Islam dan Psikologi, Mata Rantai Sejarah yang Hilang

Sebelumnya… Artikel berikut adalah artikel pertama yang kubuat tentang psikologi Islami sebagai reaksi atas mata kuliah Sejarah Aliran Psikologi. Pertama kali dipublikasikan di aftina.blogspot.com pada 25 Agustus 2009. Tentang sejarah ilmu pengetahuan di dunia, sejarah Islam memang sepertinya sulit berdiri tegak di tengah hegemoni “sejarah” Barat. Sejarah psikologi pun mengalami hal yang sama di mana filsafat Yunani langsung melompat sampai ke abad 19. Di mana Islam? Itulah yang kita cari.
Saat ini, banyak psikolog dan ahli psikologi muslim kembali menengok kekayaan Islam di bidang psikologi. Namun, hal tersebut sulit dilakukan mengingat literaturnya yang terbatas dan jika ada, itu berbahasa Arab. Untuk memulai penggalian kembali pun sangat menghabiskan tenaga dan waktu.
Sebagai mahasiswa, aku sering bertanya-tanya… bagaimana seharusnya “kuliah psikologi Islami” dilakukan? Aku bertanya-tanya, di mana para ahlinya berada dan apa buku-bukunya. Aku tidak puas karena bertahun-tahun psikologi Islami terus saja “masih diwacanakan”. Seandainya, pertanyaan dibalikkan kepadaku, “Bagaimana kalau kamu saja yang memulai?” aku sendiri masih diliputi pertanyaan, “Bagaimana cara memulainya?
 “Berikan aku kesempatan belajar.”
***
Pada awalnya, sebelum kita mempelajari lebih dalam psikologi di universitas, kita akan mengenal terlebih dahulu apakah psikologi itu. Psikologi yang kita kenal sekarang ini berangkat dari pengetahuan kita mengenai sejarah munculnya psikologi. Sekadar untuk kilas balik (bagi yang pernah mempelajarinya) dan memberikan preview (bagi yang baru akan mengenalnya), ada baiknya untuk diungkapkan sedikit mengenai sejarah “resmi” psikologi yang kita kenal.
Psikologi yang kita kenal biasa dikenal juga sebagai psikologi “Barat”. Kata “Barat” di sini mengacu pada kenyataan bahwa psikologi memang lahir di Barat, tepatnya di Leipzig, Jerman, pada Desember 1898. Pada tahun itu psikologi dinyatakan secara resmi “lahir” ketika dibuka laboratorium psikologi pertama di Universitas Leipzig. Mulai saat itu psikologi berkembang, dari yang pertama aliran strukturalisme sampai yang terakhir, transpersonal. Psikologi yang lahir di Jerman dibawa ke Amerika Serikat dan berkembang sangat pesat di sana.
 
Psikologi sebagai ilmu yang mempelajari perilaku manusia membawa perubahan besar bagi manusia. Aplikasi ilmu tersebut merambah setiap bidang kehidupan yang di dalamnya ada manusia: perusahaan, sekolah, keluarga, kepolisian, rumah sakit, pemerintahan, dan sebagainya. Semakin jauh psikologi berkembang dengan berbagai manfaatnya, ternyata semakin banyak pula kelemahannya yang disadari oleh ilmuwan psikologi. Kelemahannya yang utama, yang akan menjadi titik awal keberangkatan kita, adalah cultural bounds atau batas-batas budaya. Maksudnya di sini adalah psikologi sebagai ilmu yang lahir di Barat menghadapi suatu masalah ketika diterapkan di masyarakat lain, seperti masyarakat muslim. Ada perbedaan budaya antara Barat (yang mendasari lahirnya teori dan praktik psikologi Barat) dengan apa yang menjadi keyakinan masyarakat muslim. Maka, ada sebagian dalam psikologi Barat yang tidak tepat diterapkan untuk masyarakat muslim.
 
Hal itulah yang kemudian mendorong lahirnya Psikologi Islami (Islamic Psychology). Usaha tersebut dirintis oleh seorang psikolog Sudan, Dr. Malik B. Badri dengan bukunya yang terkenal “The Dilemma of Muslim Psychologist” yang terbit tahun 1975 dan 1979. Pada tahun 1978 telah diadakan simposium internasional di Riyadh yang mengangkat tema Psikologi dan Islam. Beliau mengajak kalangan akademisi psikologi yang pada waktu itu sangat terpengaruh oleh psikologi Barat untuk mengembangkan psikologi sesuai dengan nilai-nilai Islam yang ada dalam Quran dan Hadist. Bagi masyarakat muslim, tentulah psikologi yang berdasarkan nilai-nilai Islam-lah yang tepat bagi kebahagiaan dirinya. Psikologi Islami tampak menjadi ilmu yang asing di era modern ini. Ia seolah-olah baru saja muncul sebagai cabang psikologi yang baru, yaitu pada tahun 1978 itu (bandingkan dengan usia psikologi Barat).
 
