Islamisasi Psikologi: Islam dan Ilmu Pengetahuan

Original post: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/251/Seri-Psikologi-Islami-Bag.-13-1-Islamisasi-Psikologi-Islam-dan-ilmu-Pengetahuan

May 11, ’11 12:23 AM

Tulisan berikut ini adalah salah satu materi yang akan disajikan dalam mentoring Psikologi Islami di kampusku.
Karena keterbatasan sumber bacaan, kesempatan diskusi, dan pemikiran penulis, sangat diharapkan masukan dari teman-teman, terutama yang paham soal Islam, islamisasi ilmu pengetahuan, dan psikologi. Jika ada kesalahan dalam tulisan ini, mohon koreksinya. Atau, berikan saja masukan soal tambahan referensi, insya Allah akan aku cari untuk melengkapi materi ini. Terima kasih, teman-teman😀
Pesan khusus: Tulisan ini dipersembahkan untuk teman-teman pengurus Kelompok Studi Pengembangan Psikologi Islami di Fak. Psikologi Undip. Sebentar lagi kita mau ada mentoring, kan? Jadi, semangat semangat! Berilmu, beramal!
Sumber bacaan: 
Al Faruqi, I. & Al Faruqi, L. L. 1996. Tauhid Dasar Peradaban Islam. Ulumul Quran No. I. VII. Tahun 1996, hal. 43 – 51.
 
Bastaman, H. J. 2005. Integrasi Psikologi dengan Islam: Menuju Psikologi Islami. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, h. 3 – 13.
 
Riyono, B. 2011. Modul Psikologi Islami: Urgensi Islamisasi Sains dan Pengantar Psikologi Islami. Disampaikan dalam Intensive Class Psikologi Islami di Fak. Psikologi Undip, 2 April 2011.
 
 
***
Tidak seperti pandangan kontemporer-sekular yang memisahkan ilmu pengetahuan dan agama, ilmu pengetahuan dan agama malah merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan umat Islam.
Pandangan Islam terhadap Ilmu Pengetahuan
 
Islam adalah agama yang sangat menganjurkan umatnya untuk menguasai ilmu pengetahuan. Hal tersebut terlihat dari banyaknya ayat Al Quran yang memerintahkan agar manusia menggunakan akal pikiran untuk menelaah, meneliti, mendalami, merenungkan, dan berusaha mengerti dan memahami Al Quran, tanda-tanda keagungan Allah di alam semesta, dan diri manusia sendiri. 
 
Selain itu, terdapat pula ayat-ayat yang mencela orang-orang yang tidak menggunakan akalnya untuk memikirkan hal-hal yang terjadi dalam kehidupan mereka. Islam memberikan peluang bagi manusia untuk mengembangkan keyakinan tanpa paksaan dan mempertimbangkan hukum dari suatu masalah atau kejadian bukanlah suatu hal yang dilarang dengan akal  (ijtihad), asal harus berhati-hati.
 
Islam adalah agama yang rasional. Namun demikian, kebebasan berpikir bukanlah kebebasan tanpa batas. Islam membimbing dan membatasi kebebasan berpikir dengan akidah dan syariah, serta ketentuan Allah yang bersumber dari Al Quran dan Al Hadist. Berpikir yang terlalu bebas dan tanpa bimbingan/aturan dapat menimbulkan kerancuan berpikir, kekacauan, dan kerusakan dalam kehidupan.
 
Hubungan antara Ilmu Pengetahuan dan Agama
 
Murtadha Mutahhari, seorang ulama, filosif, dan ilmuwan muslim menyatakan bahwa: 
 
Manusia mempunya kecenderungan untuk menuju ke arah kebenaran-kebenaran dan wjud-wujud suci, dan tidak dapat hidup tanpa menyucikan dan memuja sesuatu. Ini adalah kecenderungan iman yang merupakan fitrah manusia. Tetapi di pihak lain, manusia pun memiliki kecenderungan untuk selalu ingin memahami alam semesta, serta memiliki kemampuan untuk memandang masa lalu, sekarang, dan masa depan, yang semuanya merupakan ciri khas ilmu pengetahuan.
 
Karena iman dan ilmu adalah karakteristik insan, maka pemisahan di antara keduanya justru akan menurunkan martabat manusia. Iman tanpa ilmu akan mengakibatkan fanatisme dan kemunduran, takhayul, dan kebodohan. Sebaliknya ilmu tanpa iman akan digunakan untuk mengumbar nafsu, kerakusan, ekspansionisme, ambisi, kesombongan, penindasan, perbudakan, penipuan, dan kecurangan. Oleh karena itu, iman dan ilmu harus diupayakan agar selalu bergandengan. Islam adalah satu-satunya agama yang memadukan keduanya. 
 
Allah Menurunkan Al Quran dan Menciptakan alam semesta agar manusia menelaah dan mendalaminya untuk kemudian memahami ke-agungan-Nya dan beriman kepada-Nya. Alam semesta telah ada sebelum ada ilmu pengetahuan dan kegiatan ilmiah pada hakikatnya tidak lainnya adalah berupaya untuk menemukan hukum-hukumnya untuk dipahami, dijelaskan, diolah, dan dimanfaatkan untuk kehidupan manusia. 
 
Al Quran dan alam semesta sama-sama mengandung kebenaran dari Allah. Namun, kecenderungan saat ini adalah terjadinya pengkotak-kotakkan bahwa agama adalah lahan para agamawan dengan iman (dan akal budi) sebagai sarana pemahamannya, sedangkan ilmu merupakan ajang ilmuwan dengan akal budi (dengan/tanpa iman) sebagai sarana utama analisisnya.
Dampak pemisahan ini adalah terjadinya kepincangan yang merugikan. Agama tanpa didukung ilmu pengetahuan akan menjadi tidak mengakar pada realita dan penalaran, sedangkan ilmu pengetahuan yang tidak dilandasi agama dan sikap keagamaan yang baik akan berkembang menjadi liar dan menimbulkan dampak merusak dan bukannya mendapatkan kebenaran dan kebaikan.
 
Islam mengharapkan bahwa ilmuwan muslim adalah seseorang yang otaknya penuh dengan ilmu-ilmu yang bermanfaat, dalam dadanya bersemayam iman dan takwa, serta selalu berupaya untuk menjelmakan kebajikan dan kemanfaatan bagi lingkungannya. Seorang sufi mengatakan, “Untuk mencapai kebenaran hakiki, (kita) harus menggunakan dua macam tangga, yaitu akal dan agama; ilmu pengetahuan dan Al Quran.
 
***
Ada sebuah anjuran yang sangat memotivasi dari Pak Bastaman, “Bila Anda seorang ilmuwan, simaklah Al Quran, dan bila Anda seorang agamawan, pelajarilah ilmu pengetahuan, untuk mewujudkan ilmuwan yang berjiwa ulama dan ulama yang bersikap ilmiah.
 
Semangat semangat, mahasiswa muslim psikologi!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s