Hati-Hati dengan Kesepian dan Ketiadaan Harapan

Apr 21, ’11 1:36 PM
Begitu log out dari inbox, langsung disambut dengan berita kematian seorang selebritis Korea. Katanya bukan bunuh diri, tetapi apapun penyebabnya, aku menandai “kesepian dan depresi” di situ. Bagaimana bisa? Manusia dapat hidup 40 hari tanpa makan, sekitar tiga hari tanpa air, sekitar delapan menit tanpa udara, tetapi hanya satu detik tanpa harapan…
 
***
Siapa yang tidak pernah merasa sepi atau tidak memiliki harapan? Kukira, semua orang pernah, tentu dengan kadarnya masing-masing. Tapi, bagaimana memahami fenomena yang sangat menusiawi ini, sementara yang satu terus berusaha menjalani hidup sementara yang lain memilih bunuh diri? Bagaimana rasanya kesepian? Bagaimana rasanya tidak memiliki harapan? Ini pertanyaan yang sulit dirumuskan jawabannya, mungkin, karena terlalu menyakitkan untuk dipikirkan.
 
Keberadaan rasa sepi mengukuhkan kenyataan bahwa kebersamaan adalah sebuah kebutuhan akan ketidakberpisahan. Ada sebuah paradoks yang terkenal bahwa banyak orang yang kesepian meskipun tidak sendirian. Itu artinya, yang dibutuhkan bukan sekadar keberadaan orang lain secara fisik, melainkan juga secara emosional yang dapat dirasakan melalui interaksi. Kita ingin menjadi bagian dari kehidupan manusia yang lain, bukan? Dalam hubungan tersebut, kita ingin dapat mengekspresikan diri sejujur mungkin tanpa merasa takut akan ditinggalkan. Kita ingin mendapatkan uluran tangan dan kita pun ingin dapat mengulurkan tangan kita, sehingga di situ ada makna hidup.
 
Kesepian juga dapat menjangkit secara eksistensial, terhadap keberadaan diri kita sendiri. Tidak ada orang lain yang menolak keberadaan kita dan kita dapat tersenyum cerah pada dunia, namun mengapa kita sendirilah yang tidak dapat menerima dan tersenyum pada diri sendiri? Apa yang belum kita nikmati sehingga kita terus merasa kurang dan membenci diri sehingga jika ketika kita berkaca, yang kita lihat seolah-olah adalah orang lain? Kita tenggelam dalam self-criticism yang mengecilkan diri… maka, di manakah penghiburan?
 
Apakah teman-teman tahu bahwa kesepian spiritual adalah yang paling mematikan? Tidak ada manusia yang menemani, bahkan yang ada adalah diri yang membenci diri sendiri… apa jadinya jika kita tidak beriman sehingga Allah lekat dalam ingatan di saat suka maupun duka?
Jika “tidak ada” Ia, maka siapa yang akan menghibur?
***
Kupikir, inilah yang membuatku menyukai Islam dan ingin ber-Islam dengan benar. Ketika dihadapkan pada berbagai permasalahan psikologis yang begitu panjang lebarnya dijelaskan oleh psikologi yang tak mengenal Tuhan, dengan berbagai macam terapi yang tidak dapat diingat dengan baik, dan belum pula dapat diterapkan kepada orang lain karena aku belum menjadi psikolog, aku dapat menemukan jawaban dalam kesabaran, kebersyukuran, ikhlas, dan terus mengingat Allah.
Ini kenyataan, seolah aku sedang melangkahi teori-teori itu menuju teori tertinggi yang tidak mengandung kesalahan.
 
Aku merasakan sebuah makna ketika berusaha memahami fitrah manusia yang ingin kembali dan mengembalikan segala masalah pada Sang Pemilik kenyataan dan kejadian… Ada suatu perasaan yang tidak terelakkan dan dari situ harapan kembali muncul. Hati ini menjadi tenang, sekalipun sebelumnya menangis dalam doa, lalu terbawa tidur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s