Aku Ingat Mati

Original post: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/235/Note-of-The-Week-Aku-Ingat-Mati

Apr 23, ’11 4:40 PM

Kau tahu, kematian itu aneh. Orang yang kemarin ada bisa menghilang hari ini dan kita seolah-olah sedang bermimpi. Ia begitu cepat, secepat kenyataan yang berubah seiring dengan berjalannya waktu. Ia merubah wajah dunia. Kita boleh saja merasa tidak terpengaruh oleh kabar-kabar kematian, tetapi seram jika membayangkan bahwa saat ini pasti akan datang. Ini seperti menunggu giliran diimunisasi waktu SD dulu, cemas… dan ketika saatnya datang yang bisa kita lakukan adalah berdoa dan menyerahkan diri untuk disuntik dokter. Tapi, soal kematian, ini sangat jauh dari kepastian dan tidak ada penyembuhannya. Aku takut mati, aku ingat coreng-moreng hidupku.
 
***
Pagi ini aku disambut oleh kabar kematian. Tetangga, dan aku cukup mengenalnya. Beberapa kali kami bertemu di sore hari ketika adikku dan anaknya bermain bersama. Teringat ia sedang hamil besar, mencari-cari anaknya yang main jauh-jauh. Ia menyuruh anaknya pulang untuk mandi sore. Kabarnya adalah ia sedang melahirkan. Tadi malam ada tahlilan, tetapi aku tidak tahu bahwa itu dilakukan karena kematiannya. Sementara anaknya selamat, ia meneruskan kehidupan di dunia yang lain. Ketika mendengarnya, aku seolah kosong.
 
Ingat pula ketika kakekku meninggal di mana sebelumnya selama dua minggu lebih aku menungguinya di ICU. Penyakit paru-paru dan ditambah penyakit tua. Setiap hari hanya mengamati kondisi yang tidak berubah, ventilator, selang, infus, suntikan, dan obat obat obat setiap hari. Bersama bapak, seakan-akan kemi memperjuangkan hidup kakek, dengan segala uang dan kesempatan yang ada, bolak-balik ke laboratorium untuk mengecek kimia-kimia yang aku tidak paham maknanya, bolak-balik pula melihat pasien keluar-masuk dalam keadaan hidup, tapi keluar mati.
 
Beberapa bulan kemudian, koran Minggu pagi disodorkan kepadaku oleh bapak. Baca cerpen yang ada di situ. Alkisah seorang anak yang mengejar karier ke luar negeri. Sayang, ayahnya tiba-tiba masuk rumah sakit dan diprediksi tidak akan selamat. Ia berada dalam dilema besar antara pergi atau tetap tinggal, tetapi dalam kebingungannya, ia ditakdirkan mati lebih dulu daripada ayahnya. Pada hari pemakamannya, ayahnya pulang ke rumah sambil bertanya-tanya, siapa yang mati.
***
Ingat lagi ketika pulang sekolah ketika hari menjelang maghrib. Naiklah seorang nenek ke dalam angkot dan dia kemudian mengenali seorang kakek yang ternyata merupakan temannya. Mereka bertukar kabar dan sampailah pada berita kematian seorang teman mereka dan ada satu kalimat yang sampai saat ini terus kuingat, “… (dia) sudah pulang duluan…“, dan terus saja aku mengamati wajah rentanya sampai aku sendiri turun dari angkutan.
Dan sampai saat ini, aku masih kepikiran, bagaimana kematian bisa dinanti dengan sedemikian tenang, seakan-akan orang tersebut sedang berada di antrean naik pesawat terbang? Kini, otak psikologiku bekerja, bagaimana menerima kematian diri sendiri secara legawa? Ini pertanyaan besar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s