“The Beggar” Naguib Mahfouz

Sebelumnya, buku ini hanya kupandang sambil lalu saja. Sampunya didominasi warna coklat dan bergambarkan sosok pria yang berjalan lemas dengan kepala tertunduk. “Pengemis”, begitu judulnya. Aku tidak menelitinya lebih jauh sampai hari kemarin: Novel karya Naguib Mahfouz, pemenang hadiah Nobel Sastra tahun 1988!!!
Tidak berat membaca novel ini, terutama karena novel ini begitu tipisnya. Di tengah-tengah membacanya, aku menyadari sesuatu bahwa novel yang menarik dan memberikan pelajaran tidak selalu berkisah tentang hal-hal bahagia atau akhir yang bahagia. Keputusasaan, penderitaan, dan nasib buruk adalah hal lain yang juga kita nikmati, bukan? Dibandingkan dengan kisah-kisah bahagia, yang getir semacam inilah yang seringnya menjadi cambuk peringatan.
Selanjutnya kupikir, inilah kehebatan seorang novelis sejati, yaitu ketika ia mampu menulis tentang ketidakbahagiaan. Orang tidak akan menulis tentang hal-hal yang tidak ia tahu. Untuk tahu, kita memang tidak perlu harus mengalami, tetapi menempatkan diri untuk mampu menyerap segala macam informasi lewat seluruh indera di berbagai situasi di mana kita berada. Lebih dari itu, berpikir dan bersabar, menanti ke jurusan mana cerita ini akan dibawa. Ke jurusan orang-orang yang mudah puas atau yang mudah haus…
“The Beggar” atau “Pengemis” adalah novel yang bercerita tentang orang yang terbuang dari zamannya. Analogi mudahnya, bayangkanlah peristiwa Mei 1998 lalu ketika mahasiswa giat berdemonstrasi menuntut reformasi. Semua orang di masa itu memiliki mimpi yang ingin sama-sama mereka songsong di masa depan. Beberapa tahun berlalu dan orang-orang mulai menunjukkan celanya. Cela yang paling menyedihkan adalah ketika semangat mulai hilang dan mimpi indah berubah menjadi mimpi yang biasa-biasa saja. Yang lebih lebih menyedihkan lagi jika mimpi yang biasa-biasa saja itu berubah menjadi mimpi terburuk, ketika orang mulai berubah jahat sehingga kita semua bisa berironi: Mereka yang dahulu menyuarakan keadilan kini mulai melanggarnya sendiri.
“The Beggar” mengambil latar Mesir era 1950-an ketika saat itu terjadi sebuah revolusi yang, sepertinya, gagal (aku tidak begitu yakin karena tidak tahu sejarah Mesir). Di masa itu, dikisahkanlah sekawan yang akhirnya menempuh jalan hidup masing-masing: Omar si pengacara kaya (tokoh utama), Mustapha si wartawan terkenal, Hamid si dokter, dan Othman yang dipenjara (karena revolusi). Dua puluh tahun telah berlalu sejak mereka menjadi pemuda yang melakukan revolusi.
Novel ini memotret siksaan psikologis yang diderita Omar. Kekayaan, pekerjaan, dan keluarga tidak lagi memuaskan hidupnya. Ia tidak lagi berminat pada pekerjaan dan tidak mencintai keluarganya lagi. Pencariannya pada makna hidup ternyata malah menenggelamkannya dalam dunia malam dan cinta gelap. Namun, ia tetap saja tidak dapat menemukan cinta, makna hidup, maupun Tuhan. Mengapa? Karena ia tidak juga dapat menemukan obat bagi penyakit ruhaninya. Penyebabnya tentu tak dapat ditemukan oleh dokter (karena tak ada rasionalisasi fisik bagi sakit ruhani). 
 
Namun, ada kesimpulan yang bisa sama-sama kita pahami:
 
“Engkau mendapat penyakit borjuis… 
 
Kau tidak sakit, tapi aku melihat tanda-tanda awal dari sesuatu yang lebih dari sekadar penyakit… 
 
Kau seorang yang sukses dan kaya. Engkau benar-benar sudah lupa bagaimana caranya berjalan. Kau melahap makanan terbaik, minum anggur yang bagus, dan telah membebani diri dengan pekerjaan yang melebihi kemampuan…
 
Kekhawatiranmu tentang masa depan pekerjaanmu dan keadaan keuanganmu telah berakibat lebih jauh atas dirimu.” (h. 6)
 
Dan penyembuhnya:
 
“Makanlah secukupnya, kurangi minuman keras, lakukan olahraga secara teratur… dengan demikian tidak ada alasan untuk merasa was-was.
 
Kau bukan orang desa yang memerlukan resep yang tak perlu untuk dapat diyakinkan… Penyembuhan yang sesuangguhnya ada dalam dirimu sendiri…
 
Yang penting adalah memahami kehidupan.
 
Berimanlah kepada Tuhan. Kau telah menerima peringatan dari alam. Dengarkan dia.” (h.7-8)
 
Begitulah… kisah tentang orang yang melupakan masa lalu, lupa apa yang diperjuangkan dulu, lupa apa yang pernah dilakukan dulu. Nah, sekarang, berhati-hatilah, semoga kita tidak menjadi pengemis-pengemis yang lain. Kita mengemis kehidupan dan makna hidup, padahal semuanya ada dalam diri kita sendiri.
 
Tentang Naguib Mahfouz
 
 
Naguib Mahfouz (Arabic: نجيب محفوظ‎, Nagīb Maḥfūẓ) (December 11, 1911 – August 30, 2006) was an Egyptian writer who won the 1988 Nobel Prize for Literature. He is regarded as one of the first contemporary writers of Arabic literature, along with Tawfiq el-Hakim, to explore themes of existentialism.[1] He published over 50 novels, over 350 short stories, dozens of movie scripts, and five plays over a 70-year career. Many of his works have been made into Egyptian and foreign films.
 
Lebih lanjutnya, lihat Wikipedia saja, ya http://en.wikipedia.org/wiki/Naguib_Mahfouz
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s