Seberapa Islamikah Psikologi?

Original post: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/210/Seri-Psikologi-Islami-Bag.-5-Seberapa-Islamikah-Psikologi

Mar 20, ’11 4:11 PM

“Hikmah adalah harta yang hilang dari perbendaharaan kaum Muslim, maka barangsiapa yang menemukannya, maka ia lebih berhak memungutnya.” 
Hadist Nabi (favoritku ^^)
 
 
Psikologi sering dianggap sebagai ilmu banci. Mengapa banci? Karena tidak jelas jenisnya apa, termasuk ilmu sosial atau ilmu alam. Penyelesaiannya adalah memilih, mau menjadikan psikologi ilmu sosial atau ilmu alam. Hasilnya, ada Fakultas Psikologi yang ujian masuknya IPA, ada yang IPS. Lho? Benar, memang demikian salah satu implikasi dari kebancian psikologi.
 
Berikut ini hanya pemikiranku mengapa psikologi jadi banci begini. Pada awalnya, psikologi sangat dekat dengan psikiatri yang merupakan bagian dari kedokteran. Perlu diketahui, studi awal mengapa psikologi ada adalah dalam konteks psikiatris, dalam dunia gangguan-gangguan jiwa. Psikiatri/kedokteran dekat sekali dengan biologi dan kimia, makanya psikologi termasuk ilmu alam.
 
Psikologi kemudian, salah satu bagiannya berkembang menjadi ilmu sosial. Ada psikologi industri dan organisasi yang berhubungan dengan ekonomi dan manajemen, ada psikologi sosial yang dekat dengan ilmu-ilmu sosial, seperti sosiologi, antropologi, dan geografi. Benar, salah satu pendukung mengapa psikologi termasuk ilmu sosial adalah faktor manusia yang menjadi objek studi psikologi. Manusia sebagai manusia, makhluk sosial dan individual, bukan sekadar objek biologi. 
 
Psikologi berusaha memahami jiwa manusia. Makanya, nama lainnya ilmu jiwa. Tapi, apakah benar-benar jiwa yang psikologi pelajari? Akhirnya tidak. Psikologi hanya didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari perilaku manusia yang merupakan manifestasi dari fungsi psikis/ kejiwaannya. Dalam psikologi kontemporer, hanya dikenal tiga fungsi psikis manusia, yaitu kognitif (pikiran), afektif (perasaan), dan konatif (motivasi/perilaku). 
 
Pandangan tersebut tidak salah, tetapi lama-lama apa yang disebut sebagai jiwa manusia menjadi semakin jauh, karena jiwa dipelajari tanpa memahami bahwa manusia punya ruh yang berhubungan dengan Tuhan. Psikologi kontemporer memang psikologi yang sekular. Sudah benar mempelajari manusia sebagai makhluk biologi, individu, dan sosial. Tapi, kalau mengecualikan aspek spiritual manusia… itu kelewatan kalau alasannya adalah agama itu tidak ilmiah.
 
Kembali ke bahasan awal, ada apa sekarang dengan psikologi yang sosial? Seiring dengan maraknya wacana islamisasi ilmu pengetahuan, psikologi juga terkena gelombangnya. Mulai didengung-dengungkan bahwa psikologi yang sekarang ada salahnya. Apa salahnya? Salahnya adalah karena psikologi ilmu sosial. Ada apa dengan psikologi yang ilmu sosial? 
 
Sebagai ilmu sosial, ada yang membuat manusia yang mempelajari psikologi menjadi rentan terjerumus dalam budaya, paradigma, pandangan, dan filsafat manusia Barat yang sesat (tidak Islami). Kembali dikaitkan dengan tempat dilahirkannya psikologi, yaitu Eropa dan Amerika, ideologi yang sekularis juga mencemarkan psikologi. Manusia beragama yang dipandang dengan kacamata sekular tidak akan terlihat baik-baik saja. Apa jadinya jika kau mengobati orang beragama dengan obat sekular? Kau bisa mengacaukan, tidak hanya dunia orang itu, tetapi juga nasibnya di akhirat. Inilah sisi berbahaya psikologi yang berkembang saat ini, yaitu psikologi yang tidak mengindahkan kata-kata Tuhan.
 
Apakah problema selesai? Bagiku tidak. Sampai pada “sisi sesat psikologi” semua itu ada benarnya, tetapi ada masalah yang membuntuti. Mulai ditanyakan, apa status yang sebaiknya diberikan bagi psikologi yang kita pelajari selama ini? Statusnya, boleh dipelajari dengan terlebih dahulu disesuaikan dengan nilai-nilai Islam. 
 
Namun, ada lagi masalah, teori psikologi yang mana yang perlu disesuaikan dari mazhab-mazhab psikologi yang sudah ada (psikologi, behaviorisme, humanisme, dan transpersonal)? Huhu… gawat. Mulailah kajian-kajian mengkritisi mazhab-mazhab tersebut. Menjatuhkan teori-teori tersebut? Iya. Bagaimana dengan kelebihannya, yang sesuai dengan nilai Islam? Sejauh yang kuamati, sayangnya, itu tidak begitu dibahas.
 
