Islamic Shame Management Part 1

Mar 26, ’11 11:04 PM
Pengelolaan Rasa Malu yang Islami. Itu hanya sebuah judul paper untuk diikutkan dalam Temu Ilmiah Nasional Psikologi Islami. Abstraknya yang kukirim beberapa hari yang lalu, baru saja, akhirnya, kuketahui… tidak lolos. Malam ini, ketika menuliskan ini… aku tersedu-sedu. Rasanya sangat kecewa. Aku sudah sangat berharap dan semua itu kempis.
***
Pendahuluan
Perjalanan sampai mendapatkan judul tersebut sungguh panjang dan sangat berkesan, bahkan menyembuhkanku. Semua itu berasal hanya dari satu kata “shame” yang artinya rasa malu. Makna kata tersebut, makna psikologisnya, dan pentingnya ia bagi kehidupan kudapatkan selama menjalani magang di rumah sakit jiwa bulan lalu. Sejak saat itu, aku menjadi sangat memahami betapa indahnya iman dan Islam, dan betapa ajaibnya, “shame” di satu sisi dapat meningkatkan kedudukan kita di mata Allah, di sisi yang lain dapat menjerumuskan kita ke dalam jurang penderitaan.
Bagaimana dinamikanya?
Ketika mendengar kata “malu”, kebanyakan dari kita langsung mengasosiasikannya dengan jenis perasaan yang negatif. Mudahnya saja, hubungkan itu dengan karakter orang yang pemalu, misalnya. Di mana-mana ada yang dapat menimbulkan rasa malu, mulai dari yang sepele sekali semacam jerawat sampai yang sangat kompleks semacam harga diri bangsa. Jujur saja, sebagai orang Indonesia, mengingat kondisi bangsa dan negara saat ini, siapa yang tidak malu? Ingat, ada buku yang judulnya “Malu Aku Jadi Orang Indonesia”.
 
Aku juga sama memikirkan hal yang negatif tentang rasa malu. Namun, aku serta-merta teringat bahwa Islam juga memiliki ajaran tentang rasa malu. Dalam Islam, anehnya, rasa malu adalah perasaan yang sangat positif sebagai manifestasi keimanan kita kepada Allah. Mari kita cek hadist-nya: 
 
Iman itu lebih enam puluh cabangnya dan malu itu cabang iman. (HR Bukhari)
 
Sesungguhnya malu dan iman keduanya dirangkaikan menjadi satu. Sebab itu apabila salah satu di antara keduanya dihilangkan, hilang pula yang satu lagi. (HR Hakim dari Ibnu Umar)
 
Malulah kepada Allah sebenarnya malu (malu yang semestinya). Siapa yang malu kepada Allah menurut semestinya, hendaklah dia memelihara kepala dan yang dikandungnya, hendaklah dia memelihara perut dan isinya, hendaklah ingat akan kematian dan kebinasaan. Siapa yang menghendaki akhirat ditinggalkannya hiasan kehidupan dunia. Siapa yang mengerjakan hal itu sesungguhnya dia telah malu kepada Allah menurut semestinya. (HR Tirmidzi dari Ibnu Mas’ud)
 
… dan masih ada beberapa lagi. Sontak saja otak psikologiku berpikir dan aku menemukan benang merahnya: ternyata Islam dan psikologi sangatlah dekat. Bahkan, psikologi yang positif ada dalam Islam.
Beberapa artikel dalam seri psikologi Islami ke depan akan membahas hal ini. Kita akan sama-sama belajar tentang hakikat rasa malu, rasa malu beracun, rasa malu yang sehat, cara mengatasi rasa malu beracun, dan pandangan Islaminya. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat dan mohon masukannya, ya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s