Islamic Shame Management Part 3 -Habis-

Original post: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/214/Seri-Psikologi-Islami-Bag.-6-Islamic-Shame-Management-3-End

Mar 27, ’11 12:31 AM

 

Healthy Shame

Berdasarkan tulisan sebelumnya, dapat disimpulkan beberapa hal. Pertama, rasa malu muncul dari adanya penolakan, baik yang dilakukan orang lain atau diri sendiri (ingat, kita bisa menjadi pelaku pengejekan diri  sendiri). Kedua, rasa malu muncul karena keinginan untuk sempurna atau hidup ideal dan lebih yang tidak terwujud. Ketiga, rasa malu muncul karena ketidaktahuan tentang keterbatasan diri, bahwa manusia diciptakan bisa jelek, buruk, miskin, bodoh, rendah, lemah, salah… 
 
Kemanusiaan manusia, inferioritasnya adalah musuh besar orang-orang yang malu. Maka dari itu, mereka termasuk orang yang sakit secara psikologis dan dapat menyebabkan sakit-sakit yang lain, secara fisik, sosial, maupun spiritual.
 
Kali ini, kita akan memberikan kesempatan bagi rasa malu yang sehat atau healthy shame untuk bicara.
 
Begitu uniknya, rasa malu yang sehat jauh sangat berkebalikan dengan rasa malu beracun. Ia benar-benar menjalankan fungsi emosi sebagai penggerak kehidupan. Perlu diketahui bahwa rasa malu adalah emosi penting yang dimiliki manusia. Fungsinya yang selama ini dikenal adalah sebagai pengingat diri akan adanya batasan bahwa kita adalah manusia, tidak “kurang dari manusia” atau “lebih dari manusia”. 
 
Kita bukan makhluk yang lebih rendah dari manusia dan kita juga bukan makhluk malaikat. Kita ini memang memiliki potensi “gelap” sama halnya seperti kita berpotensi “terang”. Ketika rasa malu ini sehat, ia tidak berperan sebagai penolak diri karena ingatan “saya cacat, saya jelek, saya lemah, saya jahat, saya salah, saya gagal”. Rasa malu yang sehat adalah pengingat diri bahwa manusia diciptakan terbatas, sehingga rasa malu kita terdorong untuk senantiasa sadar diri bahwa kita lemah, tidak dapat hidup sendiri, butuh petunjuk, dan pertolongan.
Sebagai emosi yang sehat, rasa malu adalah pendorong kita untuk hidup di jalan dan dengan cara-cara benar. Sebagai bagian dari sistem pembatas dalam kehidupan manusia, ia memastikan kita untuk hidup dan bertingkah laku dengan cara-cara yang aman, yang membuat kita tidak dipermalukan. Ia adalah lampu kuning dalam kehidupan kita.
Rasa malu yang sehat membuat kita mengetahui keterbatasan, sehingga kita mampu menggunakan energi hidup secara lebih efektif, terarah, dan bertujuan baik. Agar kita tidak menghabiskan waktu untuk mencapai tujuan yang tidak dapat diraih atau mengubah hal-hal yang tidak dapat diubah.
 
Rasa Malu dan Islam
 
Konsep tentang rasa malu yang sehat rupanya sangat berkaitan tentang ajaran Islam tentang rasa malu. Ketika rasa malu menjadi bagian dari iman, sesungguhnya ia benar-benar berperan sebagai pembatas agar kita tetap berada pada jalan hidup yang membuat kita senantiasa aman, tarutama dari kemungkinan dipermalukan.
 
Dalam salah satu teori psikologi, rasa malu bahkan disebut sebagai landasan bagi spiritualitas manusia. Rasa malu mengingatkan kita pada batas esensial bahwa kita ini bukan tuhan yang bisa melakukan segala macam hal, yang sempurna, dan tidak berbuat salah. Karena kita lemah dan dapat berbuat salah, kita senantiasa dekat pada Tuhan yang Memiliki segala kekuatan, memohon pertolongan, dan rendah hati dalam kehidupan (bukan rendah diri).
 
