Aku Ingat Hidup

Original post: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/236/Note-of-The-Week-Aku-Ingat-Hidup

Apr 25, ’11 11:28 AM

Kau tahu, kehidupan itu aneh. Begitu banyak calon manusia baru, menunggu kelahiran, mengantre untuk menangis, dan mencerahkan orang-orang di sekitarnya. Ia begitu cepat terjadi dan wajah dunia berubah seiring dengan munculnya generasi baru. Aku, ketika menulis ini, belum mati sehingga tidak tahu rasanya mati. Namun, sekalipun pernah dilahirkan, sulit sekali bagiku mengingat pengalaman itu.
Apa yang kemudian kupahami hanya bersumber dari cerita-cerita orang dan beberapa foto. Sekalipun dunia tidak pernah secara gamblang berkata ia mencintaiku, tetapi aku seolah tahu bahwa, tanpa diberitahupun aku tahu, aku dicintai. Aku tumbuh besar dan sama seperti seperti yang kalian alami dan rasakan, kita semua mampu memberikan kasih sayang. Itu buktinya.
Secara pribadi, aku sering memikirkan tentang hidup. Inilah hidup, yaitu kondisi di mana kita semua masih bisa… ya, seperti ini, setidaknya tidak dalam keadaan terbujur kaku lalu dikuburkan. Aku bisa melihat langit yang luas, bernapas lega, melihat jauh ke atas sana, “Oh, hari ini baik!” sekalipun ketika nantinya keadaan bisa berubah 180 derajat, terus-menerus menunduk melihat tanah, menangis sesenggukan, dan tidak bisa melihat apa-apa karena lebih memilih menutup mata, “Ini hari yang menyedihkan.” Life is a roller-coster. Aku bisa berlari, lalu terjatuh dan luka-luka, bisa melompat lalu terjerembab. Aku bisa berkali-kali mengeluh dan merutuki nasib, tetapi selalu saja ada hari baru dan kehidupan baru yang terbentang.
 
Aku memikirkan bagaimana menikmatinya dan aku bertemu berbagai jenis orang. Aku menjalani rutinitas dan tidak ingin peduli kapan semua ini berakhir. Aku bangun pagi, siap-siap ke kampus, sedikit kena marah orang rumah, terburu-buru, tapi lalu terus berangkat. Satu jam di jalan dan jalan-jalan, sampai di kampus dan belajar, lalu mengobrol. Sedikit istirahat, sekalipun tidak makan, memikirkan berbagai kepentingan dan urusan hari besok, selesai, dan sama-sama mengaduh, “Capeeek.” Lalu pulang, satu jam di jalan dan jalan-jalan, berdesakan dengan manusia lain secara manusiawi, menanti giliran sampai sambil sering tertidur. 
 
Mengisi siang dan malam dengan kehidupan seperti ini, begitu sederhana dan tampak tak bermutu, aku bertanya pada Allah, “Ini semua ada maknanya, bukan? Ini semua tak sia-sia, bukan? Sekalipun mati besok, ini berharga, bukan? Aku hanya bisa menikmati saatku di detik yang ini. Aku tidak tahu apa, siapa, dan mengapa aku besok. 
 
Aku tidak punya besok, tapi aku belum mau berhenti. Ada banyak hal yang belum kualami, belum kurasakan, atau belum kuselesaikan karena aku memiliki janji untuk hidupku sendiri dan orang lain. Ada banyak hal yang ingin kubuktikan. 
 
Meskipun mungkin tak ada banyak waktu, berikan aku kesempatan untuk memiliki lebih banyak lagi niat-niat baik, keinginan-keinginan baik, pikiran-pikiran yang baik, perencanaan hidup yang baik. Aku ingin bertemu orang-orang baik, mengalami hal-hal baik, mencintai hal-hal baik, melakukan hal-hal baik…”
Begini caranya aku ingat hidup, untuk terus hidup sampai waktunya nanti.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s