Agama? Rasis? Apa Hubungannya?

Mar 27, ’11 1:20 AM

Tulisan ini berisi unek-unek. Isinya adalah sebuah argumen, anggap saja sebagai “pembalasan” bagi seseorang yang hari yang sok globalis. Globalis??? Tadi memang tidak ada kesempatan bagiku untuk bicara lantaran aku menghormati posisinya yang, memang, tinggi. Namun, aku bisa bicara sepuasnya di sini.
 
Hari ini aku mendapatkan kesempatan mengisi sebuah acara pembekalan mahasiswa untuk mengikuti sebuah kompetisi. Aku hanya berbagi pengalaman pernah mengikuti kompetisi serupa tahun lalu. Di sana ada rekan sesama mahasiswa dan seseorang “itu” yang juga sama bertugas memberikan pembekalan.
 
Apa yang salah dalam sebuah curriculum vitae jika di situ ada kolom “agama:…………”? Apakah kolom itu bermasalah? Tidak, bukan? Mau diisi, silakan, tidak juga suka-suka. Namun, aku tak habis pikir, mengapa hal itu dipermasalahkan olehnya. Sebelum memulai materinya, orang itu cukup panjang lebar membahas bahwa menanyakan agama adalah sesuatu yang rasis. Aku berpikir, “Pak, pak… tidak lihat konteks dan lingkungan di mana kita berada, ya? Indonesia, Pak.
 
Usut punya usut, dan dia membeberkan kisah hidupnya sendiri… Dia menempuh S2 dan S3 di luar negeri, di Jepang tepatnya. Menurutnya, di luar negeri sana, orang yang menanyakan agama akan dipandang rasis. Dia menghubungkan itu dengan kompetisi global dan globalisme bahwa batas-batas budaya, ras, dan agama tidak akan kental. Orang harus saling menerima siapa orang lain, terbuka, dan tak membedakan. Jadi, buat apa menanyakan agama? Itu menyinggung perasaan. Lebih lanjut, ia bahkan menekankan rawannya keberadaan “kelompok-kelompok” di dalam lingkungan kampus dan partai pertama yang diucapkannya adalah PKS, lalu Golkar dan beberapa partai lain (Demokrat tidak disebut, baru disebut di kalimat selanjutnya). 
 
Aku ingin sekali menimpali penjelasannya itu. Pak, bicarakan itu di Jepang, Pak, tempat di mana agama bukan bagian sangat penting dalam kehidupan masyarakatnya. Ini Indonesia, Pak. Dalam forum ini, di mana seluruh pesertanya adalah muslim, hampir seluruh muslimahnya berjilbab, dan karena bapak mungkin berpikir kami tidak tahu kepercayaan bapak, bapaklah yang tidak etis menyinggung-nyinggung masalah agama itu rasis di tempat di mana tidak ada orang memandang agama adalah sesuatu yang rasis.
 
Mengapa Bapak tidak berpikir lebih positif bahwa “agama:………..” itu bukan untuk mendiskriminasi orang, tetapi untuk mengenal agar semua orang di forum tersebut dapat memperlakukan masing-masing orang secara tepat sesuai dengan agama dan kepercayaannya?
 
Bapak ini terjangkit virus globalisme. Globalisme memang menjadikan dunia seolah-olah tanpa batas. Budaya, ideologi, gaya hidup, kepercayaan, dan pemikiran tersebar ke segala penjuru dunia tanpa terbendung. Sebagai warga negara Indonesia yang saban hari juga didengar perbincangan bagaimana melakukan filter terhadap dampak buruk globalisme bagi Indonesia, mengapa Bapak menghendaki kami mengeliminasi apa agama kami sebagai bagian dari identitas kami? Percuma Bapak paham ragam budaya Indonesia secara spesifik jika Bapak lupa hal pokok dalam kehidupan bahwa agama adalah bagian dari kehidupan bangsa Indonesia.
 
Kalau Bapak memang tidak suka dengan kolom tersebut, tidak usah diisi dan tidak usah pula mengungkit-ungkitnya.
 
Lagipula, Bapak tidak tepat menggunakan kata “rasis” di sini. Rasis tidak dihubungkan dengan agama sebelum ia dihubungkan terlebih dahulu dengan masalah-masalah yang berkaitan dengan suku bangsa, ras, dan nasionalitas. Rasisme mengacu pada paham yang meyakini bahwa faktor genetik menjadi penentu utama sifat dan kemampuan manusia, dan perbedaannya menghasilkan “superioritas” bawaan. Katakan rasis pada orang Jerman (Nasrani) dan Jepang (Shinto) pada masa Perang Dunia II dulu, pada orang Eropa (Nasrani) pada penduduk asli Amerika beberapa abad yang lalu, pada bangsa Israel (Yahudi) yang sampai hari ini merasa dirinya superior, atau Belanda pada Indonesia selama 3,5 abad… Rasisme yang mereka lakukan lebih dari sekadar menyinggung perasaan, bahkan menjadikannya motif melakukan pembunuhan.
 
Nah, Pak, di mana agama dalam rasisme? Kita orang Indonesia dengan segala suku bangsa dan agama, orang suku apa saja bisa beragama apa saja… mengapa Bapak masih berpikiran dengan menanyakan “apa agama” sebagai sesuatu yang rasis? Bapak ini yang mulai mengagung-agungkan globalisasi. Apakah Bapak mengira kami tidak cukup bermoral sehingga jika mengetahui apa agama bapak atau agama orang lain kami akan menyerang atau mendiskriminasi bapak dan orang lain itu?
 
Aku bangga jadi orang Indonesia. Aku bangga jadi orang Islam dan Islam tidak rasis. Islam tidak mendiskriminasi.
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s