Hati-Hati dengan Prokrastinasi Akademik

Artikel ini ditujukan kepada diri sendiri dan orang-orang yang membutuhkannya.
***
Prokrastinasi akademik. Apakah teman-teman pernah dengan istilah tersebut? Mendengarnya mungkin ada belum ya, tetapi yang jelas, semua orang pernah, sadar atau tidak, melakukannya, dan menjadikannya kebiasaan.
Pernahkah teman-teman menunda-nunda menyelesaikan suatu pekerjaan, mengerjakan tugas, atau belajar sampai detik-detik terakhir menjelang ujian? Ketika itu semua terjadi, teman-teman merasa seperti tidak bisa berbuat apa-apa sebelum dekat dengan deadline-nya, seperti semangat baru ada jika keadaan sudah mendesak.
 
 
Mungkin teman-teman bertanya, memang ada apa dengan menunda-nunda sesuatu. Bagi sebagian orang, menunda sesuatu adalah sesuatu yang tak terelakkan karena ada penyebab yang bisa diterima akal sehat. Namun, prokrastinasi di sini adalah menunda-nunda dengan alasan yang irrasional dan mengada-ada, makanya jadi masalah (besar).
Siapa yang suka bekerja dan belajar dalam ketegangan, ketergesaan, dikejar deadline, atau diancam-ancam bos atau ketua panitia? Sekalipun pekerjaan selesai, siapa yang tidak stres berat atau cemas? Bagaimana bisa hasilnya sempurna? Bagaimana kalau gagal total? Bagaimana kalau muncul tugas atau masalah lain yang lebih gawat??? Tidak ada yang suka!
Orang yang melakukan prokrastinasi pasti tidak akan merasa baik-baik saja, sekalipun kelihatannya mereka tampak oke. Yeah, jangan sok cool. Situasi gawat, waktu mendesak, dan sempitnya kesempatan yang kita buat-buat sendiri, sekalipun kita dapat melewatinya, bukan sesuatu yang dapat dibanggakan. Jika situasi tersebut dipandang sebagai tantangan yang memicu adrenalin, menegangkan, dan menyenangkan, ini termasuk rasionalisasi yang salah kaprah.
 
Kita semua dapat disebut prokrastinator (pelaku prokrastinasi). Mudahnya, prokrastinasi terjadi ketika kita tahu bahwa kita seharusnya mengerjakan sesuatu dan ingin mengerjakannya, tetapi gagal memotivasi diri untuk melakukannya sesuai harapan atau dalam waktu yang ditentukan. Karena hal itulah, maka terjadi penundaan waktu mulai bekerja sampai dialami tekanan, kekecewaan, kecemasan, atau rasa bersalah karena kita tidak mengerjakannya lebih awal. 
 
Mengapa prokrastinasi bisa terjadi? 
Ada orang yang prokrastinasi karena merasa dirinya memang malas, tidak disiplin, dan tidak tahu caranya mengelola waktu. Menyalahkan kepribadian? Ya, dan lebih itu, berdasarkan suatu teori, prokrastinasi tidak hanya merupakan kebiasaan buruk, tetapi juga ekspresi keyakinan dan harga diri yang rentan. Hal tersebut terungkap jika orang ditanya, mengapa menunda pekerjaan, dan jawaban mereka: “Aku memang orangnya kayak gini (malas, tidak disiplin), nggak bisa diapa-apain lagi.
Prokrastinasi terjadi bukan hanya karena ketidaktahuan cara mengelola waktu. Banyak orang yang tahu caranya mengelola waktu, tetapi tetap saja prokrastinasi. Maka, ada teori yang menyimpulkan bahwa prokrastinasi ini adalah masalah motivasi. Ada sesuatu yang dicemaskan dan tidak ingin dihadapi: fear of failure, yang identik dengan keberadaan kecemasan bertindak, perfeksionisme, dan ketidakpercayaan diri. Ini seperti orang yang ingin mutiara tetapi tidak mau menyelam karena takut tenggelam dan gagal mendapatkan mutiara. Mereka duduk saja di tepi pantai menunggu ada orang yang mau menyelam.
Ketiadaan motivasi dapat terjadi karena tidak adanya “sense of purpose”. Mari tanyakan kepada diri, bagaimanakah tujuan-tujuan hidup ini kita jiwai?. Ada kecenderungan bahwa orang tidak proaktif mengejar tujuan hidupnya adalah karena ia tidak tahu mengapa ia hidup. Tujuan-tujuan yang dimilikinya kalau tidak tujuan hidup yang sifatnya normatif (“Aku harus belajar karena manusia memang harus belajar.”), adalah tujuan milik orang lain yang dijadikan miliknya (“Aku harus belajar karena ortu ingin aku kerja ini nantinya.”).
 
Penyelesaiannya…
 
Sense of purpose… kupikir, ini adalah pertanyaan besar dalam kehidupan kita semua. Lagi-lagi, penyelesaian masalah prokrastinasi kembali pada diri masing-masing. Secanggih apapun metode, kiat-kiat, dan pemahaman atas manajemen waktu, kalau sense of purpose kita tidak kuat, kita tidak akan memiliki motivasi diri yang cukup untuk memperbaiki diri dan melaksanakan metode-metode manajemen diri dan waktu.
 
Sudahkah kita memiliki tujuan hidup yang benar-benar kita jiwai? Sebaiknya, kita segera menjawab, “Ya, punya.” Pada prosesnya tak masalah jika ada saat di mana kita akan malas, lelah, dan berbuat salah, itu semua manusiawi. Namun demikian, dengan tujuan hidup yang benar dan dirasakan dengan kuat dan begitu berharga, tujuan itu akan menjadi pengingat bagi kita untuk tidak kebablasan dalam melakukan prokrastinasi, menyemangati kita di saat-saat sulit, bahkan ketika fear of failure dirasakan sangat kuat.
 
Begitulah teman-teman… Semoga membantu bagi yang mengalami prokrastinasi akademik (termasuk aku sendiri ^_^’). Semoga kita semua sukses!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s