Nasihat dalam ISLAMOLOGI (Dinul Islam)

Ada sebuah buku di rumah yang mengundang kebingungan dalam benakku beberapa waktu lamanya. Judul buku tersebut adalah Islamologi, terjemahan Dinul Islam karya Maulana Muhammad Ali. Apa yang membuatku bingung sekaligus tak percaya adalah karena ada kata “Ahmadiyah” di dalam buku itu. Waktu itu aku masih bau kencur dan tak mengerti apa maksudnya “Muhammad Ali, Ketua Ahmadiyah Anjuman Isyaat Islam Lahore”. Aku panik dan was-was, siapa yang Ahmadiyah di rumah?
 
Haha… lalu ibuku memberikan penjelasan bahwa Ahmadiyah itu ada dua. Yang bermasalah itu Ahmadiyah yang Kodian, sedangkan Maulana Muhammad Ali adalah Ahmadiyah yang Lahore, yang memisahkan diri dari Kodian karena tidak setuju soal status Mirza Ghulam Ahmad. Ooo begituuu…
Akhirnya, aku mencari tahu sedikit sejarah tentang Ahmadiyah dan benar, begitulah sejarahnya.
Pada awalnya, memang kedua tokoh tersebut berteman. Tetapi, setelah Mirza Ghulam Ahmad meninggal dan statusnya jadi “nabi”, Ahmadiyah terpecah. Yang satu tetap menabikan Mirza Ghulam Ahmad dengan segala ajarannya yang kita tentang dan bernama “Ahmadiyah Muslim Community” (baru Pakistan yang melarang keberadaannya, bentrok-bentrok di Indonesia, tetapi di-“Islam”-kan di negara-negara Barat). Sedangkan yang lain, tetap pada Islam dan bernama “Lahore Ahmadiyah Movement”. Ahmadiyah Lahore menganggap Mirza Ghulam Ahmad hanyalah seorang mujaddid (pembaharu/ reformer) dan bukan seorang nabi.
***
Bab yang pertama kali kubaca dalam buku ini adalah tentang nikah atau perkawinan. Saat itu, tidak disangka, di akhir masa-masa SMP, guru agamaku memintaku bersama dua orang teman lainnya mengadakan seminar tentang pergaulan remaja. Aku sampai membuat makalahnya juga. Tapi aneh, aku tidak sadar kalau waktu itu aku benar-benar sedang mengisi sebuah seminar untuk teman-teman. Pertama kali. Dan karena masih bodoh, ketika ditanya poliandri itu apa, aku tidak tahu. Haha… pengalaman unik yang terlupa.
 
Pernah juga, ketika pertama kali masuk situs faithfreedom.org dan tahu ada orang yang salah memahami hukum waris dan menjelek-jelekkan Islam, pulang sekolah aku langsung mencari buku ini. Tapi sayang, aku sulit memahami tentang mawaris ini. Malu banget, eh orang Islam kok kayak begini T.T Makanya, belajar…
 
Jadi, sejak saat itu ISLAMOLOGI menjadi peganganku sampai saat ini. Syukur, sangat bermanfaat. Buku ini seperti sebuah ensiklopedia. 
 
Ada kalimat-kalimat dalam kata pengantar buku ini (tahun 1935) yang menggugah:
 
Barangkali tak ada ulasan yang lebih baik tentang kebiasaan sikap masa bodoh kaum Muslimin terhadap agama Islam daripada kenyataan, bahwa golongan non-Muslimin lebih besar sumbangannya akan karangan-karangan tentang ke-Islaman yang ditulis dalam bahasa Inggris, daripada kaum Muslimin sendiri. Memang benar banyak karangan mereka yang memberi gambaran yang salah tentang Islam, namun demikian, orang Islam lebih pantas mendapat celaan daripada non-Islam, karena dalam hal ini menjadi kewajiban orang Islam untuk menyajikan bahan-bahan yang benar kepada dunia, yang haus akan ilmu pengetahuan…
 
“Ada sebuah buku bernama The Religion of Islam, buah tulisan Pendeta F. A. Klein, yang diterbitkan pada tahun 1906. Pada tahun 1928, kami mendapatkan buku itu atas kebaikan seorang sahabat. Beliau membaca itu dengan rasa pilu, katanya, karena di dalamnya berisi gambaran yang salah tentang Islam, dan beliau menyarankan agar kami menulis sebuah buku yang lengkap, yang berisi gambaran yang benar tentang Islam, dan membahas ajaran-ajarannya sampai bagian yang kecil-kecil.
 
“Dua puluh tahun sebelum itu, kira-kira pada waktu buku itu diterbitkan di London – tepatnya pada 13 Februari 1907, kami disuruh Pendiri Gerakan Ahmadiyah, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad dari Qadian, supaya menulis sebuah buku dalam bahasa Inggris, yang berisi segala sesuatu yang perlu diketahui oleh orang Islam maupun non-Islam, dan memberi gambaran yang benar tentang agama Islam…” (hal. xxx-xxxi)
 
Aku berusaha menyusun gambaran kronologis beberapa kejadian terkait hal-hal di atas?
Aku berpikir, bagaimana bisa semua masalah terkait Ahmadiyah terjadi? Semuanya berawal dari kiprah orang-orang ini. Bagaimana bisa ada di antara mereka yang mempertahankan ajaran yang tidak benar? Bagaimana bisa ada yang memutuskan untuk keluar barisan, membuat barisan baru, dan menyiarkan Islam ke seluruh dunia melalui buku ini? Bagaimana Ahmadiyah bisa berkembang di Indonesia dan menerima perlakuan yang demikian sampai saat ini?
 
Kupikir, penganut Ahmadiyah harus belajar. Kita pun sebagai muslim juga harus belajar. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s