Kalau kita melihat baik-baik sejarah di masa lalu, sesungguhnya psikologi sudah berusia berabad-abad. Kita bisa memulainya pada masa Yunani kuno dimana filsafat Yunani menjadi induk ilmu pengetahuan. Dalam sejarah psikologi yang kita kenal, perjalanan sejalah seolah melompat dari masa Yunani sampai abad 19 ketika psikologi “lahir”. Namun, sejarah dunia sesunggunya mengatakan bahwa filsafat Yunani kemudian dipelajari oleh para ilmuwan muslim pada abad 8 sampai 15. 
 
Masa antara abad 8 – 15 disebut juga sebagai abad pertengahan adalah masa keemasan peradaban Islam. Pada waktu itu ilmu pengetahuan berkembang pesat di tangan ilmuwan muslim, tidak hanya ilmu-ilmu eksak, seperti astronomi, fisika, kimia, dan kedokteran, tetapi juga ilmu-ilmu sosial, seperti sosiologi dan, tentu saja, psikologi! Itulah mengapa kita katakan ada mata rantai sejarah yang hilang yang seharusnya diketahui para mahasiswa psikologi muslim.
 
Psikologi pada masa itu tidak dikenal sebagai psikologi, tetapi ilmu tentang jiwa atau dalam bahasa Arab-nya Ilm-al Nafsiat. Ilmuwan muslim mengembangkan psikologi berdasarkan nilai-nilai Islam yang ada dalam Quran dan Hadist. Psikologi adalah ilmu yang beretika, artinya ia memperlakukan manusia sebaik-baiknya sesuai fitrah dan keimanannya kepada Allah.
 
Etika dalam psikologi islami terdapat pada Quran Surat An Nisa ayat 5, yaitu: Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang Dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik. Kita (psikolog, mahasiswa psikologi) diperintahkan untuk berperilaku humanis pada manusia, terutama bagi mereka yang mengalami gangguan mental. Hal inilah yang mendorong didirikannya rumah sakit jiwa pertama di dunia pada abad ke-8 (di Baghdad pada tahun 705, di Fespada awal abad ke-8, di Kairo pada tahun 800, dan di Damaskus and Aleppo (Syria) pada tahun 1270).
 
Para ilmuwan muslim pada masa lalu telah banyak melakukan studi psikologis. Studi tersebut antara lain mengenai intelektual, “tabula rasa” dan nature-nurture, ekperimen psikologi, psikologi sufi, teori-teori berpikir, kesehatan mental, psikoterapi, gangguan fisik dan psikis, nosologi (ilmu mengenai pengklasifikasian penyakit), psikopatologi, neurosurgery, neuropsikiatri, neurologi, psikologi hewan, dan musikologi. 
 
Kita akan mengenal berbagai nama ilmuwan muslim, seperti Abu Bakr Muhammad Ibn Sirin (654 – 728), Al Kindi (801 – 873), Abu Zayd Ahmed ibn Sahl al-Balkhi (850-934), Najab ud-din Unhammad (870-925), Al Farabi (872 – 951), Ibnu Sina (980 – 1037), Al Ghazali (1058 – 1111), Al Farabi (872 – 950) dan Ibnu Khaldun (1332 – 1406). Ada banyak lagi ilmuwan muslim juga karya-karyanya yang melimpah. Peran pemikiran mereka sangat besar bagi psikologi di era modern ini, tetapi tentu saja, sebagian besar dari mereka tidak dikenal lagi.
 
Tulisan ini tidak bermaksud untuk membuat kita bernostalgia pada masa keemasan Islam, tetapi lebih pada menyemangati bahwa kita, mahasiswa muslim dapat menjadi psikolog muslim tanpa meninggalkan Islam, dengan Quran dan Hadist-nya. Masa lalu membuktikan bahwa ilmu pengetahuan dapat berjalan bersama dengan agama dan melahirkan peradaban Islam yang megah. Bagi masyarakat muslim, baginya, tentu, lebih baik psikologi yang dapat memahami fitrahnya sebagai manusia dan agamanya, yaitu Psikologi Islami. Di tangan kita lah, kalangan akademisi, Psikologi Islami dapat berkembang di masa ini dan bermanfaat bagi umat.
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s