“Kasih ibu, kepada beta…”

Original post: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/242/Seri-Keluarga-Bag.-2-Kasih-ibu-kepada-beta…

May 2, ’11 12:47 AM

Aku suka sekali lagu dengan lirik pada judul tulisan ini. Dahulu, aku hanya memahaminya sebagai lagu biasa, “Oh, ibu itu penuh kasih sayang…” dan sulit benar-benar paham bagaimanakah itu sebenarnya.
Sekarang, aku sedikit mendapatkan pemahaman baru dan untuk itu aku berterima kasih pada kelas Psikologi Keluarga jilid 2. Sekalipun tidak dikuliahkan dalam materi yang spesifik, hadir di kalas ini saja sudah mampu membuat para mahasiswa merenung tentang kasih sayang orangtua kepada anaknya dan terharu akan adanya fakta bahwa kasih sayang adalah sesuatu yang penuh misteri. Hanya Allah yang tahu hakikatnya…
***
“Kasih orangtua”, mungkin, akan sulit sekali untuk benar-benar dipahami sebelum kita menjadi orangtua. Teman-teman mungkin bertanya, apakah bahasan ini penting? Jawabku iya, karena bagaimana kita menyimpulkannya nanti akan mempengaruhi bagaimana kita berperan sebagai orangtua, baik ibu maupun ayah, di masa yang akan datang.
Seiring dengan berjalannya waktu, ada begitu banyak masalah yang terjadi dalam keluarga. Masalah-masalah ini sering memperkeruh gambaran “kasih orangtua”, kecuali jika kita bisa menajamkan mata dan menangkap detil indah kehidupan kita bersama orangtua, lalu mensyukurinya. Ada tiga hal yang kupikirkan menjadi sumber kekeruhan hubungan kasih sayang dalam keluarga. Pengetahuan tentang ini semoga membuat kita lebih berhati-hati dalam berperilaku.
 
Sumber kekeruhan pertama: konflik keluarga
Konflik adalah keniscayaan dalam hidup bersama orang lain, salah satunya antaranggota keluarga di dalam keluarga. Ada banyak ilustrasi yang dekat dengan kehidupan kita tentang konflik dalam keluarga. Sebagian cerita kini menimbulkan gelak tawa, tetapi sebagian yang lain mungkin tidak terlupakan.
 
Misalnya, apakah ada dari kita yang (waktu anak-anak) tidak nakal dan membuat ibu jengkel? Siapa yang mudah menangis, mengurung diri dan tidur, begitu keinginan tidak terkabul dan sebagainya? Perang mulut ketika mulai remaja? Cuek-cuekan dengan orangtua ketika menginjak dewasa? Merusak barang? Ingin atau bahkan minggat betulan rumah? Saat semua konflik itu terjadi, “kasih sayang” seolah sirna, tergantikan berbagai pikiran negatif yang bahkan bisa membuat kita kaget, mengapa orang marah bisa berpikiran dan berbuat seperti itu?
Memang memalukan, tetapi itulah fenomena universal yang terjadi di setiap keluarga. Cara keluarga berkonflik pun berbeda-beda, ada yang hanya konflik ringan sampai berat. Kita tentu mengharapkan hidup dalam keluarga yang ideal, tetapi, ada terlalu banyak peristiwa dan masalah. Dengan sangat disayangkan, larangan-larangan dalam agama terkait hidup dalam keluarga pun dapat dilangar, baik oleh orangtua terhadap anak maupun anak kepada orangtua.
Pada akhirnya, sering, yang tersisa adalah penyesalan. Susahnya, gengsi kita begitu besar sehingga sulit sekali mengaku salah dan meminta maaf. Masalah dibiarkan saja “lenyap” seiring dengan berjalannya waktu. Semoga saja di antara mereka yang berkonflik itu, pemaafan dapat dilakukan dengan begitu ikhlasnya sampai tidak dibutuhkan lagi tuntutan, “Ayo minta maaf.
Sumber kekeruhan kedua: kebelumdewasaan

Kedewasaan mengenyahkan pikiran-pikiran egoistis dan kekanak-kanakan. 

 

Misalnya, sebagai contoh sederhana, ketika masih kecil dulu, aku pernah mengalami ini. Jika ibu pergi dan pulang membawa kue, pasti kue itu diberikan kepadaku terlebih dulu dan jika kuenya tidak habis, baru ibu habiskan. Dulu aku tidak ambil pusing, tetapi aku mulai  bertanya, “Apakah orang dewasa memang tidak suka kue?

Aku pribadi memikirkan peristiwa itu dan dengan bahasa yang lebih canggih, aku mempertanyakan makna perlakuan yang diterima banyak anak dari orangtuanya. “Mengapa berkorban, mengapa memberi, mengapa bersedia dan mau bersusah-susah, mengapa membolehkan ini tapi melarang yang itu? Untuk apa?
Dan jawabnya, sebagian dengan dibantu ilmu psikologi yang kupelajari di kampus, aku bisa mengangguk, “O… memang itulah wujud kasih sayang dan cinta orangtua kepada anak.” Kasih sayang itu tidak hanya merupakan konsep teoretis. Sering, ia diekspresikan dalam tindakan yang sulit dipahami oleh orang yang belum dewasa.

