Psikologi Jerawat :D

Boleh saja analisa dalam tulisan ini disebut guyonan, tetapi aku menggarapnya secara serius. Tulisan ini terkait dengan pengamatanku terhadap jerawat dan salah satu sebabnya yang bersifat psikologis. Nah, aku kemudian menemukan cara agar tidak berjerawat (berlebih)!
***
Tidak ada orang yang tidak pernah tidak berjerawat. Tidak ada orang yang tidak tahu apa itu jerawat. Sekalipun demikian, ada sebagian orang yang tidak tahu apa sebab-sebab jerawat. Maka, ada baiknya sebelum mengaitkan ini semua dengan sedikit tinjauan psikologisnya, kita ketahui dahulu sebab-sebab biologis mengapa jerawat terjadi sebelum sebab psikologisnya.
Jerawat adalah suatu keadaan di mana pori-pori kulit tersumbat sehingga menimbulkan kantung nanah yang meradang. Ada beberapa hal yang menyebabkan terjadinya jerawat. 
Pertama, sebab hormonal yang mempengaruhi kelenjar minyak di kulit. 
Kedua, produksi kelenjar minyak yang bermasalah sehingga menyebabkan penyumbatan pori-pori kulit. 
Ketiga, bakteri penyebab jerawat. Bakteri dapat berasal dari alat-alat kosmetik yang tidak bersih dan tangan kotor yang memegang-megang jerawat
Keempat, sel kulit mati dan segala macam kotoran yang menempel di wajah dan menyumbat pori-pori kulit. 
Kelima, salah pakai kosmetik sehingga kulit wajah protes. 
Keenam, stres (hubungannya dengan hormon dan produksi kelenjar minyak). 
 
Jerawat itu termasuk penyakit kulit, lho. Jika ingin sembuh, kita perlu menjalani “pengobatan” yang baik, di mana syaratnya yang sering kita dengar adalah “jagalah kebersihan kulit“. “Jagalah kebersihan kulit berarti pula himbauan agar kita rajin membersihkan wajah, bisa dengan air biasa atau aneka sabun pembersih wajah yang artinya ini hujan uang bagi perusahaan kosmetik. 
 
Syarat kedua adalah “jangan pegang-pegang atau pencet-pencet jerawatnya“. Ini dia yang sering susah dilakukan orang-orang yang tangannya “gatal”! Setiap lihat kaca, langsung saja fokus utamanya adalah benjolan-benjolan di wajah ini yang ingin sekali dipegang. Stop! Tangan anda kotor. Ada kuman penyebab iritasinya.
 
Jerawat yang sudah parah, pengobatannya cukup menguras dompet. Bukan hanya pengeluaran besar ketika harus ke dokter kulit, tetapi juga pembiayaan rutin kita untuk belanja bulanan pembersih wajah. Bagi teman-teman yang tidak punya duit lebih untuk pengeluaran jerawat atau tidak ingin keluar uang untuk pos pengeluaran yang sebetulnya tidak urgent ini, ada satu solusi yang ingin aku sampaikan. Solusi ini cukup psikologis dan sangat mudah dilakukan, tak keluar biaya apapun.
 
 
Solusi ini bernama “Hentikan perhatian berlebih pada jerawat”.
 
Tidakkah disadari pengaruh media dan gaya hidup modern membuat kita cukup bahkan sangat memperhatikan penampilan. Ini kebutuhan yang aneh. Cuma jerawat satu yang umurnya paling cuma seminggu saja sudah membuat kita  serasa “kiamat” (lihat iklan-iklan kosmetik). Sejak kapan jerawat membunuh sehingga kita pantas stres dan sangat memperhatikannya? Ketahuilah, ada banyak hal yang lebih penting daripada mempedulikan jerawat, sel kulit mati, ataupun minyak di wajah.
 
Perhatian yang kita miliki ini membuat otak memerintahkan tubuh kita untuk mengatasi jerawat. Proses higher-order-nya membuat kita sibuk membeli kosmetik dan menjalani rutinitas membersihkan wajah. Yang kemudian tidak kita sadari adalah aktivitas tangan kita yang turut “peduli” pada wajah kita, sentuh jerawat sana-sini. Nah, pernah perhatikan tidak seberapa sering frekuensi tangan memegang-megang wajah? 
 
Berdasarkan penelitian pada single subject, sekalipun tidak ilmiah karena sistematikanya berantakan, kusimpulkan:
 
Dalam kondisi tidak menggunakan kosmetik dan treatment kimiawi apa-apa, semakin besar stres dan perhatian kita pada jerawat, semakin sering tangan kita beraksi di wajah, semakin subur jerawat di tangan kita
 
Untuk mengatasi jerawat, mekanismenya dibalik saja: jerawat akan mereda jika kita mampu mengendalikan tangan dan mengerem perhatian berlebih pada jerawat, pada khususnya, dan penampilan fisik wajah, pada umumnya. Intinya, janganlah terlalu memikirkan jerawat dan stres karenanya. 
 
Perlakukan wajah, takdir dan kenormalannya secara wajar saja sesuai kebutuhan. Wajah kita jelas ada kulit matinya karena proses regenerasi kulit. Tubuh kita jelas menghasilkan hormon yang berfluktuasi dalam siklusnya. Kotoran dan debu pun ada di mana-mana. Maka, jerawat lambat laun akan muncul di wajah kita. 
 
Sesuatu hal yang alami terjadi, conter attack-nya juga dengan yang alami: atur apa yang dimakan, cuci muka sering-sering lewat berwudhu dan shalat (menghilangkan stres), pandang jerawat sebagai sesuatu yang alami, dan pikirkan hal lain yang lebih penting daripada jerawat. 
 
***
Nah, mungkin ini hanyalah artikel bodoh yang tidak berdasar hal ilmiah apapun. Tapi, semoga memberikan solusi baru mengatasi jerawat. BTW, solusi ini tidak universal. Beda sebab, beda obat. Solusi di artikel ini cocok untuk jerawat yang tidak katastrofik.
 
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s