Ada yang menarik dalam ajaran Islam ketika rasa malu dan iman saling terikat.
 
Pertama, ingatkah teman-teman bahwa Allah tidak melihat kita kecuali dari hati kita, keimanan dan ketakwaan kita? Ingat pula bahwa Allah menomorsekiankan harta dunia, kedudukan, keluarga, ras, atau siapa kita dan apa yang kita miliki. Maka dari itu, sesungguhnya tidak ada yang seharusnya membuat kita lebih malu daripada tidak beriman dan bertakwa. Apa artinya keindahan tampilan fisik, banyaknya harta, dan tingginya kedudukan sosial kita? Hal-hal yang terkait dengan atribut duniawi tidak seharusnya membuat kita malu karena kita memang diciptakan tidak sempurna dan selalu ada kesempatan untuk mensucikan hati.
 
Kedua, ingatkah teman-teman dengan perintah agar kita senantiasa bersyukur, bersabar, dan ikhlas? Hubungan itu dengan masalah rasa malu beracun ini dan kita dapat menyimpulkan bahwa orang-orang yang menderitanya cenderung tidak bersyukur pada nikmat yang Allah berikan, tidak ikhlas pada ketetapan bahwa diri ini tidak sempurna, dan tidak bersabar ketika mengalami kehidupan yang susah dan memalukan (menurut orang). Sebaliknya, rasa malu beracun dapat kita atasi dengan tiga hal tersebut: bersyukurlah, bersabar, dan ikhlas.
 
Ketiga, ingatkah teman-teman dengan surat Al Fatihah yang terus-menerus kita baca? Perhatikan maknanya dan kagumlah kita bahwa Allah telah membuat kita senantiasa ingat keterbatasan diri kita dan memohon pertolongan pada-Nya. Kita memang lemah dan tak berdaya, bukan? Selain itu, ketika kita mengingat bahwa Allah Maha Pemurah dan Penyayang, itu berarti selalu ada pintu maaf dan taubat ketika kita berbuat kesalahan atau apapun yang memalukan.
 
Keempat, ingatkah teman-teman bagaimana Islam menuntun kita dalam menjalani kehidupan sosial? Kita diajarkan untuk berbuat baik, tolong-menolong, mencintai satu-sama lain… memberikan rasa aman, menerima orang lain dengan segala kelemahan dan kelebihannya, memaafkan, dan tidak memaksakan kehendak, berkata-kata yang baik, tidak menghina, dan menjaga lidah. Ada banyak ajaran lainnya dan itu cukup membuatkita dapat menyimpulkan bahwa orang Islam adalah orang yang tidak mempermalukan saudara-saudara manusianya.
 
***
Penutup
 
Demikianlah Islam, agama kita, mengajarkan kita untuk hidup dengan cara-cara yang baik, menatap hati, dan mendukung kesejahteraan psikologis umatnya. Dunia saat ini memang berat kita rasakan. Bolehlah kita diciptakan kurang sempurna secara fisik, tidak kaya harta, dari golongan sosial lemah atau biasa-biasa saja, berpekerjaan biasa-biasa saja, bahkan tidak apa-apa jadi orang Indonesia… Hal itu bukanlah sesuatu yang dapat membuat perkembangan diri kita mundur dan menolak kehidupan  karena rasa malu yang beracun. Ada yang lebih penting yang meningkatkan harga diri kita, kebanggaan kita, yaitu keberadaan iman dan takwa. 
 
Lega bisa mencurahkan topik ini karena hampir sebulan aku memendamnya saja. Dalam penulisan dan pemikirannya, aku sangat berterima kasih pada:
 
Buku “Healing The Shame That Binds You” karya John Bradshaw.
Buku “The Psychology of Shame” karya Gershen Kaufman.
Dosen-dosen psikologiku dan perkuliahan yang selama ini senantiasa menginspirasiku.
Yang terpenting… Al Quran dan Al Hadist.
Juga yang penting… Pengalaman pribadi dan beberapa diskusi dengan teman.
 
Senang sekali bisa membagi ini. Paper tak diterima? Bukan masalah besar!!! 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s