Indahnya Hidup dalam Komunitasmu

Judul ini sudah pernah kupakai di blog-ku yang lain, tetapi ingin sekali aku menulisnya ulang. Sebelumnya, aku berterima kasih pada mata kuliah Psikologi Komunitas, dua tahun yang lalu dan tahun ini (aku mengulang ), yang mana di dalamnya aku menjadi semakin paham pentingnya keberadaan komunitas bagi diri seseorang 
Mengapa bisa? Mudahnya, pandanglah diri-diri manusia yang hidup bersama ini adalah sebuah sistem, tubuh, masing-masing memiliki peran, tugas, dan tanggung jawab, bergerak besama dalam suatu interaksi yang saling mempengaruhi dan bergantung satu sama lain… Rasakan, jika ada bagian yang terluka, seluruh tubuh akan merasakan. Jika ada yang membutuhkan sesuatu, bagian tubuh yang lain akan membantu atau mengusahakannya. Dalam Psikologi Komunitas, konsep ini merupakan wujud keberadaan suatu dukungan sosial (social support).
Apa yang sesungguhnya orang peroleh melalui social support ini? Ada banyak. Ada dukungan yang berbentuk benda, ide-ide, dukungan emosional, maupun kebersamaan.
Sebagai contoh dalam kehidupan sehari-hari, sebagai muslim ketika kita berzakat atau bersedekah berupa barang atau uang, kita sudah menjalankan peran sebagai pemberi dukungan secara materi (material support).
Jika kita memberikan kepedulian, simpati, sekalipun itu hanya senyuman, kita sudah memberikan dukungan emosional bagi orang lain (emotional support).
Jika kita menghargai orang lain dengan mengucapkan selamat atau terima kasih dan menghargai dan menghormatinya, kita sudah memberi dukungan bagi harga dirinya secara positif.
Jika kita bersedia menjawab pertanyaan teman-teman yang kebingungan, memberikan nasehat, konsultasi, atau petunjuk mengerjakan sesuatu, kita sudah memberikan informational support.
Jika kita menghadirkan diri kita bersama orang lain, menyajikan interaksi sosial yang bermanfaat sebagai teman atau sahabat, menemani di kala suka maupun duka, kita sudah memberikan companionship support.
Nah, mari kita hubungan semua itu dengan kewajiban kita sebagai umat Islam. Bukankah kita diminta Allah agar suka menolong dan memberi, membayar zakat dan bersedekah, bersikap ramah dan penuh senyum, menghargai dan tidak merendahkan, mengingatkan yang salah, memberikan petunjuk bagi yang kebingungan, memuji keberhasilan, dan mengakrabkan diri bersama sesama muslim?
Begitulah masyarakat terbentuk, yaitu dari kekuatan yang dibawa individu-individu yang bernaung dalam payung komunitas yang dijunjung bersama. Tidak tua atau muda, anak-anak atau orang dewasa, besar atau kecil, kaya atau miskin, sehat atau cacat, pria atau wanita, semuanya adalah bagian dari komunitas. Semuanya punya kewajiban saling mengenal dan menjalin hubungan kasih sayang, karena dari sinilah dukungan sosial akan dengan sangat mudah diberikan, apapun bentuknya, sesederhana apapun wujudnya.
***
Ada sebuah cerita tentang mahasiswi Indonesia yang belajar di luar negeri. Ia berangkat dengan statusnya sebagai muslimah, dikenal sebagai sosok yang mengenakan hijab. Ia bersekolah di negara yang mayoritasnya nonmuslim dan ia menghabiskan beberapa tahun di sana. Suatu ketika terlihat sebuah foto dirinya yang di-upload di situsnya, menampilkan penampilannya yang sudah jauh berbeda. Sangat disayangkan, ia melepas hijabnya dan tampak menikmati pergaulan dengan siapa saja di negeri sana.
Ketika mengetahui cerita itu, aku merenung-renung. Di negeri yang asing, siapakah yang akan mengingatkan identitas kita sebagai muslim? Siapa yang akan mengingatkan kita untuk meluruskan diri, mengajarkan kita cara-cara hidup yang benar, sesuai dengan siapa diri kita?
Inilah kekuatan komunitas muslim, di mana orang-orang di dalamnya terikat dalam satu pedoman yang universal, saling mengingatkan dan menasihati berdasarkan itu, saling menolong juga berdasarkan itu. Adakah alasan untuk saling mengabaikan dan mendiamkan sesama? Tidak. Inilah komunitas “seluruh muslim adalah saudara”, masing-masing menjadi da’i untuk menyerukan iman dan takwa, dan berkewajiban mengajak pada kebaikan dan mencegah kejahatan.
Dari pelajaran tersebut, aku bisa sangat merasakan indahnya hidup di Indonesia, di lingkunganku yang sekarang, di mana masih terlihat di mana-mana muslim yang bersaudara. Ada muadzin yang masih melantunkan azan, orang shalat, suara orang mengaji di rumah-rumah, dan kajian di mana-mana. Antarsesama saling mengucapkan salam, atau minimal tersenyum ramah. Ada sesama muslim yang saling menjaga, memelihara, dan melindungi. Aku seakan tidak begitu peduli betapa terpuruknya kondisi yang ada. Memang kondisi itu adalah pengingat, tetapi alhamdulillah, komunitas muslim ini senantiasa dapat kusyukuri keberadaannya.
Aku bersyukur menjadi muslim Indonesia, menjadi bagian dari warga muslim dunia. Kebersamaan, rasa aman, dan persaudaraan adalah harta kita yang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s