Katanya, Telepon Seluler berbahaya…

Original post: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/199/Katanya-Telepon-Seluler-berbahaya…

 

Sebelumnya, aku tidak pernah tahu bahwa telepon seluler (ponsel) seberbahaya ini. Baru kemarin, dari hasil obrolan dengan teman-teman, dikatakan bahwa radiasi telepon seluler bisa menyebabkan kanker. Aku terkejut, karena teman-teman cerita kalau ponsel digantung dekat perut bisa menyebabkan kanker rahim. Soalnya, hampir setiap hari aku menggantung ponsel di leher karena tuntutan komunikasi.
Benarkah?
Menurut hasil penelitian (walaupun belum solid), ponsel memang bisa menyebabkan kanker. Radiasi elektromagnetiknya memang berbahaya, terutama ketika ponsel sedang aktif digunakan untuk menelepon, sehingga disarankan:
1. Batasi pemakaian ponsel hanya pada panggilan yang penting-penting saja dan bicaralah dengan singkat. Ingatlah bahwa pembicaraan via ponsel yang terlalu lama, apalagi sampai berjam-jam disinyalir mempunyai beberapa dampak buruk terhadap kesehatan. Namun jika Anda memang harus melakukan panggilan yang lama, disarankan untuk memakai handsfree untuk keamanan.
 
2. Anak-anak di bawah umur seharusnya hanya diperbolehkan memakai ponsel dalam keadaan darurat saja. Mengingat mereka masih dalam tahap perkembangan, bahaya radiasi bisa bertambah parah.
3. Jika memakai ponsel tanpa handsfree, tunggulah sampai panggilan benar-benar terkoneksi sebelum menaruh ponsel di telinga untuk melakukan pembicaraan.
 
4. Minimalisir pemakaian ponsel di ruang tertutup dengan bahan logam atau baja, misalnya di dalam mobil. Dalam ruangan seperti ini, ponsel harus bekerja keras menstabilkan koneksi sehingga radiasi meninggi. Selain itu, ada kemungkinan radiasi memantul kembali ke pengguna di ruangan yang didominasi bahan baja. 
 
5. Minimalisir penggunaan ponsel ketika kekuatan sinyal hanya satu bar atau kurang. Dalam kondisi ini, ponsel juga harus bekerja keras untuk menstabilkan koneksi sehingga radiasi bertambah besar.
 
6. Belilah ponsel dengan level SAR (Specific Absorption Rate) yang rendah. Level SAR adalah ukuran kuantitas frekuensi radio yang diserap tubuh manusia. Semakin rendah level-nya, semakin baik untuk meminimalisir radiasi.
 
Informasi di atas sangat bertolak belakang dengan kondisi saat ini di mana masyarakat malah diajak beramai-ramai bertelepon sepanjang hari “non-stop” dengan memanfaatkan berbagai promo murah bertabur bonus dan pulsa gratis. Balihonya kartu prabayar/pascabayar bertenggeran di pinggir jalan besar-besar! Spanduk-spanduknya ada di mana-mana dengan wajah model yang setiap saat berbeda-beda. Sekalipun lama-lama semua itu jadi sampah, iklan terus saja bergulir.
 
Seandainya berita tentang ponsel itu benar, maka nyata sekali promo-promo di atas menyesatkan kita, para pengguna ponsel. Terang saja mereka suka kita membeli produk mereka. Tetapi, tak satu pun mengatakan bahwa menggunakan telepon dalam waktu yang lama dapat membahayakan kesehatan. Mereka mempromosikan yang senang-senang dan tidak berkata apa-apa tentang yang sakit-sakit. 
 
Sekalipun bukti nyata dari dampak ponsel belum bernar-benar terungkap, tentu kita tidak mau generasi kita menjadi generasi pertama yang menjadi korban. Jika semua orang sadar ini, tentu solusi utama masalah ini adalah bukan membuang teleponnya, tetapi membatasi penggunaan hanya pada yang penting-penting. Pukulan telak bagi para penyedia jasa layanan komunikasi. Tinggal tunggu saja tanggal mainnya sehingga penyedia jasa “terpaksa” berkampanye hijau demi kesehatan manusia. Bukan saatnya lagi kita tidak tahu apa-apa.
 
