Menggapai Mimpi Psikologi Islami

Psikologi Islami bisa dikatakan ilmu yang masih baru jika dibandingkan dengan ilmu psikologi secara keseluruhan. Perkembangannya, berdasarkan apa yang kupahami sampai saat ini, berlangsung dalam berbagai cara dan sudut pandang. Ada ilmuwan yang memandangnya dari perspektif psikologi agama, psikologi lintas budaya, dan Islam itu sendiri.
Psikologi Islami sebagai bagian dari psikologi agama dan lintas budaya banyak dikaji oleh ilmuwan psikologi Barat dan sampai sekarang kajiannya masih kalah jika dibandingkan dengan psikologi Kristen, Hinduisme dan Buddhisme, dan psikologi Timur (India, Indonesia, dan Asia Timur). Orang Barat lebih suka menyebrangi Samudra Pasifik agar sampai ke Asia Timur dan Samudra Atlantik dan Hindia untuk sampai ke India. Haha… Kajian tentang psikologi Islami sedikit sekali ditemukan di literatur psikologi agama. Adapun dari sisi psikologi lintas budaya, ilmuwan lebih banyak fokus pada khazanah budaya dan berfokus pada budaya berbagai suku bangsa dan bukan agama, sekalipun agama sering adalah yang mewarnai budaya.
Dari perspektif Islam sendiri, kupikir ada dua pandangan. Yang ini memang banyak dikembangkan oleh orang Islam. Ada yang berusaha mengembangkan psikologi Islami sebagai kelanjutan dari mazhab psikologi transpersonal sehingga hal-hal yang berbau tasawwuf dan sufisme-lah yang diutamakan. Ada pula orang yang ingin mengembangkan psikologi Islami sebagai bagian dari usaha islamisasi ilmu pengetahuan, artinya, mengembalikan psikologi pada sumbernya, yaitu Al Quran dan Hadist, dan mengesampingkan psikologi Barat, membangun khazanah Islam milik sendiri.
Orang-orang Islam ini berdebat dan sepertinya, sampai sekarang belum ada konsensus bagi pengembangan psikologi Islami. Masing-masing ilmuwan punya pemikiran sendiri, membangun fokusnya sendiri. Perbedaan ini rahmat, bukan? Kita merasa baik-baik saja. Namun, secara pribadi aku tidak ingin tenggelam dalam situasi damai ini. Tanpa ada tujuan dan definisi apakah psikologi Islami itu, kita semua akan tetap seperti ini, tidak ke mana-mana. Setiap ada kajian, seminar, atau temu ilmiah, yang dibahas akan mengulang-ulang apa yang sudah ada.
Andai kita bisa memandang masa depan, psikologi Islami macam apa yang kita inginkan? Itulah yang jadi pemikiranku saat ini.
 
Apakah kita akan membayangkan bahwa psikologi Islami akan sepopuler psikologi Barat? Ada mimpi untuk menjadikan psikologi Islami sebagai mazhab ke-5 psikologi. Dulu ide ini memang menyenangkan, tetapi sekarang aku merasa ide tersebut bodoh. Mimpi yang sangat melangit! Mengapa aku merasa itu bodoh? Itu karena aku berpikir, mengapa orang-orang Barat itu lebih suka menggali khazanah psikologi Hindu, Buddha, dan aliran kepercayaan Timur daripada Islam yang sebenarnya sangat dekat hubungan dan pengaruhnya bagi peradaban Barat? 
 
Misalnya, ketika mereka mengakui “keajaiban” meditasi bagi ketenangan jiwa, mereka lebih memilih mempelajari dan menerapkan yoga (Hindu) daripada shalat (Islam), sekalipun shalat bukan meditasi, tetapi tujuan kedua aktivitas ini serupa. Berharap psikologi Islami menjadi mazhab ke-5? Teruslah bermimpi sampai seluruh dunia mengakui dan berpandangan baik tentang Islam.
Dari hal di atas, akan sulit jika berharap psikologi Islami berkembang secara kuantitatif, walaupun itu bisa menjadi parameter: banyaknya buku psikologi Islami, ilmuwan psikologi Islami, peminat psikologi Islami, penelitian psikologi Islami, seminar psikologi Islami dan sebagainya. Namun, kita tak bisa memandang psikologi Islami hanya sebagai salah satu bidang ilmu dalam pohon besar ilmu pengetahuan. Kupikir, kita memang harus berani berpikiran bahwa psikologi Islami sesungguhnya adalah bagian dari perkembangan peradaban manusia ciptaan Allah.
Berikut ini adalah hasil pemikiranku sementara ini:
Pertama, sama seperti fungsi seluruh ilmu, psikologi Islami adalah sarana dan cara untuk mengingat kebesaran Allah, memperdalam keimanan, dan mendorong ketakwaan manusia. Ilmu pengetahuan adalah bagian dari seruan ke jalan yang benar, ia melengkapi agama yang menjadi pedoman hidup manusia. Ia bervisi jauh ke depan, melebihi visi-visi duniawi, melebihi masa kini, dan mempengaruhi tidak hanya hidup orang-orang di sini dan saat ini, tetapi juga di masa depan dan hari kemudian. Ia bervisi kebahagiaan dan keselamatan.
 
Kedua, keberadaan psikologi Islami bukan untuk menyaingi keberadaan psikologi Barat, tetapi memperkaya apa yang sudah ditemukan psikologi Barat tentang manusia, dengan memberikan pemikiran yang sesuai dengan Islam, koreksi dan arah, tidak hanya bagi ilmunya, tetapi juga manusia yang mengembangkan dan memanfaatkannya.
 
Ketiga, jika psikologi Islami ingin kita kembangkan, kita tidak bisa lagi memandang sebelah mata psikologi Barat dan mengagung-agungkan Islam tanpa benar tahu apa yang sebenarnya kita agung-agungkan. Selama ini mata kita terlalu awas dengan kelemahan psikologi Barat, tetapi tidak melihat bahwa banyak hal dalam psikologi Barat yang sangat bermanfaat dan tidak bertentangan dengan Islam. Pemikiran negatif dan “kebencian turun-temurun” yang kita punya membuat kita tidak peka terhadap hikmah, padahal hikmah dari manapun asalnya adalah harta umat Islam.
 Keempat, kita harus menerima kenyataan di mana kemajuan paling banyak berada, yaitu di Barat. Belajarlah dari Barat dan manfaatkan ilmu yang didapat untuk kehidupan. Kalau mau belajar, rendahkan hati di hadapan siapa yang menjadi guru kita. Bacalah buku sebanyak-banyaknya dan kesampingkan berbagai prasangka. Nikmati indahnya ilmu dan kagumlah.
Kelima, sebagai ilmu yang mempelajari manusia, tidak selalu dan selamanya psikologi bersifat subjektif, kultural Barat, dan merugikan. Sekalipun ia dikembangkan bukan oleh orang Islam, ada sisi universal tentang manusia dalam psikologi. Dan juga, seluruh psikologi adalah ilmu Allah.
Aku bersyukur bisa memantapkan sikap terhadap psikologi Barat. Sikap ini mungkin hanya sementara dan akan berubah di masa depan. Terus terang, aku hanyalah seorang mahasiswa yang sedang belajar. Teman-temanpun banyak yang juga sedang belajar. Menyenangkan jika kita bisa memiliki sikap dan pendapat yang kita rumuskan sendiri dan kupikir, ikut-ikutan pemikiran dosen sudah bukan zamannya lagi. Semoga kita bisa menjadi orang yang bermanfaat bagi kehidupan.

One thought on “Menggapai Mimpi Psikologi Islami

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s