.
3. Karena pikiranku sudah berkembang, aku sudah tahan membaca karya-karya sastra. Maka, aku tidak lagi membeli Teenlit, novel-novel romantis, dan novel anak-anak. Aku akan menguji diri dengan karya para sastrawan. Itu dia!
4. Yang (lebih) murah dan (lebih) tebal! Kau tahu, uang sakuku tidak segudang, makanya aku pilih-pilih bacaan. Hoho… toko buku bekas, aku datang!
Jogja, pada liburan Idul Fitri tahun lalu, aku dan keluara ke Taman Pintar (Gramedia sudah tidak lagi jadi alternatif sejak harga-harga buku di sana semakin tak terjangkau). Uang, ada. Aku dan adikku berkeliling dari kios satu ke kios lainnya berburu buku apa saja yang kami suka. Akhirnya, kami membeli dua novel karya John Grisham seharga @Rp10.000,oo saja. Tidak salah! Buku ini masuk kriteria mutu. Murah, tebal, penulis jelas, penghargaan jelas, dan memberikan pengetahuan.
John Grisham adalah penulis novel hukum dan aku sangat tertarik pada praktik hukum. Gambaran ceritanya sudah jelas di kepalaku, hasil dari menonton berbagai film Hollywood tentang seorang pengacara atau kasus hukum yang pengadilan dan penumpasan kejahatan berlangsung seru. Kita tahu, perjuangan melawan kejahatan dan dunia gelap itu sangat luas. Polisi punya tugasnya, super hero punya tugasnya. Seorang pengacara juga punya tugasnnya. Perjuangan yang sulit, tetapi akhir di mana yang baik akhirnya menang juga memberikan perasaan menang bagi pembaca.
Dari membaca buku tersebut, cakrawalaku terbuka sedikit lebih besar dan aku bertanya: Apa manfaatnya bagiku belajar psikologi sementara aku tahu John Grisham dahulu belajar hukum? Nah, aku punya kesempatan yang sama untuk menjadi novelis novel-novel psikologi. Ilmu yang kupelajari di bangku kuliah tidak hanya untuk kerja di profesi tertentu, tetapi juga untuk mengarang indah berbagai cerita.
Sebagian masyarakat menyukai novel “berpikir” ini, yaitu novel yang menyangkut ilmu pengetahuan tertentu. Ini ladang yang bagus untuk berkarya. Aku jadi tidak menyesal belajar baik-baik selama ini… mungkin 10 tahun lagi aku akan menulis sebuah novel😀 (Amin!). Psikologi yang kupelajari membuatkan tahu sedikit lebih banyak seluk-beluk manusia yang tidak diketahui orang umum. Inilah misteri permasalahan kehidupan yang dapat dijadikan kisah menarik dan berpotensi mengajarkan sesuatu yang positif bagi para pembaca lewat cara yang menyenangkan.
Novel Grisham yang kubeli adalah “The Rainmaker” dan “The Firm”. Tak perlu kubahas jalan ceritanya, tetapi aku suka caranya memaparkan dunia hitam yang bersandingan dengan dunia putih profesi orang-orang yan bergelut di bidang hukum. Ada Baylor dan McDeere (protagonist dari kedua novel) yang berjuang mempertahankan idealisme. Brayton berusaha memenangkan perkara klien miskin yang ditindas perusahaan asuransi besar, sedangkan McDeere berjuang menjatuhkan firma tempatnya bekerja karena mengetahui firma tersebut melakukan praktek kejahatan besar.
Singkat cerita, semuanya berakhir bahagia di mana tujuan mereka tercapai. Si miskin memenangkan perkaranya dan mendapatkan ganti rugi yang besar, si penjahat mendapatkan kejatuhannya dan mendapatkan hukuman yang berat. Sangat memuaskan.
Namun, aku merasakan kesenjangan antara dunia nyata dan cerita. Duniaku saat ini bukan dunia dalam novel. Selamanya aku menantikan ditinggikannya kedudukan si miskin dan dijatuhkannya kursi para penjahat. Dua hal yang menjadikan usaha tersebut berhasil: 1) Hakim yang bersih dan adil dan 2) Penegak hukum (polisi) yang bersih, berani, dan tegas. Aku berharap di Indonesa ada hakim Tyrone Kipler yang baik dan berpihak pada yang benar dan penegak hukum-penindak penjahat seperti FBI sehingga jelas mana yang baik dan mana yang jahat.
Inilah novel yang membuat pembacanya berpikir. Bukan hanya karena isinya memang memberikan pengetahuan tertentu, tetapi juga hasil dari perjalanan membaca memberikan pencerahan-pencerahan baru. Aku layak memuji para penulis novel semacam ini: kalian cerdas karena berhasil membuat pembaca berpikir dan berharap kehidupan yang baik. Semoga kalian tetap eksis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s