***
Tulisan di atas adalah salah satu upaya untuk mempromosikan perilaku sehat di antara kita. Kesehatan adalah hal yang penting untuk senantiasa kita pelihara dan mencapai hidup sejahtera, namun kesehatan juga menjadi sesuatu yang sering kita korbankan untuk kesenangan dan kenikmatan hidup. Pilih mana? Sejahtera atau senang? Perilaku sehat ini begitu unik karena manfaatnya baru terasa ketika kita menua. Inilah yang orang sering jadi mengabaikannya sehingga mereka sulit menerima ajakan perilaku sehat, seperti banyak-banyak makan sayur dan kurangi makanan sampah, banyak-banyak olahraga dan kurangi malas gerak, dan tidur yang cukup dan hindari tidur larut.
 
Mengapa orang menjadi sulit menerima ajakan hidup sehat?
 
Pertama, karena hidup tidak sehat tidak terasa dampaknya alias cost-nya rendah. Lain ceritanya kalau misalnya karena merokok kita bakal mati besok. Orang bakal berhenti merokok saat ini juga.
 
Kedua, karena manfaat alias benefit hidup sehat baru sangat dirasakan dan dihargai ketika kita tua. Jebakan masa muda… kita memang berada dalam kondisi fisik yang prima. Namun, keprimaan itu bukan berarti kita bisa berbuat apa saja tanpa menyadari konsekuensinya.
 
Ketiga, karena orang tidak tahu/paham konsekuensi hidup sehat dan hidup sakit. Ini terjadi pada orang yang menutup mata dari informasi, baik yang disebabkan oleh  tiadanya kesempatan untuk tahu maupun adanya kemalasan untuk tahu. Pengetahuan yang baik menggiring manusia untuk berubah menjadi lebih baik. Ketidaktahuan membuat manusia tetap di tempatnya, sekalipun tempat itu begitu berbahaya.
 
Keempat, karena kita tidak berada dalam lingkungan sosial yang sehat. Jika teman-teman akrab kita adalah orang yang hobinya mengobrol, bagaimana bisa kita membisukan ponsel kita untuk menolak pembicaraan? Bagaimana jika di lingkungan kita tidak ada orang yang mengingatkan kita untuk tidak mengobrol ngalor-ngidul? Tekad pribadi untuk sehat juga dipengaruhi oleh ada tidaknya tekad kelompok, lho.
 
Kelima, karena kita berada dalam sistem yang tidak sehat, yang tidak berhasil membekukan aktivitas-aktivitas kuman-kuman jahat layaknya serum imunisasi. Kalau yang ini, salahkan pemerintah, ok? Orang sehat itu tidak hanya karena dia minum obat, tetapi juga karena pencegahan yang disukseskan oleh regulasi yang tegas. Bagaimana bisa beli rokok kalau harga rokok dibuat selangit? Bagaimana bisa anak-anak kecil punya ponsel kalau orangtuanya diajari cara mendidik yang baik, yang tidak permisif?
 
Keenam, karena sense of morality yang rendah. Bagaimana pun semua masalah kesehatan punya akar pada agama yang tidak dipahami dan dijalankan dengan baik. Jika orang tahu bahwa perilaku boros (pemboros uang, pemboros waktu) dan berlebih-lebihan itu disukai setan dan tidak disukai Allah, meskipun tidak ada regulasi berimunitas tinggi, tidak ada kawan yang sehat, bahkan tidak tahu hasil-hasil penelitian terbaru dan tercanggih… ia tetap punya motivasi untuk menjaga kesehatan.
Kompleks sekali, bukan? Sayangnya, upaya meningkatkan perilaku sehat dan kesehatan kurang memanfaatkan cara yang mengandalkan apa yang sudah lama diimani oleh masyarakat, terutama masyarakat Islam, yaitu agamanya sendiri. Agama adalah keyakinan yang paling dasar yang mempengaruhi dan mendorong sebagian besar orang untuk berbuat sesuatu. Kupikir, mengajarkan agama bersamaan dengan mengajarkan cara hidup sehat adalah sesuatu yang seharusnya bisa dilakukan bersamaan. Karena Islam adalah agama yang sehat, upaya itu tentu bisa sekali.
***
PS: Terima kasih pada kuliah psikologi kesehatan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s