Becoming Mom and Dad

Original post: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/226/Seri-Keluarga-Bag.-1-Becoming-Mom-and-Dad

Apr 15, ’11 7:38 AM

Apa yang kulakukan sekarang? Membantu penelitian dosen, menerjemahkan beberapa data kuesioner ke dalam bahasa Inggris. Ngomong-ngomong di kampusku mau ada One Day Workshop with Prof. Kim Ui-Chol dari Korea. Kira-kira topiknya nanti tentang bagaimana menjalankan penelitian dalam psikologi keluarga berbasis indegenous psychology.
Kuesioner ini sepertinya tentang hubungan anak dan orangtua. Aku tidak tahu pastinya karena yang disodorkan padaku hanya data yang sudah diinput. Susahnya menerjemahkan kalimat-kalimat yang ada. Kebiasaan orang-orang nulis tanpa memperhatikan SPOK, aku jadi menebak-nebak ini siapa subjeknya, kok kata kerja tidak ada objeknya, dan kalimat bertingkat yang tidak tepat. Whatever lah…
Ada yang kucermati dari jawaban orang-orang ini. Kita semua juga pasti paham ini bahwa kehidupan keluarga sangat luar biasa, pada satu sisi begitu manis, pada sisi yang lain terasa pahit. Ada kasih sayang, juga ada duka. Pada satu hari asyik mengobrol, pada hari yang lain bertengkar hebat. Dan tentang hubungan anak dan orangtua, tidak semua orang menjalaninya dengan mulus, bukan? Walaupun demikian, tetap saja ada yang indah. Kita jadi mengesampingkan harapan kita tentang keluarga ideal. Kita merasa puas dengan apa yang ada di hadapan kita.
Mungkin sebagian di antara kita belum menikah. Jadi, aku mau berbagi sedikit tentang apa yang kupelajari dari kelas Psikologi Keluarga yang kumasuki (lagi) tahun ini.
Kalau kita suka mengeluhkan ibu dan bapak kita, sebaiknya mulai sekarang berpikir dulu sebelum mulai mengeluh. Keluhan itu wajar ketika kita dihadapkan pada pengasuhan dan didikan yang buruk dari orangtua, namun pada dasarnya kita semua dapat memilih mau memilih mengeluh atau tidak.
Sama seperti yang diungkapkan dalam kuesioner kusebut di atas, banyak cerita yang disampaikan di kelas dan yang kudengar sendiri dari teman-teman yang curhat. Aku tidak pernah merasa senyata ini bahwa anak-anak korban cerai ada di mana-mana. Anak-anak yang menjadi korban kekerasan fisik ada di sekitarku. Anak-anak yang diabaikan, mungkin tidak secara fisik, tetapi secara psikologis, ketika orangtua tidak “mendengarkan” apa yang anak-anak mereka katakan tentang pikiran, perasaan, dan keinginan mereka, tetapi malah menimpakan berbagai keinginan yang tidak dapat dipahami dan dipenuhi oleh anak.
Ini seperti kenyataan yang terlanjur terjadi. Anak-anak itu boleh memilih membenci dan terkena gangguan psikologis. Sebagian menjadi delikuen, depresi, atau hancur luar dalam. Tetapi kedewasaan pasti mengajarkan bahwa kita ini manusia yang bebas berkehendak sehingga penerimaan dan pemaafan atas apa yang terjadi di masa lalu dapat menjadi pilihan hidup. Hidup yang lebih baik, sehat dan sejahtera selalu dapat dimulai pada kapan saja dan di mana saja.
Aku sering bertanya-tanya, apa kata agama untuk permasalahan keluarga macam ini? Kita diminta untuk selalu berbuat baik pada orangtua, tetapi bagaimana kalau orangtua memang tidak berbuat baik pada kita? Bagaimana, bagaimana, bagaimana? Kita tidak akan mempermasalahkan perintah agama yang sudah jelas, tetapi aku pribadi memikirkan apa yang terjadi dalam diri para pelaku sandiwara keluarga ini. Bagaimana secara psikologis mereka semua bertahan sebagai keluarga dengan masalah yang pergi dan datang lagi?
Bagaimana?
Teringat perakapanku dengan beberapa teman yang sedihnya pernah mengalami masalah-masalah di atas. Bagaimana perasaanmu? Ya sedih, membenci orangtua, tidak peduli, tidak mau bertemu. Sampai sekarang? Ya, aku ngumpet saja. Aku mengunci diri di kamar. Lalu bagaimana kamu sekarang? Biarkan saja semua itu berlalu, aku punya hidupku sendiri sekarang. Aku yang ngatur diriku sendiri.
Nah, bayangkan, pikirkan kemungkinan terjadinya masalah itu sebelum menjadi orangtua. Mungkin, kita akan belajar memprioritaskan upaya penyembuhan pada diri kita yang terlanjur menerima kepahitan dalam keluarga dan berhenti mengeluh dari sekarang. Kita tidak mau tiba giliran anak-anak dalam keluarga kita yang mengeluhkan tentang cara kita menjadi orangtua, bukan? Kita tidak mau rantai kesedihan dalam keluarga sambung-menyambung sampai entah kapan karena ada kecenderungan anak akan meniru perbuatan orangtuanya.
Setiap orang wajib belajar cara menjadi orangtua yang baik. Kalau belum menjadi orangtua, setidaknya menjadi orang dewasa yang baik. Kalau kita belum menjadi orang dewasa, setidaknya pula menjadi remaja atau pemuda yang baik. Memang berat, tetapi itu tak pernah ada ruginya. Itulah salah satu langkah menciptakan masa depan yang baik, dimulai dari diri sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s