Rasa Sebuah Kebersamaan

Original post: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/105/Ramadhan-Series-part-1-Rasa-Sebuah-Kebersamaan

Sep 5, ’10 7:35 PM

Jika bukan karena Ramadhan, kapan lagi kita dapat berkumpul bersama saudara, keluarga, dan teman-teman kita? Ramadhan tahun ini, terasa betul indahnya kebersamaan yang tercipta. Orang-orang beramai-ramai mengadakan buka puasa bersama, ramai-ramai mengadakan acara pengajian, ramai-ramai membagi sebagian harta bagi fakir dan miskin, ramai-ramai berbagi ta’jil (makanan berbuka puasa), ramai-ramai shalat tarawih…
Berkah bulan Ramadhan tidak hanya limpahan pahala dan ampunan, tetapi juga rahmat dalam sebuah kebersamaan yang terjalin dan silaturahim yang terpelihara. Setelah sekian lamanya tidak bertemu, siapa yang mau melewatkan momen yang khusus dihadiahkan Allah bagi orang-orang yang menyayangi sahabatnya? Bagi teman-teman yang dekat satu sama lain, mungkin tidak terasa indahnya pertemuan kembali. Tetapi, bagi kita yang jauh dari orang-orang yang kita sayang… Bisa nangis…      T.T, kan?
Maka dari itu, dalam sebuah kebersamaan, yang paling berharga adalah perasaan kita terhadap orang lain. Percuma mengadakan pertemuan yang dihadiri oleh semua orang jika kita masih sulit melupakan trauma, kebencian, atau ketidaksukaan di masa lalu… Pada diri orang-orang yang masih memendam stigma, prasangka, subjektifitas yang merugikan, dan pikiran buruk, rasa kebersamaan tidak akan pernah sama dengan orang-orang yang dapat memaafkan kesalahan di masa lalu, memaklumi kekhilafan satu sama lain, menerima tanpa syarat, dan terbuka dengan penuh keikhlasan.
Ada kalanya kita tidak perlu mengeluhkan tingkah sebagian orang yang lebih peduli acara makan-makannya daripada esensi silaturahim dan Ramadhan, yaitu kesederhanaan. Tahukah teman-teman, mahal sekali harga sebuah senyuman dan gelak tawa bagi sebagian orang? Mereka itu yang jika tidak ada Ramadhan masih akan terus bekerja atau belajar, mementingkan kepentingan dan kebutuhan pribadi. Mereka itu orang-orang sibuk yang bahkan tidak punya kesempatan lagi untuk bertemu manusia secara normal dan informal. Tidakkah kita kasihan?
Ada kalanya kita tidak perlu pula mengeluhkan tingkah sebagian orang yang berebutan dalam acara bersama. Terutama mereka yang tidak terbiasa hidup nyaman, acara makan bersama tentu sangat menyenangkan… Hikmah puasa, makan secukupnya, mungkin terlupa, tetapi tersenyum sajalah kita ketika orang-orang itu berubah senang karena kehadiran kita.
Ada kalanya kita tidak perlu mengeluhkan tingkah orang yang sangat kegirangan sampai tidak dapat mengontrol senda-gurau mereka. Setelah berpisah dengan teman… bukankah itu normal?
Juga, tidak perlu mengeluhkan tingkah orang yang dari tahun ke tahun masih begitu kaku dan sulit mengekspresikan perasaan. Jangan menilai mereka sebagai orang yang tidak normal, tetapi berbahagialah… mungkin, di tengah ketidakbahagiaan mereka, mereka masih menyempatkan diri untuk setor muka, untuk melihat seperti apa teman-teman mereka saat ini.
Kebersamaan membuat kita bertemu dengan manusia, manusia yang berbeda-beda. Berbeda rupa, status sosial, situasi, kondisi, tingkat keimanan dan takwa, kebahagiaan, dan penderitaan… Sekalipun ada sesuatu dalam diri mereka yang tidak kita sukai, mengapa tidak kita relakan perasaan buruk itu agar rasa kebersamaan tidak rusak? Agar kita dapat enak tersenyum, berjabat tangan, menanyakan kabar, dan mengobrolkan kabar terbaru dalam kehidupan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s