Orangtua dalam Rangkaian Impian Kita

Mar 11, ’11 12:42 AM

Malam ini aku mendapatkan pencerahan bagus. Pencerahan ini membuatku memikirkan kembali mimpi-mimpiku. Terima kasih mbak Pipit atas obrolan yang tidak disangka-sangka. Begini ceritanya…
 
Aku memikirkan akhir skripsiku. Kapan aku lulus. Aku berharap suatu kemudahan dan kelancaran. Aku ingin lulus secara baik dan melanjutkan menekuni psikologi di jenjang pendidikan yang lebih tinggi, lalu bekerja di bidang yang aku cintai. Aku menjadi lebih menikmati kehidupan di kampus karena aku tahu, dalam waktu dekat atau lambat, dunia kampus akan berakhir dan aku akan dihadapkan pada dunia lain yang lebih nyata.
 
Selama belajar psikologi, aku mengetahui banyak teori tentang manusia dan kehidupannya. Namun demikian, aku tidak butuh teori untuk menjelaskan apa yang sedang kurasakan sekarang. Aku memiliki kecemasan pada beberapa hal dan semuanya itu dapat kusimpulkan hanya dalam dua kata “masa depan”. Masa depan setelah dunia kampus terlampaui. Selama ini, sampai usia ini, aku tampak hidup dalam pilihan yang dipilihkan oleh konformitas masyarakat, misalnya dalam menempuh pendidikan. Budaya, masyarakat, dan keluargalah yang “merencanakan” aku sampai hari ini, dari TK sampai perguruan tinggi. Aku hanya mengikuti arus dan selama ini aku masih setuju dengan apa yang kulakukan atau yang diharapkan kulakukan.
 
Di saat-saat terakhir ini, kesadaranku semakin tinggi bahwa kedewasaan mengharapkanku untuk merencanakan sendiri masa depanku. Dan aku ngeri. Aku merencanakan, tetapi entah mengapa ada saat di mana keyakinanku akan keberhasilan rencana tersebut anjlok pada level yang rendah. Ada terlalu banyak kabar buruk, mulai dari masalah kemiskinan, pengangguran, dan negara yang salah urus. Aku belajar faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan seseorang dan kenyataan, yang cenderung negatif, berseliweran di depan mataku. 
 
Ke mana aku akan melangkah? Apa yang akan aku lakukan? Bagaimana aku mencapainya? Mimpi besar bukan membuatku bersemangat, tetapi menciutkanku. Apakah aku bisa? Dan secara ajaib, aku bisa menjawab BISA! dengan lantang, namun di saat yang lain, aku bisa depresif. Aku berusaha merasa mudah, tetapi ternyata susah. Aku sungguh dalam krisis. Kedewasaan membawa “hadiah” yang rasanya aneh… Aku ingin masa depan segera datang, aku ingin menghadapi dan menyelesaikannya.
 
Pikiranku masih terpaku pada impian idealis (dan itu berhasil dijelaskan oleh salah satu teori psikologi) dan itu sungguh berat karena ia menyajikan tuntutan dan stres “untuk menjadi sesuatu” yang juga ideal. Namun, aku dihadapkan pada pertanyaan, “Bagaimana kalau yang terjadi tidak demikian dan yang ideal itu menjadi mimpi yang berlalu?” 
 
Rencana Allah begitu luas dan tidak aku mengerti. Bukankah itu berarti aku harus belajar meluaskan pikiran dan memperbanyak alternatif kehidupan yang akan kujalani? Bukan karena nantinya aku akan hidup dengan banyak cara, melainkan karena aku butuh menanamkan rasa tenang bahwa “ada banyak cara untuk menjalani hidup yang baik” dan mungkin saja cara itu bukan cara ideal yang awalnya kumiliki. Jika benar nantinya bukan yang ideal yang terjadi, maka bukan berarti pula yang terburuklah yang terjadi.
 
Kemudian aku diceritakan sebuah cerita tentang seorang mahasiswi, lulusan perguruan tinggi. Ia lulusan terbaik dari sebuah universitas ternama di Indonesia. Semua semua berharap ia akan bekerja di tempat terbaik, menjadi seorang yang hebat, menempuh karier yang gemilang. Namun demikian, ia malah memilih untuk tetap bersama orangtuanya untuk satu hal yang bernama “bakti”, mengesampingkan sedikit masa depan untuk sesaat bersama orangtua yang jelas sudah berumur.
 
Lalu… “aku jadi menyadari usia manusia itu pendek. Bakti anak (apalagi perempuan) pada orang tua lebih pendek lagi. Jadi… sebisa mungkin kita sebagai anak juga introspeksi memikirkan orang tua kita, menempatkan kebahagiaan dan perasaan orangtua kita juga dalam rangkaian impian kita.”
 
Dan kecemasanku bertambah… Orangtuaku selalu memikirkan masa depanku dan aku banyak memikirkan masa depanku sendiri. Aku memikirkan langkah-langkah sukses menuju suksesku sendiri, sampai-sampai, mungkin aku tenggelam karena benar-benar memikirkan dan mengharapkannya. Kedewasaan memperbesar kewajibanku pada orangtua di mana kesempatanku untuk membahagiakan mereka tentunya menjadi lebih besar. 
 
Namun, terkait dengan jalan hidup yang beragam, akankah aku dihadapkan pada pilihan, cita-cita ideal atau keinginan orangtua? Atau pilihan yang mana saja dan keinginan orangtua?
 
Ridha Allah adalah ridha orangtua… Sepanjang jalan itu menuju masa depan itu baik, membuatku senantiasa berbuat baik, dan orangtuaku menyukainya, aku akan bahagia di dalamnya. Bisakah Engkau Mengabulkan itu? Sebagai manusia, usiaku pendek… di saat yang sempit ini, semoga aku bisa berbakti sebesar mungkin. Semoga kita semua bisa berbuat yang terbaik untuk perasaan dan kebahagiaan orangtua kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s