Membangkitkan Dorongan Spiritual

Jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kau bersujud pada-Nya?
Kalimat tersebut sungguh absurd. Kalau surga dan neraka tidak pernah ada, maka pahala dan dosa juga tidak ada. Kalau pahala dan dosa tidak ada, maka tidak ada moral. Kalau tidak ada moral, apa dunia masih akan ada sampai hari ini? Bagaimana keadilan akan ditegakkan jika surga dan neraka tidak ada sebagai balasan bagi perilaku baik dan buruk?
Mengandaikan surga dan neraka tidak ada, walaupun tujuannya (sepertinya) untuk menguji pemahaman kita tentang keikhlasan, itu sama seperti menafikan keberadaan Allah. Salah-salah dipahami, kalimat tersebut mendorong orang untuk menafikan perkara-perkara gaib, janji Allah kepada manusia, dan Allah itu sendiri.
Surga dan neraka adalah bagian dari keadilan Allah. Dalam hidup, bukankah sering kita terdorong untuk berbuat demi “menagih” keadilan ini? Di situlah surga, neraka, pahala, dan dosa menjadi sangat bernilai. Ada terlalu banyak kesengsaraan di dunia yang mengajarkan kita cara dan dapat mengubah kita menjadi iblis. Namun, hal tersebut tidak selalu terjadi karena ada janji Allah ini. Kita bersabar demi hadiah terindah ini, ikhlas dan syukur juga demi hal yang sama.
Biarlah dunia berbuat sesukanya, tetapi bukankah Allah selalu punya “sesuatu” untuk kita? Biarlah dunia menginjak-injak kita, biarlah kita merasakan kebencian, kita ingin memusuhi, tak mempedulikan dunia yang kejam ini… Tetapi, kebencian dapat serta merta hilang dan, entah bagaimana, kita merasa kita menjadi orang lain yang merdeka dan mampu berbuat baik sepenuh hati kita untuk dunia yang kita benci ini. Mengapa bisa?
Hal tersebut karena ada surga dan neraka yang punya nilai dalam hidup kita, kebaikan punya tempat di hati kita, dan keimanan yang mengajarkan kita demikian. Keimanan memberikan hidup “jawaban” bahkan sebelum pertanyaan hidup terjawab. Keimanan “menyembuhkan” luka dalam hidup kita, bahkan sebelum luka itu terobati dan hilang.
***

Pada intinya, ketika kau mengatakan “Jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kau bersujud pada-Nya?”, jangan samakan “hadiah” dari Allah dengan hadiah duniawi yang sifatnya materialis. Iman terhadap surga dan neraka mempengaruhi manusia tidak dengan cara yang dapat dijelaskan teori-teori psikologi  sekularis.
 
 Ada sebuah cerita menarik dari dosenku.
 
Dari seorang kyai, diceritakan tentang seorang mahasiswa yang sedang belajar di luar negeri. Ia tinggal di kos dengan tetangga kamar yang menyebalkan. Tetangga ini tipe orang yang individualistik egois dan tidak pedulian dengan orang lain. Suatu saat tetangga tersebut ibunya sakit dan harus ditemani. Karena si tetangga punya keperluan mendadak dan harus meninggalkan rumah, ia minta tolong kepada mahasiswa tersebut untuk menemani ibunya.  Pertanyaannya:
 
Apakah ada untungnya bagi mahasiswa tersebut jika ia menemani ibu tetangga tersebut?
Bagaimana perasaan mahasiswa tersebut? Bukankah ia tidak menyukai tetangga yang selama ini tidak baik padanya itu?
Bagaimana mungkin ia mau menolong?
Jawabannya: Sangat mungkin! Dan benar, singkat cerita, ia bersedia menolong ibu tetangga yang dibencinya itu. Ia tidak dapat untung apa-apa, bahkan waktunya terbuang sementara ia seharusnya bisa mengerjakan hal lain.
 
Mengapa bisa? Itu karena ia terdorong secara spiritual, begitu penjelasan psikologisnya. Ia meyakini perbuatan menolong dan usahanya mengatasi nafsu rasa benci adalah ibadah dari Allah. Lebih dari itu, ia mengharapkan pahala, dan tentunya surga.

Begitulah gambaran tentang pentingnya dorongan spiritual dan perannya dalam kehidupan. Tidak perlu ada pemahaman ini dan itu untuk membuat orang yakin, tidak perlu bujuk rayu ini dan itu untuk membuat orang senang, atau paksaan agar orang mau berkehendak, untuk membuat orang bertindak berbuat baik. Orang bisa saja awalnya tidak yakin dan tidak tahu, tidak suka, dan tidak mau (tidak terdorong secara kognitif, afektif, dan konatif/ psikomotorik) melakukan sesuatu, tetapi dengan ditekannya tombol spiritual ini, ia dapat bersedia melakukan kebaikan yang sebabnya tidak dapat dirasional.

***

Indah sekali dunia jika berisi orang-orang yang beriman dan beramal shaleh.

Seperti inilah penjelasan yang akhirnya kudapatkan atas pertanyaan mengapa orang yang beriman pasti akan banyak pula beramal shaleh. Keimanan yang benar kepada Allah membangkitkan dorongan spiritual dan dorongan spiritual ini memotivasi perbuatan-perbuatan baik dan ikhlas untuk bermanfaat bagi sesama dan lingkungan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s