Deathly Trip: Semarang-Malang Pergi-Pulang

Sebelum bepergian, baik jarak dekat atau jauh, ingatlah untuk membaca doa. Bismillahi tawakkaltu alallah. La hawla walaquwwata illa billah. Di perjalanan, benar-benar Allah-lah tempat bergantung. Tidak hanya di perjalanan saja, di semua tempat, iya. Tapi, kali ini, ceritaku khusus tentang sebuah perjalanan yang mengerikan.
***
Awalnya, karena sakit hati, aku berencana tidak akan mengikuti seminar internasional dan nasional psikologi Islami di Malang. Motivasi utamaku adalah dengan diterimanya makalahku, aku akan bersemangat, dengan cara apapun, berusaha sampai ke Malang. Tapi, apa boleh buat? Makalah tidak diterima. Tapi, pada minggu terakhir, gara-gara ikut kelas intensif psikologi Islami di kampus, aku ingin sekali bertemu dengan lebih banyak ahli dan mengetahui isi kepala mereka. Walaupun demikian, tekad utamaku adalah melihat sosok Malik B. Badri, pioneer psikologi Islami, seorang guru besar dari Sudan.
Cukup membuat keluarga repot ketika aku memutuskan untuk pergi ke Malang. Pertama, aku tidak pernah pergi jauh sendirian. Kedua, bapak dan ibu tidak setuju aku berangkat naik bus bareng teman-teman, melainkan naik travel yang katanya lebih aman. Ketiga, aku menjalankan misi bertemu saudara di Malang.
Akhirnya, aku naik travel. Aku berharap aku tidak kapok, tetapi sulit. Aku berharap perjalanan dengan travel menyenangkan dan aku bisa menjadi penumpang yang baik, yang bisa menikmati indahnya perjalanan keluar kota, tetapi… rasanya mau mati saja naik travel malam yang ngebut sepanjang jalan!
Perjalanan Pergi
Travel terlambat, pukul 22.30 baru berangkat. Aku sudah cemas akan terlambat datang seminar pukul 10.00 keesokan harinya. Ketika akhirnya aku naik, dua jam pertama aku masih senyum-senyum karena senang bisa mendapatkan pengalaman mengasyikkan ini. Tapi, setelah melewati kota Salatiga, mulailah perjalanan dalam kegelapan malam, melewati jalanan tanpa lampu dan berlubang-lubang. Aku merasa aku sedang melewati areal persawahan karena sejauh mata memandang yang ada hanyalah titik-titik lampu di kejauhan.
Aku berusaha tidur karena merasa sudah cukup melihat-lihat pemandangan malam, tapi sayangnya tidak bisa. Pak supir mulai ngebut dan wuz wuz wuz, apa saja disalip dan beberapa kali mobil dari arah yang berlawanan memberikan sinyal lampu yang kuartikan “Hey, jangan ngebut! Jangan nyalip-nyalip sembarangan! Lihat rambu-rambu! Jangan menerjang lubang di jalan! Kasian penumpangmu T.T
Aku ketakutan karena sebelumnya tidak pernah bepergian dengan cara seperti ini. Beberapa kali ketika terkantuk-kantuk, ketika mataku terbuka, yang di hadapanku adalah mobil travel yang hampir menyenggol mobil lain. Aku duduk di depan, jadi melihat kejadian nyaris tabrakan itu beberapa kali. Aku tidak bisa memejamkan mata karena deg-degan khawatir kecelakaan. Aku berpegangan pada pegangan pintu erat-erat. Sementara itu, aku dalam hati bertanya-tanya, mengapa bisa penumpang di sebelahku asyik tidur, mengapa pak supir bisa asyik makan dan minum, telepon-teleponan, dan merokok sepanjang perjalanan ini?
Seperti inikah perjalanan dengan travel?
Namun, di waktu subuh, ketika aku melewati daerah Batu, Malang, kekhawatiranku mereda. Pak supir mulai memelankan laju mobil dan aku bisa menikmati pemandangan subuh yang indah sekali di waktu malam. Namun (ada namunnya lagi), pak supir mulai menelepon perusahaannya dan mengatakan kalau salah satu bagian mobilnya ada yang rusak. What? Pak, antarkan saya sampai selamat ke rumah saudara saya!
Perjalanan Pulang
Setelah seharian mengikuti seminar, bercengkrama dengan saudara, dan menikmati istirahat malam yang sangat lelap (berhubung malam sebelumnya tidak tidur), aku akan kembali pulang pada pagi hari ke-2. Aku kepikiran teman-temanku yang sudah pulang dengan bus malam, tetapi aku berencana naik bus siang karena ingin melihat pemandangan. Akhirnya, tidak jadi naik bus karena faktor kekurangpengalamanku dan aku memutuskan naik travel lagi.
Travel dengan ciri-ciri yang sama, mobil berbentuk kotak. Aku penumpang pertama yang dijemput, berbeda dengan travel berangkat di mana aku penumpang terakhir yang dijemput. Aku duduk di depan.
Baru jalan lima menit, berbeda dengan supir pertama yang diam saja sepanjang jalan Semarang-Malang, supir yang kali ini mengajak bicara dan kupikir, ini asyik. Aku punya teman bicara di jalan.
Tapi, pembicaraan pertama pak supir adalah: 1) Saya baru pagi ini sampai Malang, dari Semarang. 2) Apakah AC-nya dingin? Kujawab tidak, biasa saja. Bapaknya berpikir, berarti saya yang sakit. What?! Aku bayangkan perjalanan delapan jam bersama supir yang mengatakan dirinya sakit, bersama supir yang baru saja sampai dan lalu pergi lagi. Betapa riskannya!
