Organisasiku, Rumahku

Original post: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/227/Seri-Organisasi-Bag.-14-Organisasiku-Rumahku

Apr 16, ’11 7:04 AM

Pagi ini aku disambut sms yang mengesalkan terkait data penelitian yang sedang kuterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Katanya, penerjemahan yang kemarin distop karena ada data baru. Haaah… sudah selesai 80%! Katanya, file yang baru akan dikirim via email dan kubuka email. Belum masuk rupanya.
Di kotak keluar, aku ingat mengirimkan sebuah email pada adik kelasku. Singkatnya, ia ingin aku menulis tentang dirinya, semacam testimony yang aku tidak tahu akan dia gunakan untuk apa. Aku ingat hampir 1 bulan mengabaikan permintaannya dan baru 2 hari kemarin benar-benar membuatnya. Dia berharap aku bisa menulis tentang gambaran kinerjanya selama berada di bawah atap organisasi yang sama. Sedikit banyak aku memikirkan tentang hal-hal yang positif tentangnya, tetapi yang kutuliskan justru kritik, membangun tentunya, berbentuk seperti “dinamika psikologis”.
Aku memenuhi pikiranku dengannya. Dia punya kelebihan, tapi ada yang kukhawatirkan sehingga aku bingung harus menulis apa. Aku teringat temperamennya yang mudah bad mood. Aku ingat saat-saat mengerikan ketika dia bisa sangat marah… (ya, dalam organisasi hal tersebut kadang-kadang terjadi, kan?). Plus, jujur, dia bukan tipe organisatoris idaman. Dia susah menjalankan aturan, semaunya sendiri, bekerja tidak terencana, berantakan, dan beberapa kali menyepelekan amanah plus mudah naik darah.
Peristiwa itu memenuhi pikiranku. Jadi aku bingung, kalau tidak mengungkapkan masalah itu sekarang, dia tidak akan tahu bahwa dia sebetulnya butuh kritik. Kalau aku menulis yang baik-baik saja, itu sedikit menyimpang dari fakta. Aku berharap dia bisa menerima yang kutulis. Semoga di kampus nanti dia tidak menodongku, “Ini maksudnya apa, Mbak?”
Haha… yang kutulis ini bukan testimony jadinya, melainkan surat “cinta” sarat kritik.
***
Waktu berlalu dan aku merasa bersalah. Penilaian apa sih yang kubuat tentangnya? Aku teringat, selain jeleknya dia itu… dia mudah dekat dengan teman-teman. Kupikir, dialah yang paling psikologis di antara teman-teman yang lain. Dia mudah mendeteksi permasalahan yang dialami orang-orang di dekatnya. Memang caranya mendekati orang agak jelek (karena nada menodongnya itu), tetapi dia bisa membuat orang bicara dan mendengarkan. Dia konyol (maaf, ya), tetapi cool. Inilah yang membuat dia disenangi banyak orang dan tenar di kampus. 
 
