Hari Ini Adikku Sekolah

Original post: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/229/Hari-Ini-Adikku-Sekolah

Apr 18, ’11 8:55 AM

Lagi-lagi, hari ini adalah hari bersejarah, bagi keluargaku. Masih berhubungan dengan sekolah. Adikku yang paling kecil hari ini masuk sekolah. TK sebetulnya baru masuk, kalau tidak salah Juli nanti. Tapi, karena dia sudah semangat dan suka sekali dengan sekolah sejak hari pendaftarannya, dia minta sekolah cepat-cepat. Sebelum masuk TK Nol Kecil, dia masuk PAUD dulu.
Aku tidak tahu, tapi sepertinya mana ada anak kecil yang tahu apa itu sekolah pada hari pertama ia masuk sekolah? Misalnya saja, ketika ibuku membujuk dia untuk mencoba baju TK-nya, dia tidak suka. Ibuku bilang, mau sekolah tidak? Dia langsung jawab, tidak! Dasar. Ada lagi. Mulai hari ini akhirnya dia tidak akan nonton TV di pagi hari, belajar bangun pagi (yang ini sudah dari dulu, sih), belajar makan pagi (ini agak susah), dan belajar mandi pagi (aha, ini dia suka karena pada dasarnya dia suka main air). 
 
Kita sekeluarga juga jadi menyesuaikan diri dengan jadwal baru: siapa yang mengantar dia, siapa yang menjemput dia, apa makanan kecilnya hari ini, dan seberapa banyak minumannya. Dan, jangan lupa berpesan pada bu guru agar di waktu istirahat agar adik di bawa ke kamar kecil karena dia belum bisa buang air sendiri.
 
Menjelang keberangkatan, aku mengambil fotonya. Kupikir, dia lucu sekali dengan seragam warna ungunya yang kebesaran. Aku suruh dia diam berpose, tetapi dia malah lari-lari. Ketika dia diam, dia malah usil mengedip-ngedipkan matanya, mengusiliku. Akhirnya, jadinya aku malah yang kena marah karena memang kami harus buru-buru pergi dan stop foto-fotonya.
 
Sampai di TK, kami datang terlalu pagi. Untung ada bu guru yang langsung menanganinya. Bu guru mengira aku ibunya. Eh, dia adikku. Lalu dia bilang kalau adik anaknya PD. Benar saja, hari pertama pendaftaran langsung main ke kelas TK Nol Besar dan ikut belajar shalat dengan anak-anak yang lebih tua. Dalam hati, aku merasa lega sedikit. Berarti dia bisa ditinggal, di hari pertama. Waktu aku tanya ke dia sendiri, “Nanti kakak pulang, ya,”, dia menjawab, “Oke! Aku pemberani“. Tapi, itu tidak bertahan lebih dari satu menit karena dia langsung bilang, “Kakak di sini saja.” Hehe, anak ini memang pemberani atau “pemberani”?
 
Setelah seluruh anak dibariskan, aku pamit pulang. Aku menyalaminya dan mencium pipinya. Sembari menunggu angkot pulang di seberang jalan, aku melihat dia yang menatapku dari jauh dengan roman muka yang seperti itu. Hancur hatiku! Aku menyemangatinya dari jauh sambil mengepalkan tangan, “Semangat!”. Tidak mempan. Wajahnya masih begitu, kelihatan sedih sekali. 
 
Akhirnya, aku kembali ke TK, mendekatinya, dan menyemangatinya lagi. Barulah setelah itu ia tidak melihatku lagi, fokus pada instruksi bu guru. Tangan ke atas, tangan ke atas, dan seterusnya… Kupikir, ini sangat baru baginya. Dia harus berdiri bersama anak-anak yang lain selama 30 menit untuk pemanasan, sementara biasanya, kalau tidak nonton TV di rumah, kami jalan-jalan naik sepeda melihat lahan perkebunan dan gunung, kelinci atau ikan lele punya tetangga. Kadang menyapu halaman bersama atau membaca koran pagi. 
 
He, kaku sekali gerakannya dan tidak ada senyum. Ke mana keceriaannya pagi tadi? Jangan-jangan dia mulai sadar situasinya. Ya, ini sekolah, beda dari rumah. Kalau di rumah, adik bisa bilang “Tidak tidak tidak” sesuka hati, di sini harus nurut sama bu guru. 
 
Kalau di rumah adik boleh main-main, main air, main tanah, main cangkul-cangkulan, main ampas kelapa, atau ikut bakar sampah, di sini adik belajar kebersihan, cuci tangan, dan buang air di kamar mandi. 
 
Kalau di rumah adik boleh berbuat usil apa saja, main gajah-gajah, menjambak rambut dengan baling-baling helikopter plastik, menendang oven sampai kacanya pecah, membunuh kaki seribu, bikin rumah berantakan dengan mainan “rongsok”, di sini adik belajar mematuhi aturan, menjaga barang-barang (sendiri), menghargai binatang, dan hormat pada orang lain. 
 
Kalau di rumah adik boleh belajar baca Iqro’ sambil makan permen dan dengan suara semut, di sini suara adik harus keras dan serius.
 
Kalau di rumah adik boleh sesuka hati bilang “Ini milikku” untuk semua barang, di sini adik belajar berbagi dengan teman dan tahu bahwa tidak semua barang adalah punya adik.
 
Huhu… aku pamit untuk kedua kalinya. Dia sudah masuk, aku berharap dia keluar sebentar. Benar, dia keluar dan aku memanggilnya, “Balya, sini. Kakak mau bisik-bisik…“. Aku menangkap tangannya dan mendekatkan mulut ke telinganya. “Hari ini Balya sekolah, nanti main sama bu guru dan teman-teman. Baik-baik ya. Kakak pulang. Semangat!” 
 
Dia tidak merespon yang seharusnya. Rupanya dia keluar untuk mencari tasnya. Aku cium pipinya lagi dan dah… Yah, masih kecil, tapi aku tahu, begitulah kebiasaan dia menutupi kesedihan, yaitu dengan diam saja dan tidak menatap mata yang mengajak bicara.
 
Aku pulang dengan kesedihanku sendiri. Nggak bisa main di pagi hari lagi, deh... Dalam beberapa waktu, mungkin, bahkan, tidak bisa bertemu dia lagi. Aku memalingkan muka dari melihat halaman TK yang mulai sepi ditinggal masuk kelas guru dan siswa, ditinggal pergi ibu-ibu yang mengantar anaknya. Hehe… mau nangis. Sekarang nulis ini, masih mau nangis juga. Senang rasanya, tapi… begitu. Aku bersama dia sejak panjangnya masih dua jengkal tanganku. Sekarang, dia sudah sekolah… sebentar lagi besar… tidak bisa menahan manusia untuk tidak tumbuh dan berkembang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s