Si bapak bilang sakit, tetapi tidak nampak tanda-tanda sakitnya secara jelas. Wajahnya memang terlihat capek, tapi sejauh ini oke-oke saja dan aku bisa menjadi penumpang yang baik, yang menikmati perjalanan sambil melihat-lihat dan mengambil gambar. Inilah Jawa Timur. Aku berharap bisa tidur. Sekilas aku melihat penumpang yang lain yang dijemput di daerah Batu dan Kediri, semuanya tertidur.
Apakah aku bisa tidur? Ternyata tidak! Selepas Caruban, setelah istirahat, pak supir terlihat sudah melepas jaketnya. Aku lega, oh, berarti sudah sehat. Tetapi… belum 15 menit melaju… Mobil yang biasanya ngebut ini (sama parahnya seperti travel pertama, bahkan hampir nabrak ayam dan orang), tiba-tiba melambat di jalan sepi. Aku lihat si bapak dan aku ngeri. Si bapak nyetir sambil merem.
Begitulah keadaanku… perjalanan dari Caruban sampai Semarang bersama supir yang ngantuk berat. Aku tidak lagi menjadi penumpang, tetapi pengawas supir ngantuk, secara sebagai penumpang, aku duduk di depan sendiri. Takut-takut aku melihat supir yang matanya terbuka cuma separo dan merah itu, khawatir si bapak nyetir sambil tidur lagi.
Sepanjang jalan aku berpikir keras bagaimana caranya menbuat supir ini melek, setidaknya sampai aku turun nanti. Aku merasa canggung mengajak orang mengantuk mengobrol, karena aku tidak punya bahan pembicaraan kecuali mengomentari kejadian-kejadian dan pemandangan di jalan. Aku bersyukur sekali ketika si bapak ditelepon temannya. Dalam hati aku berkata, telepon-teleponan saja, Pak. Lama tidak apa-apa, yang penting tetap sadar. Aku bersyukur ketika ada kejadian nyaris kecelakaan di jalan, setidaknya si bapak jadi waspada sebentar, meskipun setelah itu ngantuk lagi.
Aku merasa aneh, sepanjang jalan ada rokok, si bapak tidak merokok. Dia bahkan tidak mempersiapkan minuman. Untuk isi solar pun harus dengan secara sembunyi-sembunyi kuingatkan. Ketika itu, karena khawatir dengan meteran bahan bakar yang sudah kosong dan si bapak masih terus jalan saja, nekad, aku bilang mau turun di pom bensin, padahal aku baik-baik saja. Aku cuma ingin si bapak turun dari mobil sebentar dan menyegarkan diri dengan cuci muka atau apa. Setelah itu, aku menawari si bapak biskuitku. Aku tahu, makan bisa mengatasi ngantuk. Makan saja semuanya tidak apa-apa, Pak. Dan si bapak senyum-senyum saja.
Kupikir, supir ngantuk ini tidak punya inisiatif untuk berusaha membuat dirinya bangun. Aku jadi teringat supir pertama yang makan, minum, merokok, dan telepon-teleponan sepanjang jalan… Aku tidak bisa kesal lagi pada supir ini.
Oh, begini ya rasanya jadi supir travel. Jika dengan makan, minum, merokok, dan bertelepon ria bapak bisa tidak mengantuk dan tetap hati-hati ngebut di jalan, IT’S OKAY! Setidaknya, bapak tidak membuat penumpang beralih fungsi menjadi pengawas supir.
Sepanjang jalan, dari pukul 08.00 sampai 17.30… lagi-lagi tidak bisa tidur. Aku kepikiran teman-teman yang naik bus dan perbincangan dengan saudaraku hari sebelumnya. Kayaknya lebih enak naik bus kalau begini. “Tapi seram Kak, kalau bus yang kecelakaan… Lebih gawat mana?” katanya. Aku tidak mau duduk di depan lagi. Di belakang saja. “Bagaimana kalau travelnya diseruduk kendaraan lain dari belakang atau disenggol dari samping?
Jadi, kalau pergi-pergi enaknya naik apa??? Naik bus itu memang supirnya mungkin lebih siap dan beberapa ada cadangannya, cuma perjalanan di jalan itu yang tidak pasti. Naik travel itu memang bisa antar-jemput dan lebih cepat, tapi itu dia… supirnya sering kayak begitu. Itulah kesimpulan dari pembicaraan di rumah setelah panjang lebar aku mengeluhkan deathly trip Semarang-Malang  pergi dan pulangnya.
Tapi, naik apa saja memang kemungkinan selamat atau celakanya, itu perkara gaib. Aduh, masa bodoh ah dengan perhitungan seperti itu. Selamat ya selamat, kalau mati ya mati. Benar jika kita sudah mempercayakan diri pada kendaraan dan supirnya sebaiknya ingat… dengan menyebut nama Allah aku bertawakkal, tiada daya upaya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Kupikir, inilah obat kecemasanku. Kalau aku mati di perjalanan ini, matikan aku dalam keadaan ingat kepada-Mu…
***
Hehe… enaknya sih kalau naik kendaraan yang disetir oleh orang yang beriman dan bertakwa: Di jalan ia patuh rambu-rambu dan hati-hati karena sadar tanggung jawabnya, mengutamakan keselamatan dan kesejahteraan psikologis penumpang, waktunya shalat ya shalat, dan setidaknya memulai perjalanan dengan doa mohon keselamatan kepada Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s