Orang-orang yang Semakin Tua

Original post: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/106/Ramadhan-Series-part-2-Orang-Orang-Semakin-Tua

Sep 5, ’10 8:10 PM

Pada suatu hari di angkot beberapa tahun yang lalu… Angkot berhenti di suatu perempatan dan naiklah seorang kakek tua. Dia naik dengan sangat hati-hati. Tak disangka salah seorang penumpang menyapanya. Penumpang ini seorang nenek.
Setelah bercakap beberapa lama, kusimpulkan keduanya adalah teman sejak kecil. Si kakek kini sepertinya bekerja di sawah, sedangkan si nenek berjualan di pasar. Terakhir yang dapat kudengarkan adalah cerita mereka tentang seorang teman mereka. Aku tak ingat pembicaraan mereka kecuali sebuah kalimat yang membuatku terenyuh. Teman mereka itu…
“… sudah berangkat duluan…” (terjemahkan itu ke dalam bahasa Jawa).
Halus sekali perkataan si nenek tentang kawan mereka yang sudah berpulang. Aku hanya merasa kedua orang itu seperti tengah pasrah menanti waktu di mana pada akhirnya mereka juga sama akan dijemput untuk berangkat pergi.
Kita yang masih muda, mungkin tidak dapat merasakannya dengan baik.
***
Ramadhan berlangsung dari tahun ke tahun, berlalu pelan-pelan sampai pada suatu hari kita tidak dapat menemuinya lagi. Banyak hal yang seharusnya dapat membuat kita banyak belajar. Ada banyak perubahan yang tengah terjadi seiring dengan berjalannya waktu. Bukan lagi masalah dahulu kita dapat salam tempel lalu sekarang tidak lagi. Bukan masalah dahulu kuenya enak dan sekarang menjadi membosankan. Lebih dari itu, Ramadhan menyajikan bagi kita kesempatan untuk merenungi kehidupan: Orang-orang semakin tua. Kita semua bertambah tua dan kita semua sama-sama menyaksikannya.
Tahun sekian kita masih kanak-kanak… kita berlari-lari bersama teman merayakan Ramadhan dan Idul Fitri. Lalu kita menjadi, ada yang pindah rumah, ada yang pindah sekolah… mendapatkan teman-teman baru dan masih merayakan Ramadhan dengan cara yang tidak begitu berbeda. Lalu menginjak usia dewasa, kita lulus kuliah… ada yang bekerja, menikah, bersekolah lagi, atau tidak tahu lagi ada di mana. Ada yang membangun keluarga, ada yang dipanggil lebih dahulu oleh Allah. Lama-lama, semakin sedikit yang mencapai usia tua… Orang-orang di sekitar kita mungkin pergi lebih dahulu, sementara kita mulai sakit dan tidak dapat lagi menikmati indahnya Ramadhan seperti tahun-tahun masa muda. Akhirnya, mungkin kita menjadi orang yang terakhir sendirian dan hanya dapat bernostalgia…
Sedih sekali mengingatnya… Merinding aku dibuatnya. Salah satunya ketika membaca:
“… Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. …” (As Sajdah: 34).
Apa yang bisa kita tahu tentang hari esok? Bagaimana kita bisa tenang-tenang saja berpikiran akan dapat bertemu Ramadhan tahun depan? Detik demi detik, orang memang semakin tua, tetapi apakah benar kita dapat mengecap masa tua yang sebenarnya dan asyik bernostalgia? Kita tidak tahu itu.
Di tahun depan, kita akan menjadi apa? Rencana yang kita bangga-banggakan hari ini mungkin saja tidak akan tercapai. Kita berharap masih dapat bertemu teman, saudara, dan keluarga… tetapi siapa yang dapat menjamin semua orang masih ada tahun depan? Karena itu, tidakkah lebih baik kita berbuat yang terbaik untuk Ramadhan hari ini sebelum datang masa di mana kita akan menyesal karena menyia-nyiakan kesempatan untuk hidup dengan baik?
Di hari tua nanti, masih dapatkah kita semua bertemu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s