Yang sering menjadi pertanyaanku sampai hari ini adalah, “Seberapa Islamikah Psikologi (yang sekarang)?” Psikologi jadi punya kategori bancinya yang lain, Islami atau tidak Islami. Selama ini, aku cukup bisa memahami bahwa hampir semua teori yang kupelajari di kampus adalah cukup masuk akal muslimku. Memang ada kelemahan-kelemahan yang merupakan bukti adanya pencemaran psikologi menurut pandangan Islam, tetapi selebihnya aku tidak merasa ada yang keliru, hati kecilku merasa baik-baik saja, kepalaku mengangguk-angguk karena paham teori itu cukup menjelaskan keadaan manusia.
 
Aku bertanya, apakah teori psikologi Barat yang tidak salah itu bisa dikatakan psikologi yang Islami? Sampai saat ini, psikologi Islami memang sulit didefinisikan, apakah ia psikologi yang hanya bersumber dari Al Quran dan Hadist, apakah ia psikologi yang hanya mempelajari manusia muslim, apakah ia psikologi yang hanya dikaji oleh ilmuwan muslim? Apakah psikologi ini benar-benar mazhab yang mengeksklusifkan diri hanya bagi umat Islam? Apakah psikologi ini melulu menggunakan istilah-istilah berbahasa Arab?
 
Saat ini, aku percaya pada apa yang kupahami bahwa ada psikologi Barat yang tidak salah sehingga aku merasa sia-sia orang yang berbusa-busa mengajak agar psikologi Barat disesuaikan lagi atau mengajak agar psikologi Islami ditemukan kembali sebagai sesuatu yang baru. Aku bukan orang yang meragukan pemahaman diri sendiri soal Islam dan psikologi, jadi aku tahu betul apa yang kupikirkan.
 
Suatu hari, Al Quran-lah yang menjawab kebingunganku lewat ayat-ayat di mana Allah mengajak manusia untuk mencermati, meneliti, dan memikirkan diri mereka sendiri:
 
Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka?… (QS Ar Rum: 8)
 
Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah Merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Katakanlah, “Adakanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang dahulu…” (QS Ar Rum: 41-42)
 
Pertanyaanku, bagaimana jika orang bukan Islam, yang mungkin, entah bagaimana ia bisa dan mungkin tak disadarinya , ia melaksanakan perintah Allah agar manusia memperhatikan dirinya? Bukankah ia akan mendapatkan hikmah dari usahanya memahami manusia (sekalipun ada kekeliruannya)? 
 
Selanjutnya, bagaimana jika orang Islam malah yang malas belajar tentang diri manusia mereka sendiri? Tidakkah dia tidak mendapatkan apa-apa selain kebodohan yang merusak?
 
Sebagai jawaban atas kebingungan seberapa merusak psikologi lewat teori-teori yang sekular dan sesat… Kupikir, psikologi tak semuanya begitu. Pada satu sisi, psikologi memang dipengaruhi budaya, paradigma, pandangan, dan filsafat manusia di mana pun ia berada. Namun, pada satu sisi yang lain ada sisi manusia yang universal, yang dirasakan sama oleh seluruh manusia di dunia, tak peduli apa budaya, paradigma, pandangan, dan filsafatnya. Manusia sama universal dan pastinya seperti alam, langit dan bumi yang menjadi objek ilmu-ilmu alam.
 
Keuniversalan penciptaan manusia inilah yang mungkin terlewatkan sehingga psikologi Barat susah-susah begitu dimusuhi oleh sebagian orang dan ilmuwan, sehingga mereka berambisi menciptakan psikologi Islami sebagai psikologi yang baru. Mereka terlalu terpaku pada kata Barat dan mengabaikan kemungkinan adanya hikmah dalam berbagai teori-teori yang susah-susah dipikirkan orang Barat yang mempelajari manusia. Bukankah yang demikian itu tindakan yang dapat menutup mata yang ingin melihat hikmah?
 
Namun, jangan lupa, teman-teman, kacamata Islamnya tetap dipakai. Kacamata Islam fungsinya tidak hanya untuk memfilter teori-teori yang salah kaprah, tetapi juga memperjelas teori-teori yang sudah benar adanya. Akhirnya, kusimpulkan… ada yang Islami dalam psikologi Barat. Haha… makanya aku suka mempelajari psikologi. Setiap saat belajar psikologi, aku bisa terus-terusan berkata, subhanallah, subhanallah, subhanallah… alhamdulillah dan aku semakin giat belajar.
 
Akhirnya, bisa terasa betul benarnya bahwa ilmu pengetahuan bisa memelihara keimanan kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s