Respect Without Fear

Original post: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/99/Respect-Without-Fear

Aug 27, ’10 12:20 AM

Musimnya PMB alias Penerimaan Mahasiswa Baru… Setiap tahun melihat wajah adik-adik baru. Sampai hari ini sudah yang ke-3. Aku hanya berharap mereka antusias, karena:
 
1. Kakak-kakak mereka tahun ini sudah lebih baik hati daripada yang diceritakan bertahun-tahun yang lalu (di kampusku).
 
2. Tidak ada acara gojlok-menggojlok, instruksi membawa atau membuat benda yang macam-macam (di kampusku).
 
3. Banyak acara dilakukan di dalam ruangan ber-AC, bukan kipas angin atau cuma ventilasi seperti dulu (di kampusku).
 
4. Tidak ada acara bentak-membentak, bahkan setiap mahasiswa diminta untuk saling hormat-menghormati (di kampusku).
 
Adem-ayem… terhapuslah gambaran kalau acara PMB identik dengan perploncoan. Nah, sudah bukan zamannya lagi kita mempengaruhi orang dengan cara-cara kasar, bukan? Bersyukurlah anak-anak tahun ini, mereka diperlakukan secara manusiawi. Tapi… entah kenapa malah jadi tidak bersemangat… 
 
Berkebalikan dengan kondisi di atas, cerita dari seseorang dari fakultas yang lain. Dia menemuiku dengan wajah kusut yang katanya disebabkan ketidaksukaannya pada seniornya. Ceritanya, bukannya hari itu menyenangkan, tetapi masih saja ada acara bentak-membantak dan mencari-cari kesalahan mahasiswa baru. Lalu komentarnya, “Ada tidak, sih, cara mengontrol mahasiswa tanpa harus dikasari begitu???”
 
***
Seperti kuda yang masih liar, kalau ikatannya longgar, dia akan lepas, kalau ikatannya terlalu kuat, dia akan berontak. Rupanya mahasiswa atau manusia pada umumnya juga begitu. Beri dia hal-hal yang menyenangkan, dia akan meremehkan. Beri dia penderitaan, dia akan berontak. Dua-duanya sama, tidak ada rasa hormat atau menghargai di situ seperti yang kita harapkan, jika kita adalah kakak bagi adik-adik kita. Memang terlihat wajar jika anak yang lebih tua itu dipatuhi oleh anak yang lebih muda, tetapi haruskah kepatuhan itu dibentuk dari adanya rasa takut?
 
Ada baiknya jika kita memahami kondisi teman-teman baru kita di kampus. Jelas, mereka baru dan tidak tahu apa-apa. Di suruh A, mereka akan cenderung menurut. Di suruh B, mereka juga akan menurut. Mengapa? Begitulah kondisi kebanyakan orang yang tidak tahu apa-apa. Sugesti saja mereka, mereka akan menurut apa yang kita katakan.
 
Orang yang tidak tahu apa-apa, mereka rentan. Ada kebutuhan untuk tahu yang ingin sekali mereka penuhi agar mereka mendapat kepastian. Mereka akan mencari di antara teman-teman mereka yang lebih tahu, atau dari para senior yang mau memberi jawaban atas pertanyaan mereka. Ketika mereka mendapatkan jawaban, kondisi mereka akan kembali stabil. Efeknya pada yang memberikan informasi, mereka tahu siapa yang dapat diandalkan atau tidak. Dari perasaan inilah muncul respect atau rasa hormat atau tidak respect. Dari situlah muncul kepercayaan dan selanjutnya dapat dimulai suatu hubungan yang akrab antara kakak-adik di kampus.
 
Tetapi, apa jadinya kalau si kakak ini gila hormat dan cuma berkutat pada masalah “saya senior – kamu junior, saya lebih tahu – kamu menurut”? Mereka lupa kalau orang dihormati itu karena mereka pantas dihormati. Orang-orang yang ingin dihormati dan dituruti, cara yang paling ampuh jika mereka punya kekuatan atau otoritas adalah dengan menanamkan rasa inferior atau rendah pada target mereka. Perasaan rendah ini adalah sumber rasa takut. Untuk melindungi dirinya, orang yang merasa takut akan super menurut. Rasa hormat yang dimiliki oleh orang yang takut ini tidak berasal dari dalam diri mereka sendiri. Ini sungguh disayangkan kalau terjadi karena perilaku yang seperti ini adalah salah satu sebab orang menjadi munafik.
 
Apakah baik menanamkan karakter munafik dalam suatu institusi pendidikan? Pada awalnya akan terlihat manis, tetapi selanjutnya akan sangat merugikan. Dalam diri orang-orang yang takut pada otoritas akan terbentuk diri yang tidak ikhlas dalam berbuat, yang tidak kritis pada keadaan dan perubahannya, yang “asal bapak senang”, yang tidak kreatif, dan pasif… Di masa depan nanti, sulit bagi kita untuk menyalahkan orang-orang yang bertindak karena belajar dari situasi buruk seperti ini.
 
Semoga, untuk keadaan yang lebih baik… jika sudah ada himbauan tidak ada “acara kasar-kasar”, bagaimana jika benar-benar dilakukan? Untuk alasan menempa mental dan ketangguhan, ada banyak cara yang positif daripada menanamkan rasa takut sebagai motor dari tindakan. Jika kita, sebagai senior, tidak ingin dipandang sebelah mata (apakah itu ditakuti atau diremehkan), bagaimana jika sebaiknya kita benar-benar mewujudkan diri kita yang patas dipandang secara utuh? Lagi-lagi, kembali kepada diri kita untuk mau membuka mata pada suatu pilihan yang baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s