Psikologi untuk Kau dan Aku

Original post: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/202/Psikologi-untuk-Kau-dan-Aku

Mar 14, ’11 8:34 PM

Aku ikut mata kuliah Kode Etik Psikologi tahun lalu. Ada satu pertanyaan yang kuajukan pada dosen yang sampai saat ini masih kuingat betul karena jawaban yang diberikan waktu itu sangat tidak memuaskan. Bukannya menjawab secara proporsional, “Maksudnya begini…”, tetapi malah menjawab dengan jawaban yang intinya adalah pertanyaanku itu seharusnya tidak ditanyaan karena  itu sebenarnya cuma lelucon di antara para psikolog…
Bu, apa maksud ungkapan ‘psikologi untukmu, bukan untukku’?
***
Aku tidak tahu apakah menerapkan psikologi pada diri sendiri di samping menerapkannya kepada orang lain adalah bagian dari etika psikologi. Profesi psikolog sesungguhnya sama saja seperti profesi yang lain, seperti pegawai pajak yang bisa nilep pajak, politisi yang korup, penegak hukum yang jadi penjahat, dokter yang bunuh orang, guru yang melakukan kekerasan pada murid-muridnya, dai yang berbuat maksiat dan sebagainya. Ada sisi tabu dalam suatu profesi yang seharusnya tidak pernah dilakukan profesional di dalamnya.
Bagaimana menurutmu jika ada polisi yang dipenjara karena berbuat kriminal atau dokter yang mati karena kegemukan? Sangat mengecewakan, bukan? Pertama, merekalah orang yang seharusnya menindak para kriminal atau orang sakit dan bukan malah menjadi kriminal atau orang sakit. Kedua, merekalah yang paling tahu ilmunya bagaimana mencegah perbuatan jahat atau menjaga kesehatan. Ketiga, merekalah yang juga paling tahu konsekuensi dari perilaku jahat atau perilaku tidak sehat. Polisi macam apa itu? Dokter macam apa itu? Pegawai pajak macam apa itu? Politisi macam apa itu? Dai macam apa itu?
Sekarang kita terapkan hal di atas pada profesi psikolog. Apa jadinya jika psikolog (atau orang yang belajar psikologi) malah yang kena gangguan kejiwaan? Misalnya, apa jadinya jika psikolog yang mengajarkan orang tentang cara-cara berumah tangga bahagia malah mengalami broken home atau bercerai? Ia mengajarkan orang cara berkomunikasi efektif dan berempati, tetapi malah menyakiti hati orang dan mudah naik darah? Ia mengajarkan orang untuk hidup dengan cara yang baik, tetapi malah menghancurkan diri sendiri. Psikolog macam apa itu?
 
Salah satu permakluman hal di atas, kupikir, adalah munculnya ungkapan yang kutanyakan: Psikologi untukmu, bukan untukku. Orang boleh menganggap ungkapan tersebut hanyalah guyonan, tetapi bagiku ini serius. Aku belajar psikologi mati-matian untuk salah satunya menyehatkan dan memperbaiki diriku sendiri. Bagaimana bisa ada orang yang belajar psikologi hanya untuk mendapatkan pekerjaan dan lupa bahwa dirinya sendiri perlu diterapi? Bagaimana ilmu yang dipelajari dipertanggungjawabkan? Bagaimana bisa ilmu dipelajari hanya untuk tahu dan tidak untuk diterapkan pada kehidupan dan diri sendiri?
 
Belajar psikologi sesungguhnya berat. Berat karena ilmunya memang berat, juga berat dalam penerapannya. Kita dihadapkan pada teori-teori “hidup bahagia” yang selamanya hanyalah teori. Kita mencermati berbagai faktor penentu kehidupan bahagia tanpa dapat benar-benar akur dengannya. Kita diajarkan cara-cara menghadapi abnormalitas, tetapi abnormalitas itu bertengger di hidung sendiri. 
 
Cara hidup orang yang belajar psikologi adalah bukti kemanfaatan psikologi bagi kehidupan. Jika hidup orang yang belajar psikologi sama berantakannya dengan hidup orang yang awam psikologi, bagaimana psikologi dapat tetap dipegang dan dipercaya? Tinggalkan saja psikologi jika psikologi tak mampu mengendalikan perilaku buruk orang-orang… Jika ia sama omong kosongnya dengan kitab hukum yang gagal menindak orang-orang jahat… jika ia sama omong kosongnya dengan janji-janji para politikus.
 
Kehidupan memang penuh misteri. Kita semua berjuang dengan kemanusiaan kita, maka dari itu kita belajar untuk mencari cara hidup yang lebih dan lebih manusiawi lagi. Itulah fungsi ilmu pengetahuan, agar kita melampaui kemanusiaan pada level yang rendah menuju level yang lebih tinggi, agar kita menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. 
Sungguh beruntung orang-orang yang mendapatkan kesempatan untuk mempelajari cara-cara hidup yang baik dan mengajarkannya kepada orang lain. Ilmu yang baik belum tentu membuat orang yang mempelajarinya hidup baik, bukan? Lalu, apa pengurai bagi masalah ini? Jika kita butuh sesuatu yang mampu mengingatkan orang untuk tetap berada pada jalan yang benar, kali ini biarkan agama yang bicara, agama yang mengingatkan orang untuk terus memperhatikan dirinya sendiri untuk suatu pertanggungjawaban pada suatu masa nanti.

One thought on “Psikologi untuk Kau dan Aku

  1. Pingback: Membedah Hukum Progresif: Perspektif Psikologi | I love life, life loves me.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s