Ke Mana Lagu Anak-Anak Pergi?

Kupandang langit penuh bintang bertaburan
Berkerlap-kerlip seumpama intan berlian
Ada sebuah lebih terang cahayanya
Itulah bintangku, bintang kejora yang indah s’lalu…
 
***
Ambilkan bulan, Bu… Ambilkan bulan, Bu…
yang s’lalu bersinar di langit
Di langit bulan benderang, 
cahyanya sampai ke bintang
Ambilkan bulan, Bu… Ambilkan bulan, Bu…
Untuk menemani tidurku yang lelap di malam gelap
 
***
Pelangi-pelangi, alangkah indahmu
Merah kuning hijau, di langit yang biru
Pelukismu agung, siapa gerangan?
Pelangi-pelangi, ciptaan Tuhan.
 
***
Ingatanku tentang lagu anak-anak tidak banyak, tetapi apa yang diajarkan waktu aku TK sebagian besar masih teringat. Syukurlah… Karena aku punya adik kecil, aku harus jago nyanyi lagu anak-anak. Apalagi setelah dia sebentar lagi mau masuk TK, tiba-tiba saja dia sering minta, “Kak, ajarin nyanyi lagu anak-anak.” Ya begitulah, anak kecil… tak peduli bagaimana kualitas suara kita, mereka senang saja mendengar dan menyanyikan lagu anak-anak. Cute!
 
Ingatanku tentang lagu anak-anak dan beragam peristiwa yang meliputinya juga cukup awet. Misalnya saja, aku tidak pernah mempersoalkan lagu “Pelangi-Pelangi”. Namun, apa suatu hari, ketika aku bepergian bersama teman masa kecilku, entah mengapa dia merasa lucu dengan lirik “Pelukismu agung, siapa gerangan?“. Dengan nada suara agak mengejek, dia bertanya yang intinya, “Siapa, sih, siapa gerangan ini?” Sontak ibunya langsung bereaksi, “Itu Tuhan, tahu.” Haha… Benar-benar tak terpikirkan ada anak yang bingung “siapa gerangan”.
“Pelangi-Pelangi” adalah lagu favoritku sampai hari ini. Aku bisa membayangku suasana sore sehabis hujan dan ada pelangi di langit. Lagu favoritku yang lain adalah “Bintang Kejora”. Pertama kali mendengarnya adalah ketika aku kelas 6 SD, waktu itu adikku yang masih TK mendapatkan lagu itu dari guru TK-nya. Dan aku suka. Sejak kecil aku suka astronomi dan planet favoritku adalah Merkurius. Lagu “Ambilkan Bulan” pertama kali kudengar ketika aku kelas 4 SD. Sering aku menyanyikan itu sepulang shalat maghrib dari langgar. Waktu itu aku tinggal di rumah nenek di desa dan terpisah dari ibu bapak yang bekerja di kota lain. Terasa sekali makna lagu “Ambilkan Bulan” bagiku saat itu…
Lagu anak-anak yang ada hubungannya dengan alam dan pemandangannya membuatku sangat suka pelajaran IPA. Sampai sekarang aku sangat suka IPA dan jalan-jalan ke alam liar, mengambil gambar, serta melukiskannya…
Memandang alam dari atas bukit, sejauh pandang kulepaskan
Sungai tampak berliku, sawah hijau membentang, bagai permadani di kaki langit
Gunung menjulang, berpayung awan
Oh, indah pemandangan…
Dan ada lagu yang setiap kali mendengar dan menyanyikannya, aku membayangkan sapi yang terbang ke langit… Terasa langit yang cerah dan matahari yang panas di siang hari.
Kulihat awan, seputih kapas
Arak-berarak di langit luas
Andai kudapat, ke sana terbang
Akan kuraih, kubawa pulang…
Setiap mendengar dan menyanyikan lagu “Balonku” aku teringat sosok badut bodoh dan kocak yang memegang balon-balon pesta. Dan teringat pengalaman naik kereta api, melintasi sawah dan terowongan yang gelap… Perjalanan dari Kutoarjo ke Bandung, kereta api pertamaku.
 
Kereta apiku laju dengan kencang
Melintas sawah, bukit, serta ladang
Angin mengejar mencoba menghadang
Kereta apiku laju bagai terbang
 
Ada rasa kesepian ketika mendengar dan menyanyikan lagu “Kupu-kupu yang lucu, ke mana engkau terbang? Lili mudik mencari… bunga-bunga yang kembang. Berayun-ayun, pada tangkai yang lemah. Tidakkah sayapmu merasa lelah?” Waktu aku kelas 5, ketika sedang asyik di kelas, ada anak kelas 1 yang melintas di depan kelasku dan menyanyikan lagu itu dan kami sekelas tertawa. Dasar anak kecil… Lho? Aku juga masih anak kecil! Sejak itu, aku sangat suka dan menghargai lagu “Kupu-kupu”.
 
Pada kelas 6 SD aku mendapatkan alat musik pertamaku: pianika. Ternyata aku suka musik dan menyanyi. Lagu yang pertama kali ingin kunyanyikan dengan pianikaku adalah lagu anak-anak. Ketika SMA, adikku dibelikan rekorder, dan aku berhasil menyanyikan lagu anak-anak dengan rekorder. Selanjutnya, ada harmonika, sayang aku tak bisa memainkannya. Selanjutnya sejak tahun lalu ada gitar, sempat terasa aneh, buat apa menyanyikan lagu anak-anak? Siapa yang akan mendengarkan sedangkan aku tak begitu menikmatinya lagi?
 
Haha… Sayangnya, adikku yang paling kecil suka mengusiliku ketika aku main gitar. Namun, bukannya meminta aku menyanyikan lagu yang sudah-sudah, dia malah meminta aku bernyanyi tentang hewan-hewan favoritnya: gajah, ular, kucing, dan harimau. Asal saja aku memainkan gitarku dan kurasa… selalu ada nada yang mudah dan lirik yang sederhana untuk sebuah lagu anak-anak. 
 
Sekarang aku menyadari apa yang sesungguhnya dibutuhkan anak-anak dari sebuah lagu. Mereka tak butuh lagu yang terkenal, bernada rumit, berlirik panjang, dan yang dinyanyikan dengan suara yang indah. Mereka tak butuh penyanyi-penyanyi cilik yang kegenitan di layar kaca, sok jadi dewasa. Mereka butuh lagu tentang dunia mereka, lagu yang menyenangkan, yang mengajak mereka untuk merasa kagum dan ingin tahu, yang bahkan mungkin membuat mereka bertanya “siapa gerangan” itu apa/siapa.
 
Eh, dik, kakak jadi bercita-cita ingin menjadi penulis lagu anak-anak.
Semoga nanti akan ada acara televisi yang memutar lagu anak-anak (lagi), di radio di putar lagu anak-anak (lagi).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s