Ada penemuan dalam psikologi bahwa frekuensi dan tingkat konflik orangtua-anak berkurang pada usia anak menjelang dewasa. Ada banyak faktor yang mempengaruhi dan salah satunya adalah semakin besarnya kemampuan anak untuk memahami orangtua sehingga ia tahu bahwa lebih baik bertindak sabar daripada membuat orangtua geram. Inilah kecerdasan yang idealnya dimiliki oleh manusia dewasa sekalipun proses menuju itu begitu rumit. Lebih dari itu, kedewasaan membuat kita mampu berempati dan merenungi kehidupan bahwa apapun kejadiannya, kasih sayang orangtua memang besaaaaar sekali. 
 
Ada terlalu banyak “tanda sayang” yang perlu diingat lagi. Semua itu menjadi sangat nostalgik ketika diri kita beranjak dewasa. Semua itu adalah sesuatu yang sangat kita syukuri sebagai sumber kebijaksanaan untuk lebih memahami kasih orangtua.
 
Sumber kekeruhan ketiga: pengaruh  orangtua kepada anak
Ada banyak pertanyaan tentang diri kita yang jawabannya berakar dari masa lalu.
Misalnya, mengapa aku kini suka membelikan adik kecilku permen, membawakan kue, mengajak bermain, atau membacakan cerita? Mengapa aku mencintainya, suka memeluk, dan menciuminya? Mengapa aku suka meladeni pertanyaan apa saja dari adikku yang super ingin tahu? Jawabannya: Itu karena selama ini orangtuaku memperlakukanku seperti itu, maka aku meneladani mereka. Jika kalian mengingat-ingat, tentu ada banyak penemuan tentang diri yang membuat kalian sangat bahagia memiliki orangtua seperti yang kalian miliki.
Tapi, mungkinkah pernahmuncul pertanyaan yang mengusik ini: Bagaimana dengan segala kelemahan yang kita punya?
Ada banyak pula pertanyaan yang menjadi cermin ketidakpuasan kita pada orangtua. Misalnya, mengapa aku menjadi seperti ini dan tidak seperti itu?” Jika kita mengembalikan semua itu pada pengaruh orangtua kepada anak, apakah kita salah? Jika kita kelak juga menghukumi anak-anak kita karena jengkel, apakah bisa kita berdalih, “Itu karena aku dulu juga diperlakukan seperti itu“? Ada kalanya kita ingin mencari kambing hitam atas permasalahan yang kita alami setelah menjadi orang dewasa, “Itu bukan salahku, itu salah cara aku dididik.
Tapi, benarkah  ini? Apakah teman-teman pernah berpikiran demikian?
 
Sebagian teori psikologi (terutama yang mekanistis dan mengabaikan sisi baik manusia) berkata “ya”. Secara pribadi, aku menjawab bahwa pada sebagian proses pembentukan diri kita: “ya” itu terjadi, tetapi dalam berkeputusan untuk menjadi apa dan bagaimana terhadap masa kini dan masa depan kita dan orang lain: “tidak”.
Memang, ada sebagian orangtua yang cara mendidiknya menimbulkan kedukaan bagi anak-anak mereka. Sebagian menimbulkan dampak negatif, yaitu ditirunya pola-pola perilaku yang tidak sehat oleh si anak dan diterapkan dalam keluarga mereka sendiri nantinya. Anak yang semacam ini punya kecenderungan menatap masa lalu secara negatif, terutama karena adanya “dendam” kepada orangtua. Jika ini terjadi, bagaimanakah kasih sayang orangtua dapat dipahami? Bagaimana pula mereka akan dapat memberikan kasih sayang kepada anak-anak mereka nantinya?
 
Namun demikian, ketika semakin kita dewasa, diri kita semakin berkembang. Kita semakin mampu membuat pilihan dan tahu baik-buruk, benar-salah. Kita punya kekuatan untuk meninggalkan duka masa lalu, memaafkan, mensyukuri apa yang ada, mempelajari kebaikan-kebaikan yang baru, dan menjalani hidup sebagai diri yang baru. Ada kalanya kita sulit “melihat” orangtua, tetapi kita tetap dapat mempelajari apa itu kasih sayang dari keberadaan manusia lain yang bukan orangtua.
Tahukah teman-teman bahwa kasih sayang adalah fenomena yang universal? Ia bersumber dari kebaikan. Sekalipun dunia dipenuhi kesedihan, kasih sayang tidak pernah lenyap karena kebaikan adalah fitrah kehidupan manusia. Yang sesungguhnya mengajarkan kasih sayang kepada manusia adalah Allah swt. yang menganugrahkan fitrah ini.
Kemampuan memberikan kasih sayang berasal dari dalam diri sendiri. Boleh jadi orang lain tidak memberi kita kasih sayang, tetapi kita selalu punya kekuatan untuk memberi kasih sayang tersebut kepada sesama manusia. Kupikir, dari situ malah kita mendapatkan hadiah terindah. Karena Allah suka hamba-Nya yang berbuat baik dan menebarkan kasih sayang…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s