Fikih Prioritas

Sebelum buku ini dikembalikan pada pemiliknya, ingin aku mencatat isinya yang berharga dan membaginya dengan teman-teman. Mungkin beberapa dari kalian pernah membacanya. Nah, bagi yang belum, aku mau promosi, nih. Bacalah buku ini karena isinya sangat bermanfaat. Karya Dr.Yusuf Qardhawi ini adalah salah satu yang menjadi favoritku.
Ada cerita panjang di balik buku ini. Aku bersyukur diberik kesempatan untuk membacanya dan sangat berterima kasih pada seniorku yang merekomendasikannya. Buku ini adalah jawaban bagi kekisruhan dalam pikiran, diri, dan kehidupanku sehari-hari. Aku sering tidak tahu mana yang sebaiknya kuprioritaskan. Okelah kalau itu soal-soal yang sekular, tetapi akan jadi masalah besar jika masalah sekular ada kaitannya dengan amal ibadah, apalagi yang berhubungan dengan kepentingan orang banyak.
 
Sebagai contoh, dulu, di awal tahun ajaran baru, selalu saja ada kisruh pembagian dana untuk Unit Pelaksana Kegiatan (UPK) di kampus. Entah mengapa ada “perang” diam-diam antara organisasi keislaman (sebut saja OI) dengan yang bukan. Si OI ini berusaha memenangkan sebanyak mungkin dana dengan alasan untuk dakwah dan bukan untuk hura-hura, tetapi jika melihat ekspresi teman-teman organisasi lain yang misuh-misuh, aku seperti bisa menebak isi pikiran mereka. Masalah ini pernah sampai ke telinga dosen, dan begitulah… Sampai hari ini, acara-acara dakwah lebih sering sepi pengunjung. Terlepas dari itu adalah ketetapan Allah, mungkin saja ada masalah di atas memberi pengaruh.
 
Contoh yang lain. Beberapa waktu yang lalu, pernah terjadi syuro yang sangat penuh amarah dan akhirnya aku memutuskan walk out. Masalahnya cuma karena ketidaksukaan teman-teman pada seorang teman yang selama ini tidak pernah aktif, tetapi pada syuro itu ia seperti “sadar” dan mengajukan diri menjadi ketua panitia suatu acara (orang A). Sebenarnya, teman-teman sudah punya calon lain yang lebih mumpuni, tetapi sayangnya tidak hadir (orang B). Dan aku jijik lihat ekspresi mereka sebenarnya ingin orang B, tetapi tidak enak menolak orang A. 
 
Lalu, datang mbak senior. Begitu duduk, tanpa babibu, ia memarahi si A dan akhirnya dua orang itu bertengkar di dalam syuro. Kupikir, si A memang pernah salah, tetapi tidak seharusnya dia diperlakukan seperti ini. Aku memikirkan organisasi yang krisis kader ini dan bisa dipastikan, setelah mengalami semua ini, si A tidak akan menampakkan batang hidungnya lagi. Benar saja. Dalam satu tahun dia DO dan kupikir, sebenarnya, mungkin dia ingin mendapatkan teman yang bisa memberi dukungan baginya.
 
Contoh lain lagi. Ini sering terjadi dalam syuro yang dihadiri berbagai macam orang dengan pandangan agama yang berbeda. Syuro tinggal membahas satu poin dan rasanya itu akan cepat selesai karena itu poin terakhir yang simpel. Tiba-tiba adzan dhuhur berkumandang… Allahu akbar… Pemimpin syuro menanyakan, mau lanjut atau stop dulu. Banyak peserta yang ingin lanjut, karena itu poin terakhir. Jika itu selesai, shalat akan tenang dan bisa langsung makan siang. Tapi, ada satu peserta yang tidak setuju dan minta agar shalat saja. Dia bahkan berargumentasi dengan hadist. 
 
