Stres? Yuk, Hati-Hati, Cermat, dan Teliti

Original post: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/131/Seri-Organisasi-Bag.-5-Stres-Yuk-Hati-Hati-Cermat-dan-Teliti

Oct 8, ’10 3:25 PM

Pada satu sisi, ada benarnya juga pemikiran mahasiswa yang menghindari terlibat dalam aktivitas organisasi: mereka sudah mencegah diri untuk mengalami stres rumit akibat organisasi. Dengan ini aku mengakui bahwa aku stres, stres, stres, dan stres. Ada satu saat di mana aku bahkan susah tersenyum ketika harapan digantung, koordinasi macet, permintaan dan instruksiku entah dikemanakan sehingga tidak juga dilaksanakan… Tetapi, ada satu saat pula di mana aku pasti tersenyum ketika mengingat semua permasalahan yang pernah terjadi dan tidak ada dendam kesumat😀
Aku di sini cuma mau cerita pengalaman “ajaib” yang menimpaku siang ini. Kau tahu, kekhawatiran itu bisa berbicara. Dengarkan atau tidak, semua itu ada implikasinya. Nah, di sini aku akan berbagi kisah ketika kekhawatiran yang bisa berbicara ini diabaikan, atau mungkin didengar tetapi tidak diperhatikan. Whatever…
 
Aku tengah tidur siang dan mimpi aneh. Tidak salah jika karena saking stresnya, “Kesppi Family’s Week” tanggal 23-24 Oktober nanti yang sedang diusahakan untuk sukses, sampai masuk ke alam mimpi. Isi mimpinya aneh karena bercerita tentang aku, yang merupakan ketua organisasi yang mengadakan acara ini, malah menjadi orang yang tidak tahu tempat pelaksanaan acara. Aku bertanya ke teman-teman panitia yang turut menjadi aktor dan aktris di mimpi itu, tetapi mereka cuma senyum-senyum saja dan aku tidak mendapatkan jawabannya. Frustasi…
 
Setelah itu terbangun, buka sms dan… “Mbak, … salah masukin nomor rekening ke pamflet. Persebaran pamflet tolong segera distop dan diganti yang baru. Blog Kesppi juga.” Weleh, ada kabar buruk tho… Pantas mimpi tadi juga nggak enak.
 
Segera… segera… segera. Buka internet dan googling sejauh mana informasi lomba sudah tersebat. Jika hari-hari awal info mengenai lomba hanya ada di tiga situs, sekarang jadi tiga halaman Google. Tidak terbayang pula berapa ratus orang yang sudah di-tag pamflet tersebut via Facebook. Benar-benar terasa capek untuk menyebarkan informasi ralat… belum lagi tidak diketahui situs atau orang mana yang perhatian pada informasi ini. Di akhir usaha memperbaiki situasi buruk yang disebabkan oleh keteledoran ini, aku berdoa… Allah, aku sudah berusaha semaksimal mungkin. Hal seperti ini baru diketahui pada H-5? Kenapa tidak waktu H-12? Atau sejak awal?
 
Sejak awal? Langsung teringat pada peristiwa, sekitar beberapa jam sebelum pamflet publikasi selesai dibuat. Aku meminta pada si pembuatnya untuk mengecek pada si … kalau-kalau nomor rekeningnya salah atau tidak. Inilah saat di mana kekhawatiran yang berbicara kurang diperhatikan. Tidak ada tanggapan… Kupikir semua akan berjalan lancar, ternyata tidak, bukan? Nah lho… KEJADIAN BETUL. Aku bingung mau nangis atau ketawa karena ini agak lucu juga. Ada pelajaran penting dan kucatat:
 
Pertama, dengarkanlah kekhawatiran yang berbicara. Memang rasanya berlebihan, tetapi jika ia muncul karena stres akibat keinginan untuk hati-hati, cermat, teliti, dan sempurna… Dengarkan dan laksanakan.
 
Kedua, inilah pelajaran bersyukur agar kita bisa ikhlas. Masih lumayan kejadiannya H-5. Bagaimana jika H-1 atau pada hari H??? Ya Allah, terima kasih… Engkau memberikan kesempatan bagi kami, lewat mata salah seorang di antara kami yang memperhatikan adanya kesalahan, kami punya kesempatan untuk berbenah.
 
Ketiga, baik aktivis maupun bukan aktivis organisasi, stres sesungguhnya lebih mungkin muncul karena diri yang tidak hati-hati, cermat, dan teliti dalam bertindak.
 
Keempat, organisasi sangat butuh orang-orang yang perhatian pada detil dan kesempurnaannya. Entahlah, mungkin benar, mereka adalah evaluator yang baik, tetapi sayang sering dipandang sebagai orang yang perfeksionis dan merepotkan, bahkan salah tempat.
 
Kelima, organisasi sangat butuh orang-orang yang mau mendengarkan masukan dan tidak tenggelam dalam rencana “sempurna” mereka sendiri. Di sinilah masukan, saran, dan kritik memiliki makna yang sangat berharga.
 
Keenam, inilah saat untuk belajar mengevaluasi kinerja masing-masing diri yang merasa punya salah dalam kasus ini, termasuk aku.
 
Ketujuh, inilah saat untuk belajar berterima kasih bahwa keberhasilan organisasi dan kesuksesan program kerjanya tidak hanya dipengaruhi oleh pengurus atau panitia yang excellent, tetapi juga orang-orang luar yang bersimpati pada kita lewat doa dan kesediaan mereka untuk membantu atau mendukung kita dengan cara apapun.
 
Kedelapan, memaafkan dan tidak saling menyalahkan adalah mutiara kehidupan berorganisasi. Indah, bukan?
 
Kesembilan, jangan jadi seperti kerbau, bergerak karena dicucuk stres sehingga terburu-buru. Pelan-pelan sesuai rencana, itu baik.
 
Kesepuluh, alhamdulillah semakin muncul kesadaran bahwa Allah-lah yang menetapkan takdir hari ini dan besok. Terkait rekening yang salah dan jika ada yang terlanjur… ikhlaskan, syukuri yang masih ada, insya Allah nikmat akan dilipatgandakan ^^ Betul?
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s