Aku yang bertipe target-oriented tidak mudah memahami orang yang sangat sosial ini. Dia memang tidak bisa bekerja teratur dan terencana, tetapi aku ingat ada hari-hari di mana dialah yang paling berjibaku mengurusi perlengkapan acara, datang paling pagi, dan mengkritik “Organisasi macam apa ini? Jam karet semua!“, begitu intinya. Memang dia mudah marah, tetapi sebenarnya aku bisa memahaminya dari kisah hidup yang pernah dibocorkannya.
Kupikir, kalau dia tidak suka pada organisasi ini, dia bisa keluar saja dari dulu. Nyatanya, sudah tiga tahun dia ada dan dedikasinya tidak dapat disepelekan. Aku tidak paham dinamika yang membuat orang ini bertahan di organisasi penuh masalah ini, tetapi pernah di awal dulu aku, dia, dan seorang teman lainnya saling curhat. Apa kata-kata yang diucapkannya? Dia masuk organisasi ini bukan untuk pengalaman, pengetahuan, ibadah atau apa. Dia butuh tempat. Dia butuh rumah di mana ia bisa merasa memiliki dan dimiliki.
Benar, sejak saat itu, pelan-pelan walaupun tidak begitu pasti, ia berubah sedikit demi sedikit. Aku pun berubah karena sadar akan sesuatu bahwa:
Organisasi ini tidak akan menjadi apa-apa selama kita tidak memahami orang-orang di dalamnya. Tidak akan terjadi, jika kita berharap organisasi akan diisi orang-orang super. Adanya adalah orang-orang yang seimbang, kelebihannya ada, kelemahannya ada. Namun, kecenderungan organisasi yang berorientasi pada pemenuhan program kerja membuat kita mudah menyepelekan orang-orang dengan sensitifitas sosial yang tinggi. Kita meremehkan orang-orang yang “tidak bisa apa-apa” dalam hal berpikir strategis, menentukan visi misi dan perencanaan, dan bekerja taktis.
Sejauh mana kita paham organisasi adalah rumah kedua atau ketiga bagi orang-orang tertentu? Kalau kita paham ini, kita tentu akan paham orang itu berbeda-beda, tidak hanya dalam hal kelebihannya, tetapi juga kelemahannya. Apakah kita mampu menerima perbedaan ini? Ketika rumah menjadi tempat hidup keluarga, bagaimana kita bisa memahami bahwa semua ini berjalan layaknya sebuah sistem? Semua orang punya kemampuan untuk melakukan sesuatu dan mereka butuh untuk ditempatkan di posisi-posisi yang tepat, sesuai dengan kelebihan dan kelemahannya.
***
Aku pernah mengalami saat-saat di mana sulit sekali mempercayai orang, tetapi organisasi inilah yang menjadi laboratoriumku bereksperimen  pada diriku sendiri dan orang lain. Aku menguji diri sendiri, sejauh mana aku bisa menumbuhkan rasa percaya yang sehat. 
 
Ketika orang tak dipercaya lantaran kelemahannya, kecil kemungkinan ia akan “dipekerjakan”. Katika ia tidak dipercayai untuk menghadapi sebuah tugas, ia merasa tidak berguna, sense of belonging-nya meredup, dan dia akan mengundurkan diri, secara resmi atau diam-diam. 
 
Menghadapi anak yang seperti ini, aku belajar berpikiran dan bersikap positif, menajamkan pengamatanku pada kelebihan-kelebihan mereka, sekalipun sulit ditemukan. Mungkin ini nekad, tapi entah, mengapa aku tidak menyerah dan melepaskannya? Aku mengikatnya dengan amanah-amanah yang tentu, aku sudah mengantisipasi bahwa hasilnya mungkin tidak akan sesuai standar. Aku bersiap-siap untuk menjadi orang yang akhirnya ngebut untuk memperbaiki kesalahan kerja di detik-detik terakhir. Aku sudah siap untuk ber-sms ria untuk koordinasi-koordinasi yang panjang.
 
Sering sekali, bersama dengan organisasi ini aku mensugesti diri bahwa ini semua adalah proses, proses, dan proses. Proses itu indah, walaupun melelahkan. Aku tidak peduli pada hasilnya, seberapa kacau atau bangkrut karena tidak ada anggaran, aku sangat mengharapkan semua orang senang bahwa aku adalah keluarga mereka, mereka adalah keluargaku. Aku memandang organisasi, memang, adalah tempat orang-orang digodok dan belajar untuk memperbaiki diri, maka dari itu, buat apa aku menuntut ekselensi?
Ada lebih banyak orang yang minta dipahami di dunia ini daripada orang yang mampu memahami. Pada akhirnya, menghadapi orang-orang ini, aku sendiri yang harus mengakurkan diri dengan standar-standar idealku terhadap orang lain. Penerimaan membutuhkan toleransi dan fleksibilitas, bukan? Kalau kita bersikap kaku atau keras, orang-orang akan lari. Aku sendiri juga akan lari dari diriku sendiri kalau kekakuan dan kekerasan itu kuterapkan pada diri sendiri.
***
PS: Terima kasih untuk mata kuliah Psikologi Industri dan Organisasi. Terima kasih, tidak disangka-sangka, tugas pertamaku adalah mengerjakan makalah pendek tentang komitmen organisasional. Aku merasakan hikmahnya, terutama saat ini, bersama organisasi ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s