Kebenaran Objektif vs Kebenaran Moral

Kupikir, inilah yang sering kita lupakan: Mendahulukan kebenaran moral dengan mengabaikan kebenaran objektif.
***
Bagaimanakah cara kita mendefinisikan apa itu kebenaran? Tanpa babibu mencari tahu, kita lebih suka meyakini apa opini, pandangan, atau kesimpulan dari orang tanpa paham betul hal apakah yang sedang dibicarakan itu. Kita banyak melandaskan kebenaran pada kepercayaan kita atas perkataan orang-orang tertentu.  Sekalipun perkataan tersebut ada benarnya, namun tidak jarang kita malah jadi tidak dapat menangkap apa yang benar adanya.
Kupikir pula, inilah masalah yang tengah dihadapi upaya mengislamisasi psikologi. Teringat kuliah dari seorang dosen, pengalaman seorang dosen yang kukenal tiga tahun yang lalu, dan pengalaman pribadi selama ini: kita terlalu “mudah” meyakini pendapat tokoh-tokoh psikologi Islami dan “mudah” pula melempar penemuan-penemuan dari tokoh-tokoh psikologi Barat. Ini hanyalah salah satu masalah yang spesifik.
Ada pula masalah yang lain: kita terlalu “mudah” berkecenderungan pada konstruk-kostruk sehat-Islami dan “mudah” pula membuang muka pada kostruk-konstruk psikologi dan manusianya yang berpenyakit.
Ada pula masalah yang lebih besar lagi: dalam kehidupan, kita terlalu “mudah” menyepak penyakit-penyakit masyarakat dan para pelakunya, sebelum berusaha penuh memahami kondisi dan situasi mereka. Kita men-judge mereka dengan kebenaran moral, meninggalkan, menghukum dan membunuh mereka, tanpa sebelumnya berusaha menangkap kebenaran yang objektif dari ditelaahnya suatu fenomena dan peristiwa.
***
Kebenaran objektif dan kebenaran moral senantiasa dipertentangkan di dunia ini. Kebenaran objektif adalah kebenaran yang ilmiah, yang terindera, ia ada dan kita saksikan tepat di hadapan kita. Ia apa yang kita lihat, kita dengar, dan kita rasakan, apakah itu yang ditampilkan orang, sekelompok orang, atau suatu keadaan dan situasi. Kebenaran moral adalah kebenaran normatif, baik dan buruk, dan bersumber dari firman-firman Allah dalam Al Quran. Keduanya sesungguhnya penting dalam upaya kita menilai suatu situasi dan mengambil keputusan terkait suatu masalah jiwa atau perilaku,
 
Pernahkah mendengar tentang kisah seorang pencuri? Alkisah, seorang raja menangkap seorang pencuri. Ketika ditanya mengapa ia mencuri, diketahuilah bahwa si pencuri mencuri karena ia kelewat miskin dan ada kebutuhan mendesak yang gawat dan harus segera dipenuhi. Maka, raja tersebut berkeputusan untuk melepaskan pencuri tersebut, menyantuninya, dan berjanji memperbaiki keadaan masyarakat yang miskin.
 
Ada pula suatu hari si raja menangkap seorang pejabat karena ia menggelapkan uang rakyat. Ketika diinvestigasi, ternyata si pejabat ini sudah kaya dan karena nafsunya ia menggelapkan uang rakyat. Si raja murka dan akhirnya menghukum berat pejabat tersebut sesuai hukum Allah.
 
Seperti itulah gambaran bagaimana kebenaran objektif dan kebenaran moral bekerja. Kebenaran objektif terungkap ketika kita bersedia bertanya apa yang terjadi. Kita mengamati, berbicara dari hati ke hati, sehingga berbagai fenomena terungkap dan muncullah data tentang suatu masalah. Dari data ini kita berpendapat secara lurus dengan moral yang sudah digariskan Allah. Kebenaran objektif terungkap dan akan berkontribusi besar dalam memecahkan masalah ketika kita bersedia mendekat dan bersentuhan langsung dengan fakta, sekalipun itu fakta pahit dan sangat memprihatinkan.
 
Kupikir, ternyata mengamalkan firman Allah agar kita “membaca” kehidupan tidak mudah. Mudah saja menghubungkan firman tersebut dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi luar biasa susah diterapkan bagi menyelesaikan berbagai masalah dan penyakit sosial yang pelik. 
 
Kupikir, Allah mengharapkan kita, manusia yang beriman, untuk mau membuka mata, telinga, dan hati, bukan hanya bagi hal-hal baik, tetapi juga hal-hal yang buruk agar kita mampu menguak sebab-sebab suatu masalah dan menemukan pencegahan yang tepat untuk memperbaiki keadaan.
 
Kupikir, benar, sulit menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama, ketika kita tidak mampu membedakan mana kenyataan dan mana yang seharusnya. Mengapa terus saja menuntut orang melaksanakan apa yang seharusnya, tetapi tidak berusaha memahami kenyataan? Allah begitu mengasihi dan memahami keadaan manusia, tetapi mengapa kita yang hanya manusia begitu keras menghukumi sesama sebelum berusaha memahami keadaannya dan kesusahannya.
 
Maka dari itu, aku berkesimpulan: Hindari berpendapat dan berkesimpulan yang salah dengan tidak menghindari kenyataan (data). Dan, ketika menghadapi kenyataan, jangan salah dalam berpendapat, berkesimpulan, dan mengambil keputusan. Pegang selalu Al Quran dan lihat selalu kenyataan di sekitar kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s