Diari Skripsi (Seharusnya) Bag. 7: Dicari! Si “Keranjang Sampah”

Apr 14, ’11 11:26 PM
Selama menjalani skripsi, banyak sekali yang kita keluhkan. Meskipun banyak diam, tapi hati ini grudak-gruduk berkeluh kesah. Bunyinya bagaimana, dengarkan sendiri ya. Kali ini, aku tidak ingin bercerita tentang mengeluh yang ini. Ada sebuah aktivitas mengeluh yang mau tidak mau menjadi “sebaiknya dilakukan” jika kita kelewat stres.
Nah, untuk sementara ini, kesampingkan dulu bahwa mengeluh adalah tindakan yang bisa mengundang celaan. Be human! Mengeluh itu tindakan yang sangat manusiawi. Dengan mengeluh, sebagian masalah kita dapat tersampaikan dan respon yang diberikan orang yang mendengarkan keluhan dapat sangat membantu kita dalam menyelesaikan masalah.
***
Aneh bukan? Tapi ini benar.  Mengeluh adalah salah satu proses yang kita lakukan ketika melakukan penelitian. Aku mengambil contoh pada metodologi penelitian fenomenologis. Keberadaan peer debriefer sebagai bagian dari proses verifikasi data tidak hanya berperan agar kita punya kesempatan memperlihatkan hasil penelitian kita untuk dimintai pendapat, tetapi juga agar kita berkesempatan untuk “didengarkan”.
Penelitian itu stresnya banyak, lho. Ketika bimbingan sering kita selalu mendengar wajangan-wejangan dosen pembimbing. Ketika ke perpustakaan sering pula kita bingung mendengarkan “kata-kata” buku. Ketika mengambil data, yang terjadi bisa beberapa hari mendengarkan cerita subjek penelitian. Ketika mulai menganalisis data, ratusan jam bisa kita lakukan untuk mendengarkan rekaman wawancara untuk dibuat transkripsi.
Di rumah, kita mendengarkan desakan orangtua, “Kapan lulus? Kapan lulus?” Bersama teman, kita mendengarkan, “Kamu sudah sampai mana? Dia sudah mau sidang, lho?” Di toko atau di tempat fotokopian, kita mendengarkan si pramuniaga berkata, “Semua harganya sekian…” Ketika melihat jam, kita seolah-olah mendengar waktu yang berkata, “Cepat, cepat… ayo kerjakan skripsi!” Kita melihat foto orangtua kita di dalam dompet, “Nak, cepat lulus…
Belum lagi kalau kita yang mendengarkan diri kita sendiri yang merutuk-rutuk dalam self-talk… “Aku bodoh, gini aja nggak tahu. Aku nggak berani ngehadepin dosen, ibunya kayaknya lagi suntuk. Aku nggak bisa ngapa-ngapain sekarang, nggak maju-maju. Payah ih…
Aku streeeeesss!!! Capek mendengarkan semua itu!!!
Nah, kalau sudah stres yang seperti itu kita butuh mengeluh yang sehat dengan memanfaatkan keberadaan teman-teman kita. Peer debriefer. Anggap saja peer debriefer adalah sahabat akrab kita yang memang sudah menyediakan diri untuk menjadi “keranjang sampah” kita dan kita pun sudah menyediakan diri untuk menjadi “keranjang sampah”-nya.
 
Ketika kita mengeluarkan suara yang berisikan kalimat-kalimat “tanda ada masalah”, itulah keluhan yang tersuarakan. Begitulah… Tekanan pada beberapa penelitian terkadang terasa begitu berat dan tak bisa ditanggung sendirian oleh penelitinya. Masalah yang dihadapi tidak hanya persoalan teknis pengerjaan skripsi, tetapi juga masalah psikologis. Stres karena target dan tuntutan penelitian yang bertumpuk perlu kita keluarkan, kita suarakan, agar kita didengarkan untuk kemudian mendapatkan sambutan dari pendengar.
Sering yang kita butuhkan bukanlah masukan itu sendiri, tetapi hanyalah telinga yang mau mendengarkan masalah kita. Dan inilah gunanya teman.
Teman yang ketika ia bertanya, “Sudah bab berapa?” untuk membantu mengecek kemajuan kita dan kita jawab, “Baru bab…“, lalu ia berseru, “SEMANGAT! Insya Allah lancar!“.
Teman yang sedang tenang-tenang saja lalu kita datangi untuk jadi tempat bertanya, “Tahu nggak cara…” atau “Aku nggak paham ini...” dia menjawab, “O… begini caranya” atau “O… ini maksudnya begini...”
Teman yang kita datangi sambil nangis-nangis, dia memeluk dan mengelus punggung kita sambil berkata, “It’s okay. Everything will be alright!“.
Teman yang ketika kita muram, dia tersenyum menguatkan…
***
Pada intinya, kusimpulkan bahwa sekalipun skripsi adalah tugas individual terakhir kita sebagai mahasiswa, pada dasarnya ia bukanlah tugas yang benar-benar individual. Ada nuansa kolektivistik di situ.
Inilah seninya mengerjakan skripsi. Peran teman tidak lagi sama seperti ketika kita kerja kelompok dulu. Misal dalam membuat makalah, ada yang rajin, ada yang cuma numpang nama. Ada yang aktif sekali, ada yang santai-santai saja.
Peran teman berubah drastis, mulai dari hanya menjadi pengamat sampai pemberi kritik pedas atas proses penelitian kita. Ada yang membantu dengan memberikan dukungan sosial seperti biasa, ada yang sangat-sangat membantu di saat-saat kita terjepit dalam situasi pelik. Ada yang hanya menyemangati kita dari jauh, ada yang bersedia mendukung kita sampai detik-detik terakhir persidangan, menghadiri wisuda kita, dan merayakan kelulusan kita. 
Ow, indah sekali ya? “Ayo semangat! Kita lulus sama-sama ya!”  <^^/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s