Presiden (Jangan Di-)Cuih!

Original post: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/155/Obama-Jangan-Di-Cuih

Nov 6, ’10 5:44 PM

Tulisan ini ditujukan untuk membela segelintir presiden atau pejabat yang baik dan menjadi korban kita, masyarakat, yang hobinya (hanya bisa) men-cuih! Salah satunya Obama, presiden Amerika? Boleh saja kita masukkan ia ke dalam kelompok presiden baik. Nah, di sini, aku tidak akan peduli pada pendapat kalian semua yang punya data sejuta kegagalan dan kesalahannya karena aku peduli pada satu kebaikannya ketika ia berpidato pada suatu hari yang aku tidak tahu kapan sebelum memasuki Gedung Putih.
 
“Kita dapat menyelamatkan negara ini. Kita dapat menggapai masa depan kita. Jatuh atau bangun, kita akan terus mencintai negeri kita. Kita akan terus berharap sejauh kita masih bernapas. Terhadap mereka yang sinis, ragu, dan takut, marilah kita katakan, spirit dari rakyat Amerika terangkum dalam tiga kata ini, yes we can.”
 
Pada prosesnya, keinginan untuk menyelamatkan sebuah negara dari kehancuran adalah peperangan lahir batin. Tidak di Amerika, tetapi juga di Indonesia. Apakah kita dapat menyenangkan semua orang yang masing-masing kepala punya kepentingan, harapan, idealismenya masing-masing? Itulah dilema seorang presiden ketika sering hati nurani diabaikannya untuk menjaga keharmonisan sementara antara dirinya dan orang-orang di sekitarnya, untuk menjauhkan krisis yang lebih dalam lagi. Keberpihakan perlu dilakukan dengan hati-hati, begitu juga dengan keputusan karena apa yang keluar dari mulut dan yang tampak dari tindakan seorang presiden bisa jadi adalah awal bencana bagi diri dan pemerintahannya.
 
Kegagalan bagi seorang presiden adalah keniscayaan dan sama mungkinnya dengan keberhasilannya. Jika berhasil, ia tahu kritik tetap ada. Jika gagal, kritik akan berpadu dengan kecaman dan orang-orang yang ber-cuih! Tahun-tahun menjabat direkam oleh jutaan orang di seluruh dunia dan segala dinamika akan menambah musuh atau teman secara signifikan. Inilah takdir pemimpin manusia karena ia bukan tuhan dengan tangan gurita penuh kuasa dan kesempurnaan. Tetapi, atas segala niat baik untuk menyelamatkan negara, mengapa kita sebagai orang yang tidak berkontribusi apa-apa mudah sekali men-cuih!-kan seorang presiden, ya?
 
Untuk kasus Indonesia, aku susah memutuskan apakah keprihatinan ini juga tepat ditujukan kepada  Pak SBY yang mengalami nasib serupa. Untuk Obama, mungkin,  aku dapat menilai baik dirinya ketika ia mampu menyerukan “yes we can” kepada rakyatnya. Saat itu di tahun yang lalu, ia berhasil mengembalikan harapan dan semangat rakyatnya untuk memperbaiki secara bersama-sama keadaan negara yang terpuruk. Jika sekarang beginilah kondisinya di mana rupa wajah dunia masih buram dan tak kunjung berubah… kupikir, janganlah hanya salahkan Obama. 
 
Jangan hanya bisa salahkan presiden (dari negara manapun). Kegagalan seorang presiden adalah kegagalan rakyat juga, dari yang terbawah (akar rumput) sampai yang teratas (para pembesar dan pejabat). Yang penting sekarang adalah bukan pada masalah salah pilih ketika pemilu, bukan masalah salah memberikan dukungan, tetapi lebih pada mengapa tidak kita memberikan dukungan yang proaktif sekalipun itu kritik membangun yang sedemikian kecutnya keluar dari mulut-mulut kita yang cuma bisa mengkritik. Salahkanlah saja orang-orang yang menghendaki kritik dan masukan agar bungkam, salahkan orang-orang di sekitar presiden yang tidak memberikan kisikan baik untuk mendengarkan rakyat, salahkan juga sebagian dari kita yang hanya bisa menanti perubahan dan berpikiran tidak realistis tentang apa itu kemakmuran. 
 
Jangan sampai hanya rakyat kecil dan presiden yang kelihatan menangis di TV. Untuk negara Indonesia dengan 240 juta penduduk ini, mengapa tidak kita menangis prihatin sama-sama? Jika Pak SBY kita tidak mampu menyerukan: “Ya, kita bisa!” untuk rakyat Indonesia, mengapa tidak kita saja yang mengatakan untuknya:
 
“Kita dapat menyelamatkan negara ini, Pak SBY. Kita dapat menggapai masa depan kita, Pak SBY. Jatuh atau bangun, kita akan terus mencintai negeri kita, Pak SBY. Kita akan terus berharap sejauh kita masih bernapas, Pak SBY. Terhadap mereka yang sinis, ragu, dan takut, marilah kita katakan, spirit dari rakyat Indonesia terangkum dalam tiga kata ini, ya kita bisa, Pak SBY!!!
 
Begitulah kewajiban kita sebagai rakyat yang setiap hari melabuhkan harapan… Mungkin jadinya akan terbalik siapa yang presiden, siapa yang rakyat… tetapi itulah poinnya. 
 
Bukankah kita sudah mendeklarasikan diri untuk menjadi negara demokratis: dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat? Nah, dengarkan ini Pak SBY…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s