Islamic Shame Management Part 2

Original post: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/213/Seri-Psikologi-Islami-Bag.-6-Islamic-Shame-Management-2

Mar 26, ’11 11:18 PM

Hakikat Rasa Malu
Rasa malu atau “shame” adalah salah satu jenis emosi yang dimiliki manusia. Emosi ini memang dialami sebagai sesuatu yang negatif, namun betapapun ia adalah emosi yang negatif, ia bagian dari hidup kita dan jelas, keberadaannya penting bagi kehidupan.
 
Rasa malu memunculkan perasaan inferior, yaitu perasaan di mana kita merasakan diri ini kurang, lemah, buruk, salah dan cacat. Mungkin kita bisa mengingat saat-saat di mana kita dipermalukan. Rasakan, betapa sakitnya hati kita. Kita malu ketika diperlakukan buruk atau tidak senonoh, ketika menjadi korban atau ketika disalahpahami, dan semua itu berkaitan dengan sebuah standar ideal yang kita miliki sebagai acuan hidup. Standar tersebut yang membuat kita memahami bahwa yang indah, cantik, berkedudukan, berharta, populer, sholeh, berbakti, dan sebagainya, lebih baik daripada yang jelek, buruk rupa, miskin, pemalu, sakit-sakitan, jahat, kurang ajar,dan sebagainya.
 
Mungkin biasa-biasa saja bagi kita kalau yang bagus ada pada diri kita dan yang jelek adalah ketidakberuntungan bagi orang lain. Kita bisa menjadikannya guyonan. Namun, pikirkan bagaimana jika kitalah yang ditakdirkan mengalami hal-hal yang tidak beruntung? Mungkin masih biasa-biasa saja kalau “ketidakberuntungan” itu normal, seperti: wajah biasa-biasa saja itu semua orang juga punya. 
 
Kita mengharapkan hidup yang ideal, namun yang ideal itu hanyalah sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Ada sebagian dari kita yang sangat tidak nyaman dengan apa yang kita sebut sebagai kekurangan. Ada dari kita yang sangat berat menerima kekurangan, kelemahan, dan kecacatan.  
 
Contoh, untuk kasus-kasus psikologis semacam gangguan makan anorexia nervosa. Teori-teori setuju bahwa anorexia disebabkan oleh self-image nagatif yang dimiliki penderitanya. Ia sudah langsing, tetapi merasa masih gemuk dan jelek. Ia sangat malu karena “kurang langsing” karena setiap saat terpapar ide “cantik” yang seharusnya.
 
Lainnya, pecandu narkoba. Kita sepakat bahwa sebagian pecandu pasti memiliki kehidupan bermasalah yang ia berusaha lari darinya. Ia tidak suka dengan kehidupannya. Ia merasa sangat putus asa dan berusaha mencari sesuatu yang membuatnya mengalihkan perhatian dan melupakan masalah. Ada rasa malu di situ.
 
Lainnya, ingat kasus anak atau remaja yang bunuh diri karena diejek oleh kawan-kawannya? Mari kita dalami perasaannya ketika sebagai anak ia diejek miskin. Atau juga di kelas, bagaimana perasaan anak-anak yang sering kali dicap bodoh dan nakal? Bayangkan perasaan keluarga yang ayah atau ibunya berkasus kriminal atau bercerai. Bahkan masalah sepele nilai ujian yang lebih jelek daripada saingan, penampilan tidak lebih oke daripada teman, atau apapun, semua itu menimbulkan rasa malu.
 
Rasa Malu Beracun
 
Rasa malu yang membuat kita tidak menyukai diri kita, menolak keadaan diri, dan menginginkan kondisi yang sebaliknya adalah rasa malu yang tidak sehat atau rasa malu beracun. Bagaimana bisa? Bisa, karena ia berpotensi merusak diri kita. Pernahkah mengetahui tentang orang-orang yang suka memakai “topeng”? Ia berusaha menampilkan diri yang baik sebagai usahanya untuk menutupi diri yang tidak disukainya.  Lihatlah orang yang mati-matian melakukan berbagai kompensasi untuk menutupi kekurangan diri yang tidak disukainya. Pernahkah mereka merasa bahagia? Ya, mereka pernah, yaitu ketika orang lain memuji dirinya. Namun, pernahkah ia merasa bahagia karena dirinya sendiri bahagia? Tidak. Ia tidak akan merasa baik-baik saja sebelum orang lain memberikan pengakuan.
 
Inilah rasa malu beracun, rasa malu yang berbahaya. Ia bersumber dari penolakan terhadap diri yang diciptakan memiliki kekurangan dan kelemahan. Ia membuat kita menginginkan sesuatu yang lebih baik, sehingga kita mati-matian memakai “topeng” diri ideal. Ia tidak menyelesaikan masalah dengan berusaha menerima diri, tetapi malah lari dari kenyataan dan berusaha menjadi diri yang lain. Ketika rasa malu beracun ini bertumpuk-tumpuk dan menjadi parah, bisa jadi penderitanya dapat mengalami gangguan psikologis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s