Akhirnya, ada peserta lain yang setuju usulan pertama, juga berargumentasi dengan hadist yang lain juga. Ribut? Iya. Akhirnya, habis waktu 15 menit untuk membahas lanjut atau stop. Keputusan akhirnya adalah stop dan kupikir itu agar peserta yang satu ini diam. Dan ternyata… Dia memilih stop karena setelah istirahat dia harus pulang ke kotanya. Heh, kenapa tidak bilang dari awal kalau kamu punya alasan itu? Kamu ini bikin orang ribut dan buang-buang tanpa ada artinya. 
 
Masalah-masalah di atas mungkin sederhana saja, ya. Saat ini pun, masalah di atas sudah selesai. Tetapi, tidak pernah tertutup kemungkinan bahwa semua itu akan terjadi lagi. Nah, untuk berjaga-jaga, sebaiknya kita perlu belajar fikih prioritas. Namanya prioritas, ya, urutan dibuat dari yang terpenting di antara banyak hal penting lainnya. Dan, ada prinsipnya, yaitu utamakan ketiadaan mudharat (yang besar) dan perhatikan situasi dan kondisi karena hal tersebut dapat mengubah sifat keutamaan amal.
 
Prioritaskan kualitas daripada kuantitas. Lebih baik sedikit, tetapi berkualitas, daripada banyak tetapi tidak bisa diandalkan. Kunci sukses adalah keimanan dan kehendak yang kuat, bukan jumlah dan banyaknya orang, apalagi banyaknya harta. Lebih utama cerdas akal dan bersih hati daripada besar badan dan apik penampilan.
 
Prioritaskan ilmu daripada amal. Ilmu datang mendahului amal dan ia adalah acuan dan penunjuk amal perbuatan. Ilmu itu pemimpin, sedangkan amal adalah pengikutnya. Orang yang tahu ilmunya, dia akan beramal dengan sebaik-baiknya. Utamakan pemahaman agama di atas pemahaman ilmu pengetahuan. Utamakan belajar dulu sebelum melakukan pekerjaan. Dan, permudahlah orang dalam belajar, gembirakan dia dan jangan membuatnya takut dan lari.
 
Prioritaskan pemahaman daripada menghafal. Prioritaskan yang pokok daripada yang cabang. Prioritaskan ijtihad daripada taklid (buta). Prioritaskan studi dan perencanaan dalam persoalan dunia. 
 
Ketika mengajarkan atau mendakwahkan sesuatu (terutama ke orang yang belum tahu…) Meringankan dan tidak memberatkan, memudahkan dan tidak mempersulit. Aisyah berkata, “Tidaklah dipilih oleh Rasulullah saw antara dua perkara kecuali yang paling mudah selagi tidak berdosa. Maka jika berdosa, beliaulah orang yang paling jauh darinya.” Utamakan proses bertahap daripada perubahan drastis dan tergesa-gesa.
 
Prioritas dalam beramal. Prioritaskan amal yang tetap, senantiasa ditekuni dan dijalankan secara terus-menerus walaupun sedikit, daripada yang besar, berat, atau banyak tapi terputus-putus. Rasul bersabda, “Kerjakan amal sesuai kemampuan, sesungguhnya Allah tidak bosan sehingga kamu bosan.” Dan jangan memberat-beratkan diri. Dahulukan amal yang lebih banyak, besar, luas, dan langgeng manfaatnya. Utamakan amalan hati dan batin (cinta kebaikan, niat yang lurus, takwa hati, dan ikhlas) daripada amalan fisik
 
Prioritas dalam bidang yang diperintahkan antara pokok dan cabang. Prioritaskan ibadah fardhu (fardhu ‘ain daripada fardhu kifayah) daripada ibadah sunnah. Prioritaskan fardhu ‘ain yang berhubungan dengan hak-hak manusia atas hak-hak Allah. Prioritaskan fardhu yang berhubungan dengan hak-hak orang banyak atas hak-hak perorangan. Prioritaskan loyalitas terhadap masyarakat atas fanatisme suku, kelompok, keluarga, dan perorangan. 
 
***
Apa yang tertulis di atas adalah sebagian catatanku dari buku Fikih Prioritas. Ada beberapa lagi, tetapi akan kulanjutkan di tulisan selanjutnya. Semangat semua!
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s