We Really Need to Talk

Original post: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/200/Seri-Organisasi-Bag.-11-We-Really-Need-to-Talk.

Mar 13, ’11 6:19 PM

 

Inilah keajaiban mengapa manusia diciptakan dengan dua telinga dan satu mulut. Pembicaraan yang efektif hanya dapat terjadi dengan cara yang demikian: banyak-banyak mendengar, berbicara secukupnya saja dan bukan diam sama sekali. Mulutmu, yang terlalu banyak bicara atau terlalu banyak diam, adalah harimaumu.
 
Sulit dibayangkan… Dengan kapasitas otak untuk mengolah dan menyimpan informasi yang sedemikian canggihnya, apa jadinya jika manusia tidak punya cara mengkomunikasikan atau mengekspresikan dirinya yang juga canggih? Kita semua pernah merasakan betapa sakitnya tidak didengarkan dan tidak dimengerti, dan begitulah cara-cara komunikasi yang primitif dilakukan. Telinga berhenti mendengar, mulut berhenti bicara. Bagaimana hati bisa merasa untuk sedikitnya dapat berempati?
 
Sulit dibayangkan pula… Dengan perkembangan diri yang luar biasa sehingga kita bisa merasakan emosi orang lain dan memiliki emosi kita sendiri, kita mengerti adanya hal-hal yang menyakitkan dan menyenangkan, apa jadinya jika manusia meninggalkan dan menyembunyikan kodratnya untuk merasakan kesusahan? Mengapa manusia menjadi enggan berbicara? 
 
Ini sungguh masalah psikologis yang nyata, mungkin terjadi pada diri kita: kita mengalami krisis rasa percaya dan rasa aman. Kita takut disalahkan, takut dipermalukan, takut dikucilkan, takut dipandang negatif, sama negatifnya dengan hal negatif yang kita (ingin) ungkapkan di hadapan orang lain. Tahukah teman-teman, apa yang terjadi jika kita memutuskan diam saja? 
 
Lama-lama kita bisa membenci kehidupan sosial karena merasa tidak ada orang yang bisa menerima sisi negatif dan menyukai diri kita apa adanya, tentu dengan segala kesalahannya. Lama-lama kita bahkan dapat melupakan kebutuhan awal kita bahwa kita butuh didengarkan dan dipahami. Lama-lama kita juga lupa kebutuhan kita untuk mendengarkan dan memahami orang lain. Lama-lama kita terbiasa berpikir everything is okay dan lupa yang tidak oke itu yang bagaimana.
 
Bagaimana jika semua hal di atas terjadi dalam organisasi di mana kita memiliki peran di dalamnya? Berdasarkan pengalamanku, ada terlalu banyak orang yang takut berbicara. Ha… diam mereka artinya apa? Ketika mengikuti kajian, enggan berpendapat atau bertanya. Ketika rapat, mengekor pendapat orang lain saja. Ketika ditanya ada apa, mereka tidak benar-benar bicara.
 
Berhubungan dengan orang lain memang melelahkan. Kita berurusan dengan banyak kekecewaan dan kehilangan harapan akan tercapainya standar yang kita tetapkan. Kita berurusan dengan orang-orang yang lahir dari rahim-rahim yang berbeda, dibesarkan dengan peluk-elus yang berbeda, dikembangkan dengan pendidikan dan pengharapan orangtua yang berbeda… bahkan mereka bersama-sama dengan kita di dalam sini dengan motivasi yang berbeda. Maka, sudah adilkah tuntutan-tuntutan yang kita tempelkan di jidat mereka?
 
Ini sungguh cambukan bagi orang-orang yang pernah, sedang, atau akan menjabat sebagai ketua, kepala, senior, atau apapun yang memiliki kedudukan yang lebih tinggi. Mungkin kita bukannya disegani, tetapi ditakuti. Mungkin kita bukannya diandalkan, tetapi dibiarkan berpikir sendiri karena kita dipahami sebagai orang yang menutup kesempatan orang lain berbicara dengan kelakuan kita yang tidak benar-benar mendengarkan. Partisipasi yang kita bangun mungkin hanyalah formalitas untuk kebersamaan yang semu. Dan celakanya, dengan begitu diri kita menjadi salah satu faktor yang membuat kekuatan internal organisasi goyah dan terjadilah seleksi alam. Teman-teman kita mundur teratur, diam-diam.
 
Kalau begitu yang terjadi, benar… orang butuh kesempatan untuk bicara. Bukan bicara hal-hal formal, teknis, standar, atau visi-misi yang bersangkutan dengan organisasi, melainkan bicara tentang diri mereka sendiri, dan juga tentang diri kita sendiri. Besarnya masalah yang dipendam akan terlihat dari berapa banyak air mata yang mengucur dan seberapa emosional ekspresi mereka. Air mata dan emosi, mungkin, juga akan kita alami. 
 
Pada saat itu, meskipun cuma sebentar, nikmati saja kebersamaan “there is something that’s not okay“.
 
Sebagai mahasiswa yang bergabung dengan organisasi keislaman, tujuan kita berjuang tidak akan menyalahi kepentingan umat. Itu jelas dari tujuan organisasi yang begitu mulia. Namun, adakah terpikirkan bahwa cara kita dalam mengejar tujuan itu menyakiti orang-orang di sekitar kita? Mungkin saja, kitalah yang menciptakan sosok-sosok bisu dan pura-pura mendengar itu. Jika begitu, yang penting yang mana, kepentingan umat atau hati teman-teman kita?
 

 

Mar 13, ’11 6:19 PM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s