The No. 1 Villain

Jan 24, ’11 11:34 PM

Siapa penjahat nomor satu di dunia ini? Jika sulit menjawabnya, kita turunkan levelnya. Siapa penjahat nomor satu di negara ini. BTW, Gayus sudah ogah disebut dan dianggap penjahat nomor satu di negara ini, lho. Mari kita ingat kembali pidato terakhirnya setelah dijatuhi vonis tujuh tahun penjara beberapa hari yang lalu. Peristiwa hari itu diberitakan besar-besaran di media dan seru sekali diskusi yang berlangsung. Haha… aku jadi penggemar politik, apalagi ketika diskusinya melibatkan tokoh psikologi politik dan komunikasi politik! Tontonan menyenangkan, sekaligus mencerahkan.
Dari peristiwa akhir-akhir ini, ingin sekali bisa menyalahkan seseorang di negara ini. Ingin bisa menertawakan kebodohan orang-orang tertentu. Apalagi jika melihat ada satu orang dalam forum diskusi yang bingung mau ngomong apa karena jelas salahnya fatal (kaitannya dengan keluhan gaji SBY)… benar-benar yakin: jangan jadi pendukung orang-orang yang tidak karuan, OK? Hidupmu jadi ikut tidak karuan.
Ada satu hal yang menggelitikku. Benar-benar aku mencari siapa penjahat nomor satu di negeri ini, terutama setelah mendengar Gayus tidak mau dikatakan begitu. Tiba-tiba teringat sepotong kata-kata mutiara yang aku lupa kubaca di mana, tetapi intinya:
“Menentukan siapa yang jahat itu mudah jika ia jelas berbuat jahat. Tetapi lebih jahat orang yang tahu jahat dan baik, tetapi tutup mulut dan membiarkan kejahatan itu berlangsung.”
Banyak orang yang bisa digolongkan pada orang yang kedua. Merekalah orang yang malas bertindak, berbicara, berbuat sesuatu yang intinya adalah mencegah kejahatan dengan kekuatan mereka. Puncak dari seluruh penjahat adalah orang-orang yang berada pada “puncak rantai makanan” dalam dunia manusia. Mereka adalah orang-orang yang dianugrahkan kedudukan dan kewenangan. Dalam negara ini hanya satu, jelas: presiden. Tetapi, semenjak kekuasaan dan wewenang dibagi-bagi, ada semakin banyak raja-raja kecil yang ikut andil berperan sebagai penjahat bagi masyarakat.
Sebagai mahasiswa yang belajar psikologi, sering saja aku bertanya: mungkin, parah betul konflik yang mereka hadapi untuk hidup di dunia. Ego ingin begini, tetapi tertolak moralitas dan nurani. Jika disurvei, ingin tahu berapa banyak yang terkena stres, depresi atau bahkan gangguan jiwa. Tahukan kalian bahwa konflik dalam diri itu sakitnya luar biasa? Masalah-masalah yang dipendam atau yang memunculkan topeng-topeng untuk menutupi kejahatan yang dibuat sungguh sulit untuk dialami. Normalnya, orang ingin segera lepas dari masalah, tetapi orang-orang yang ada di atas itu, bagi mereka gengsi dan harga diri (palsu) mungkin yang terpenting. Masalah ditutup dengan masalah lain ditutup dengan masalah lain ditutup dengan masalah lain ditutup dengan masalah lain…
 
Memang “reality show” perpolitikan Indonesia memang tidak akan pernah tamat. Lama-lama, ceritanya makin seperti yang ada di film. Nah, siapa yang mau mendokumentasikan ini? Mungkin saja di masa depan akan ada filmnya. Tetapi jujur, ini mungkin menghabiskan waktu selamanya. Ingin tahu akhir cerita dari semua ini… apakah masih bertahun-tahun lagi sampai satu-satu pemainnya mati dan menyisakan kisah buntu “case closed“?
Besok akan ada cerita apa lagi, ya? The no. 1 villains of the country are revealed. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s