Pesan “Anti Korupsi” untuk Ananda

Sembari membereskan mainan adik yang berantakan, aku melihat-lihat buku mewarnainya. Tidak ada yang salah dengan kontennya, tetapi aku tertegun ketika membaca pesan dalam rangka kampanye anti korupsi di sampul belakang buku mewarnai: Aku dan Kau Cinta Indonesia. Aku dan Kau Tidak Korupsi.
Begini ya, cara mendidik anak TK? Memangnya anak TK umur 4 tahun tahu apa itu korupsi? Anak yang tidak tahu apa-apa, mengapa dikontaminasi dengan kata yang sedemikian buruk ini?
***
Aku teringat masa kecilku dan aku tidak ingat kapan persisnya aku tahu apa itu baik dan buruk. Aku hanya menjalani hidup dan moralitas tertanam seiring dengan berjalannya waktu tanpa pernah sedikitpun aku mendengar kata “korupsi” dari orangtua, guru, atau tetangga. Baru tahun-tahun belakangan ini saja, kata “korupsi” bertebaran di mana-mana, terutama lewat media. Tidak perlu ditanya, “korupsi” nongol di mana saja.
Bagaimana kita bisa menafsirkan tindakan kampanye ini secara positif? Aku tidak tahu. 
 
Pertama, kasus-kasus korupsi akan tetap bergulir, spanduk-spanduk anti korupsi yang dipasang di jalanan akan memudar dan menjadi sampah, dan tentu saja, buku mewarnai adikku itu akan sama-sama jadi sampah suatu hari nanti. Aku sungguh-sungguh memikirkan, apakah “korupsi” bisa dipahami dengan mudah kecuali jika kita mengasosiasikannya terlebih dahulu dengan kasus-kasus seperti yang ada di TV?
Kedua, “korupsi” adalah sebuah kata yang maknanya sangat kompleks, sekompleks perilaku korupsi itu sendiri. Apakah korupsi hanya menyangkut harta yang diperoleh secara tidak halal? Tidak. Korupsi adalah tentang penurunan nilai-nilai moral, kebajikan, dan prinsip-prinsip dalam hidup, hidup dengan cara yang tidak benar, dan melanggar hukum. Korupsi adalah tentang penyimpangan dan kebusukan perilaku manusia. Korupsi terjadi pada orang-orang yang hidup dengan keserakahan.
Ketiga, jika korupsi dalam pikiran pendidik, masyarakat, dan pemerintah hanya mengacu pada kasus-kasus hukum, politik, dan uang, maka makna korupsi yang paling berbahaya, yaitu dekadensi moral dan perilaku, tidak akan terekspresikan dan terkampanyekan. Itulah mengapa, lebih ada banyak kalimat “Aku dan Kau Tidak Korupsi” daripada “Aku dan Kau Anak yang Jujur” atau “Ayah, Ibu, Hidupi Kami dengan Kejujuran dan Harta Halal” atau “Mari Hidup Berkah dengan Syukur dan Jujur”.
Keempat, penyelesaian masalah korupsi sepertinya meninggalkan akar masalah yang sebenarnya. Kita mungkin terlalu berfokus pada masalah “orang-orang yang akan mati (baca: koruptor)” daripada “generasi-generasi yang terancam mati”. Seandainya ada, aku lebih suka ikut Gerakan Hidup Jujur dan Bersyukur daripada Gerakan Anti Korupsi. Aku lebih suka ikut Gerakan Mendukung Moralitas daripada Gerakan Ganyang Koruptor atau Politikus Busuk. Sebagai masyarakat dan calon pendidik, aku tidak mau berurusan dengan masalah-masalah busuk karena lebih penting bagiku untuk menajamkan mata pada isu-isu memelihara moralitas.
Kelima, jika ingin mendidik anak hidup bermoral, mengapa tidak memulainya dari diri orang-orang dewasa di sekitarnya, terutama orangtua? Daripada menulis “Aku dan Kau Tidak Korupsi” di buku anak TK, lebih baik menuliskan itu besar-besar di slip gaji orangtua mereka.
Keenam, untuk anak kecil, utamakan berbicara positif daripada mengenalkan masalah-masalah kehidupan yang kompleks. Sebelum mereka siap, tutup mata mereka erat-erat dari kebusukan perilaku manusia. Dekatkan anak pada ajaran moral, dekatkan mereka pada agama secara benar. Mengenalkan yang baik-baik pada anak tentu lebih penting untuk diprioritaskan, bukan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s