Pak Supir yang Tersenyum

Mar 11, ’11 11:01 PM
Pengalaman hampir empat tahun kuliah dan menjadi pengguna setia alat transportasi umum mengajarkanku dan kita semua satu hal bahwa tidak semua angkutan nyaman. Nyaman secara psikologis…
Angkutan warna kuning itu memang sudah dari dulu berseliweran keluar masuk lingkungan kampus. Sebagai pengguna setianya, tidak pernah terlewatkan keasyikan mengamati dan mengalami sendiri “betapa stresnya berurusan dengan angkutan umum”. Sering dicari tidak muncul-muncul, ketika dapat nokrongnya cari penumpang… really takes forever! Ketika dapat angkutan yang langsung jalan pun, kadang-kadang, kalau sial, dapatnya supir yang sepanjang perjalanan misuh-misuh dengan muka masam.
Akhirnya, aku dan teman-temanku sepakat untuk punya beberapa nama untuk memenangkan kejuaraan “supir angkot yang paling tidak disuka”. Dan akhirnya, juaranya adalah seorang supir yang sama-sama kami menjulukinya “supir angkot dragon ball”. Julukan yang aneh… ini dikarenakan di angkotnya ada gambar Gohan.
Secara pribadi, pertemuan pertamaku dengan di bapak sungguh membuat trauma. Begini ceritanya… ini terjadi di semester awalku menjadi mahasiswa… tak terlupakan.
Pagi itu aku terburu-buru. Karena masih jadi anak baru, masih 15 menit sebelum teng! masung kelas, aku sudah merasa akan terlambat. Setelah turun dari bus untuk sambung naik angkot menuju kampus psikologi tercinta, tak ada pilihan untuk tidak naik angkot yang sudah ada di depan mataku. Angkot Dragonball.
Si bapak berpenampilan sama seperti bapak-bapak supir angkot pada umumnya. Ia berkulit gelap, tampaknya, karena terbakar sinar matahari, berbaju kaos yang sudah lama. Lalu… maaf, ketika memandang wajahnya, aku langsung teringat pada hewan tikus. Kumis bapaknya seperti itu, sih… dan sepanjang jalan, ia cemberut saja.
Kejadian traumatis pagi itu begini. Meskipun hari itu hari kuliah, penumpang di angkot si bapak hanya dua orang, yaitu aku dan seorang mahasiswi. Mahasiswi tersebut turun di kampus planologi dan menyerahkan selembar uang 20ribuan untuk membayar ongkos jalan yang cuma 2.000 rupiah.
Reaksi si bapak sungguh membingungkan. Jelas tidak ada kembalian, tetapi bapak itu tidak mau merelakan dengan berkata, “Tidak usah bayar, Mbak,” dan urusan selesai. Si mbak jelas bingung harus berbuat apa. Karena wajah si bapak sangat mengintimidasi dan si mbak jelas ketakutan, si mbak malah yang berkata, “Udah, Pak, ambil saja semuanya,” maksudnya uang 20ribu itu. Tapi, si bapak menolak dan keukeh ingin 2.000-nya. Aku merasa kasihan dengan si mbak dan akhirnya aku menawarkan diri untuk membayarkan ongkos angkot si mbak. Tapi, apa reaksi si bapak? Dia juga menolak. Alasannya adalah ia tidak mau menerima uang dari “orang lain” yang bukan teman si mbak. Wheleh…
Si mbak kayak sudah mau nangis. Sepertinya ia masuk pukul 07.00 dan sekarang ia tertahan tidak bisa ke mana-mana karena tingkah si bapak. Aku sendiri mulai deg-degan… si bapak ini maunya apa? Bapak itu kemudian menyuruh si mbak menelepon temannya untuk pinjam uang. Si mbak menurut dan dengan panik ia menelepon untuk meminta temannya segera menemuinya. Beberapa saat kemudian masalah selesai, tetapi hatiku kesal sekali. Aku marah dan wujud protesku adalah keluar dari angkot itu saat itu juga. Cepat-cepat kubayar dan cepat-cepat menjauh dari si bapak dan angkotnya.
Masalahnya adalah setelah itu. Aku lupa belum memasukkan dompet ke dalam tas. Dompet itu masih di pangkuanku ketika aku keluar angkot dan jatuh di suatu tempat. Aku baru sadar dompetku tidak ada ketika aku naik angkot berikutnya. Aku segera meminta si supir putar arah, kukatakan dompetku jatuh di angkot Dragoball. Sementara si supir sibuk tancap gas mengejar si bapak, aku turun di depan planologi dan langsung menemukan dompetku di trotoar. Alhamdulillah… aku sudah takut setengah mati. Aku berusaha mengejar si supir kedua untuk bilang kalau dompetku sudah ketemu. Aku mengejar angkot itu, tetapi angkot itu sudah jauh dan aku tidak peduli lagi ketika akhirnya aku ditemukan kakak kelasku dan dia menawarkan tumpangan untuk sampai ke kampus.
Hari itu aku tidak jadi kehilangan dompet. Tetapi dompet itu benar-benar hilang beberapa waktu kemudian bersama HP-ku, ketika pencopet mewabah di kampus…
***
Aku begitu sensitif dengan emosi-emosi negatif. Terasa sangat memuakkan sehingga aku ingin melarikan diri dari situasi-situasi panas di mana ada orang marah. Peristiwa dengan angkot Dragonball begitu menyebalkan dan lama sekali aku memendam kebencian pada si bapak. Tidak menyenangkan melihat wajahnya yang cemberut, meminta ongkos pada penumpang dengan nada suara kasar, kebut-kebutan, dan merutuki kesialannya sepanjang jalan. Pernah temanku yang pernah menaiki angkot tersebut bercerita bahwa si bapak pernah terjengkang dari kursinya karena banyak gerak karena marah… Kami tertawa memikirkan si bapak, supir angkot Dragonball, musuh bersama beberapa mahasiswa…
Namun pada suatu sore yang menyenangkan…
Aku duduk dalam angkot yang lain di perjalanan pulang beberapa bulan yang lalu. Kebiasaanku membuka jendela lebar-lebar dan melihat-lihat pemandangan sepanjang jalan. Karena aku anak rumahan, suasana lingkungan mahasiswa dengan rumah-rumah kos, warung, rumah makan, dan apa saja yang ada, membuatku senang. Lalu, bertemulah aku dengan si bapak, supir angkot Dragonball.
Si bapak tidak sedang duduk dalam angkotnya. Ia ada di salah satu lapak penjualan VCD bajakan. Di sampingnya ada seorang wanita dan anak laki-laki seusia SD. Anak itu tampak sedang memilih lagu/film apa yang akan dimilikinya dan ia menunjukkan VCD itu pada si bapak. Dan aku tercengang… bapak itu tersenyum indah sekali… Bukan senyuman lebar, hanya segaris di bibirnya, tetapi terlihat ekspresi kebanggaan ketika dia akhirnya mengeluarkan dompet dari saku celananya.
 
Haha… aku tak lagi bisa menyimpan dendam dan kutukan pada si bapak. Paham, kan?
 
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s